Din Syamsuddin Optimis akan Rekonsiliasi dan Perdamaian di Myanmar

Religions for Peace Advisory Forum on Peace and Reconciliation in Myanmar (RfP Advisory Forum) telah dilaksanakan pada tanggal 21-22 November 2018 di Nay Pyi Taw, Myanmar. Forum ini diprakarsai oleh Religions for Peace (RfP), yakni sebuah koalisi multi agama terbesar dan paling representatif di dunia yang bermarkas di New York, serta didukung oleh Pemerintah Myanmar.

RfP Advisory Forum dihadiri oleh sekitar 150 orang perwakilan dari pemerintah dan militer Myanmar, parlemen baik dari partai yang berkuasa maupun partai oposisi, organisasi yang mewakili etnis di Myanmar, badan-badan PBB, NGO nasional dan internasional, para tokoh dan pemimpin agama. RfP Advisory Forum diselenggarakan untuk merumuskan agenda perdamaian yang komperehensif bagi Myanmar melalui langkah-langkah yang terfokus dan fleksibel dalam kerangka kerja hukum internasional dan hak asasi manusia.

State Counsellor Daw Aung San Suu Kyi turut memberikan dukungan besar terhadap penyelenggaraan RfP Advisory Forum ini. Dalam pidato pembukaannya, Daw Aung San Suu Kyi menyampaikan 3 (tiga) langkah yang diperlukan untuk mencapai perdamaian dan harmoni yaitu: 1) mempromosikan dialog antar agama, yang bukan hanya terbatas pada pemimpin agama namun ke semua; 2) meningkatkan pendidikan, pendidikan sangat penting untuk mengatasi prasangka, stereotip, ketidakpercayaan dan diskriminasi; dan 3) mengatasi akar penyebab ekstremisme kekerasan. Daw Aung San Suu Kyi juga menekankan bahwa dialog adalah cara terbaik untuk membangun hubungan dan menciptakan perdamaian.

Tokoh Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin hadir pada RfP Advisory Forum selaku kapasitasnya sebagai Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP), untuk menjadi fasilitator dan pembicara utama dalam Sesi Penutupan. Sementara itu KBRI Yangon diundang hadir untuk menjadi observer. Prof. Dr. Din Syamsuddin menyampaikan bahwa proses rekonsiliasi dan perdamaian antar etnis dan agama di Myanmar bermasa depan positif, mengingat adanya kesediaan dari berbagai pemangku kepentingan untuk duduk bersama dan berdiskusi terkait permasalahan di Myanmar, terutama terkait konflik yang berdimensi etnis dan keagamaan.

Kehadiran Prof. Dr. Din Syamsuddin dalam forum, untuk berbagi pengalaman Indonesia yang berhasil mengembangkan dialog antar umat beragama yang bahkan sudah berkembang menjadi dialog aksi, menunjukkan kontribusi Indonesia dalam upaya mewujudkan perdamaian di Myanmar.

Memiliki pengalaman dan kemampuan dalam menyelesaikan konflik komunal dengan melibatkan peran aktif para pemuka agama, Indonesia diharapkan dapat berperan aktif dalam proses rekonsiliasi dan perdamaian di Myanmar melalui kegiatan interfaith dialogue [KBRI Yangon]. ​​