Laos

I. PROFIL NEGARA LAOS

Republik Demokratik Rakyat Laos didirikan pada tanggal 2 Desember 1975 dan merupakan negara dengan sistim partai tunggal, Partai Revolusioner Rakyat Laos/The Lao People's Revolutionary Party (LPRR) dengan ideologi komunis yang memiliki organisasi sayap yang mengatur kebijakan dan mengendalikan seluruh aspek kehidupan di Laos.

Sistem pemerintahan Laos adalah Kabinet Parlementer dengan Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan. Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh National Assembly (NA) untuk masa bakti 5 tahun, sedangkan Perdana Menteri dan anggota Kabinet ditunjuk oleh Presiden atas persetujuan NA yang merupakan Majelis tipe Uni-Kameral yang anggotanya dipilih oleh rakyat Laos. Pemilihan umum tanggal 20 Maret 2016 telah memilih 149 anggota NA periode 2016 - 2020.  

Pemerintahan sekarang ini dipimpin oleh Y.M. Bounnhang VORACHITH sebagai Presiden/Kepala Negara dan Y.M. Thongloun SISOULITH sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan yang disahkan pada sidang ke-8 National Assembly dan telah mulai melaksanakan tugasnya pada Januari 2016.


II. PERKEMBANGAN HUBUNGAN BILATERAL RI - LAOS

Hubungan diplomatik Indonesia dan Laos telah terjalin sejak  tanggal 30 Agustus 1957 dengan kantor yang dioperasikan dari Bangkok. Pada tahun 1962, hubungan kedua negara ditingkatkan pada level kedutaan dan pada tahun 1965, Kedutaan Besar Republik Indonesia resmi dibuka di Vientiane

Bidang Politik

Kerjasama di bidang politik sangat kuat dan solid. Laos secara konsisten mendukung kedaulatan dan integritas NKRI. Keeratan hubungan kedua negara terlihat dari meningkatnya frekuensi saling kunjung pejabat tinggi kedua negara dan saling dukung posisi dan pencalonan masing-masing di berbagai forum internasional.

Saat Laos menjabat sebagai Chair ASEAN pada tahun 2016 lalu, Pemerintah Indonesia telah memberikan bantuan sebesar US$ 1 juta untuk membantu lancarnya keketuaan Laos.

Eratnya hubungan persahabatan kedua negara ditunjukkan dengan pemasangan Gong Perdamaian Dunia pada tanggal 22 November 2008 di area monumen Patouxay (Victory Gate) yang merupakan landmark utama kota Vientiane dalam suatu upacara meriah yang dipimpin langsung oleh Wapres Laos saat itu, Y.M. Bounnhang VORACHITH (sekarang Presiden Laos), dan dihadiri petinggi pemerintah, pimpinan parlemen, korps diplomatik dan masyarakat luas.

Bidang Ekonomi

Secara umum hubungan ekonomi Indonesia dengan Laos belum begitu berkembang, namun dewasa ini hubungan ekonomi antara kedua negara mulai meningkat. Makin terbukanya masyarakat Laos akan informasi mengenai Indonesia dan tren pencarian pasar baru bagi pengusaha dari Indonesia di Laos telah menumbuhkan momentum peningkatan hubungan ekonomi antara pelaku ekonomi dari kedua negara. KBRI melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan hubungan ekonomi RI – Laos dengan melakukan berbagai upaya promosi di kedua negara.

Impor Laos dari Indonesia adalah kendaraan dan suku cadang, barang modal, alat-alat mesin, obat-obaan dan elektronik, dan ekspor ke Indonesia berupa produk pertanian, herbal medicine  dan kerajinan. Perdagangan RI - Laos umumnya dilakukan melalui negara ketiga yaitu Thailand dan Vietnam.

Total perdagangan RI - Laos tahun 2016 tercatat sebesar US$. 10 juta yang terdiri dari ekspor sebesar  US$. 5.87 juta dan impor sebesar US$ 4.197 juta. Indonesia menikmati surplus sebesar US$ 1.67 juta, menurun 22.51 % dibanding tahun 2015.

Sebagai bentuk realisasi dari Diplomasi Ekonomi, pada tanggal 27 – 29 Mei 2016 Indonesia mengadakan dan berpartisipasi dalam kegiatan Wonderful Indonesia in Lao, Thad Luang Exhibition (8-14 Nopember 2016) dan ASEAN Culinary and Music Festival (13-14 Nopember 2016).

KBRI Vientiane telah memfasilitasi kedatangan 25 buyers Laos dalam TEI 2016. Kedatangan buyers Laos merupakan yang pertama kali dalam bertahun-tahun penyelenggaraan TEI..

Pada tingkat B-to-B, telah terjadi peningkatan kerjasama yaitu di bidang perdagangan komoditas, e-commerce, furniture dan arsitektur, suku cadang kendaraan bermotor serta bahan bangunan. Selain itu, khusus sektor penerbangan sipil telah ditandatangani kerjasama pelatihan pilot dan perawatan pesawat antara Ministry of Transport and Public Works Lao dengan Garuda Maintenance Facility dan Perkasa Flight School

Bidang Sosial Budaya

Titik berat bantuan Indonesia adalah pada pengembangan dan peningkatan kapasitas SDM Laos melalui bantuan beasiswa kepada WN Laos untuk mengikuti program-program pendidikan di Indonesia dan pelatihan teknis kepada masyarakat.

Untuk lebih meningkatkan people to people contact telah dibentuk Lao – Indonesia Friendship Association yang berada di bawah naungan Komite Sentral PRRL yang anggotanya adalah pejabat dan mantan pejabat tinggi Laos.

Untuk mempromosikan dan menyebarluaskan informasi mengenai Indonesia dan kebudayaan bangsa Indonesia di wilayah akreditasi, sejak tahun 2010 hingga saat ini KBRI telah membuka kelas Bahasa Indonesia secara gratis kepada masyarakat Vientiane. Saat ini sudah terdapat ratusan alumni kursus yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Sebagai bagian dari Friends of Indonesia, para alumni ini merupakan duta yang sangat berharga dalam meningkatkan keeratan hubungan bilateral kedua negara.

Untuk menjangkau kalangan pemuda dan wanita di Laos, KBRI terus meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait (Lao Youth Union dan Lao Women's Union) terkait kerjasama di bidang seni budaya, olahraga, pertukaran pelajar dan seminar.

Bidang Konsuler

Jumlah WNI yang tinggal di Laos per Desember 2016 tercatat berjumlah 252 jiwa yang tersebar di beberapa propinsi di Laos. Mereka umumnya adalah tenaga kerja formal di sektor pertambangan, industri kayu, industri pariwisata (hotel, restoran), organisasi internasional dan Staf KBRI Vientiane.