Hubungan Bilateral Indonesia - Myanmar

Indonesia dan Myanmar merupakan sesama negara anggota ASEAN yang secara historis dan budaya banyak memiliki kesamaan. Meski banyak mengalami pasang surut, hubungan kedua negara berjalan dengan baik selama 67 tahun. Hubungan baik tersebut dimanfaatkan KBRI Yangon sebagai perwakilan Pemerintah Republik Indonesia untuk dapat membangun dan mengembangkan kerjasama di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, maupun pertahanan.

Tahun 2017 merupakan tahun yang cukup bergejolak bagi Republik Uni Myanmar, khususnya terkait isu Rakhine State. Terjadinya penyerangan pasukan keamanan Myanmar oleh kelompok bersenjata pada 25 Agustus 2017 di Rakhine State memperparah situasi konflik di wilayah tersebut. Ribuan warga etnis Rohingya yang berdomisili di wilayah tersebut mengungsi ke perbatasan  dan sebagian besar melintas masuk ke Bangladesh.

Terkait dengan isu Rahine State dimaksud, Pemerintah RI baik melalui tingkat Pimpinan yaitu Menteri Luar Negeri RI maupun KBRI Yangon melakukan pendekatan kemanusiaan dalam menjaga dan membina hubungan bilateral dengan Uni Republik Myanmar, termasuk juga melalui kerangka kerja sama di ASEAN. Bantuan kemanusiaan dari Indonesia mengalir masuk ke Myanmar dalam beberapa periode pada tahun 2017. Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi yang berkunjung ke Myanmar pada bulan Januari 2017, secara simbolis menyerahkan bantuan dari RI tersebut kepada Menteri Kesejahteraan Sosial Myanmar disaksikan oleh Chief of State. Menlu RI juga berkesempatan untuk melakukan peresmian dua sekolah di dua desa di Sittwe, Rakhine State, yang dibangun oleh lembaga kemanusiaan Indonesia, PKPU Human Initiative.

Lebih lanjut,  KBRI Yangon juga memfasilitasi masuknya bantuan RI pada bulan September 2017,  segera setelah terjadinya insiden di wilayah Rakhine pada Agustus 2017.  Bantuan tersebut segera sampai ke para pengungsi yang memerlukan di wilayah Rakhine beberapa hari setelah tiba di Myanmar. Hal tersebut didorong oleh hubungan yang terjaga dengan baik antara KBRI Yangon dengan Pemerintah Myanmar serta Pemerintah Daerah Rakhine State.  Selain itu, KBRI Yangon berperan aktif dalam memproses pembangunan Rumah Sakit di Myaung Bwe, Rakhine State yang merupakan kesepakatan antara Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla  dan Presiden Myanmar, Y.M. U Htin Kyaw melakukan pertemuan bilateral di sela-sela pertemuan KTT ASEM ke-11 yang diadakan di Ulanbator Mongolia, Juli 2016. KBRI Yangon terus berkoordinasi dengan Pemerintah Myanmar, Pemda Rakhine, PMI, MER-C, dan organisasi lainnya demi terwujudnya Rumah Sakit dimaksud. Pada 19 November 2017, resmi dilaksanakan prosesi Peletakkan batu pertama (groundbreaking) Rumah Sakit dimaksud dan  konstruksi direncanakan akan selesai pada akhir tahun 2018.

Di bidang ekonomi, pada tahun 2017 KBRI Yangon juga mengadakan pameran promosi serta temu bisnis yaitu  rangkaian kegiatan Indonesia-Myanmar Business Matching  dan Indonesian Products, Tourism & Culture Exhibition (IPTC) Wonderful Indonesia 2017 di Yangon pada 29 September – 1 Oktober 2017.  Kedua kegiatan tersebut diikuti oleh total 38 perusahaan Indonesia dan 24 perusahaan Myanmar serta dihadiri oleh kurang lebih lima ribu pengunjung. Terdapat beberapa tindaklanjut yang dihasilkan dari kedua kegiatan tersebut antara lain kerja sama antara PT. Phapros Indonesia dengan Medi Myanmar Group di bidang farmasi. Secara umum, hubungan trade, tourism, investment (TTI) antara Indonesia dan Myanmar meningkat secara pesat pada tahun 2017 khususnya di sektor perdagangan yaitu mencapai 11,6%. Perdagangan bilateral Indonesia Myanmar hampir menembus angka USD 1 milyar di tahun 2017.

Salah satu misi KBRI Yangon bedasarkan Rencana Strategis 2015-2019 yakni meningkatkan kerjasama bilateral di bidang penerangan dan sosial budaya yang dirumuskan ke dalam tujuan-tujuan strategis, yaitu dengan (i) meningkatkan promosi potensi pariwisata, seni dan budaya Indonesia di Myanmar dan (ii) meningkatkan citra Indonesia di Myanmar dan dunia Internasional melalui kegiatan antara lain penyelenggaraan Joint Cultural Show Indonesia-Myanmar yang merupakan program tahunan KBRI Yangon, dimana pada tahun 2017 mendatangkan tim kesenian  dari Paguyuban Citra serta Gita Kemala Voice. Acara ini dihadiri sekitar 500 orang yang terdiri dari kalangan diplomatik, mahasiswa dan mahasiswi Universitas Yangon, warga negara Indonesia dan Myanmar.

Keberadaan Indonesia International School of Yangon (IISY) tidak dapat dipungkiri merupakan  soft power diplomacy Indonesia terbaik saat ini di Myanmar. IISY memiliki 448 peserta didik Non-WNI (Myanmar dan Warga Negara Asing lainnya) dan 46 peserta didik WNI. IISY tidak hanya berperan sebagai sarana pendidikan tapi juga untuk mempromosikan Indonesia dan menanamkan nilai-nilai demokrasi pada perserta didik dan pengajar yang sebagian besar adalah warga Myanmar. ​

Jumlah WNI yang berada di Myanmar yang berada di Myanmar tercatat sebanyak 758 orang per 31 Desember 2017. Sebagian besar adalah Pelajar/Mahasiswa, Tenaga Kerja Formal di bidang Konveksi, Pertambangan, Konstruksi dan bidang lainnya serta Rohaniawan. Dalam memberikan pelayanan prima di bidang konsuler, KBRI Yangon telah berhasil meningkatkan kepuasan pelayanan Fungsi Konsuler, yaitu dari 543 kuesioner yang disampaikan kepada responden, jumlah kuesioner yang menyatakan puas atas pelayanan fungsi konsuler adalah sebanyak 542 responden, yaitu sebesar 99,8% dari jumlah responden.  Hal tersebut meningkat 1,4% dari realisasi kepuasan pelayanan kekonsoleran pada tahun 2016 yaitu 98,4%.

Selain itu, dalam usaha menjaga konsistensi pelayanan kekonsuleran bagi para WNI,  KBRI Yangon mengadakan kegiatan warung konsuler sebagai salah satu usaha pendekatan proaktif yang diselenggarakan  pada hari minggu kedua setiap bulan untuk dapat mempermudah bagi para WNI memperoleh informasi dan mendapatkan pelayanan kekonsuleran seperti  pembaruan paspor, pembuatan surat keterangan dan proses lapor diri. Kegiatan Warung Konsuler ini diadakan bersamaan dengan kegiatan olahraga mingguan masyarakat Indonesia yang diadakan oleh KIM (Kerukunan Indonesia di Myanmar) yang telah terbentuk sejak tahun 1999 di Yangon.​