Pertama Dalam Sejarah, Perusahaan Indonesia Bangun Stadion di Pasifik Selatan--

Direktur Utama PT Audie Building Industry, Ozie Hansery Moechlis dan Wakil Presiden Kiribati HE Kourabi Nenem
Pertemuan bilateral Wakil Presiden Kiribati HE Kourabi Nenem dan DubesRI untuk Fiji, Tuvalu, Nauru dan Kiribati Benyamin Carnadi


Suva, 27 September 2018. Perusahaan Indonesia PT Audie Building Industry yang diwakili oleh Direktur Utama Ozie Hansery Moechlis, telah menandatangani kontrak pembangunan stadion pada tanggal 26 September 2018 di Tarawa, Ibukota Kiribati. Nilai pembangunan stadion tersebut sebesar AUD 11, 475 juta yang setara dengan Rp. 123 milyar dan diperkirakan selesai Desember 2019.

Ozie Moechlis yang difasilitasi KBRI Suva menyampaikan bahwa proyek ini akan menyerap 60 tenaga kerja Indonesia, dan menggunakan bahan konstruksi yang di produksi langsung oleh PT Audie Building Industry di Cibubur, Jakarta Timur.  

Wakil Presiden Kiribati yang juga merangkap sebagai Menteri Pemuda, Olah Raga, Sosial dan Peranan Wanita Kourabi Nenem menyatakan sangat gembira dan antusias saat menandatangi perjanjian kontrak pembangunan stadion tersebut. Ia menyatakan bahwa stadion ini akan menjadi bangunan kebanggan Kiribati yang diharapkan dapat meningkatkan minat para pemuda setempat untuk bekerja keras dan berprestasi di bidang olah raga. Selain sebagai fasilitas olah raga, bangunan ini juga akan dimanfaatkan untuk kegiatan kenegaraan seperti perayaan Hari Kemerdekaan Kiribati.

Stadion Kiribati akan menjadi stadion internasional pertama di kepulauan Pasifik yang lapangan bolanya sesuai dengan standar FIFA. Selain itu, stadion juga akan dilengkapi dengan lintasan atletik. 

Duta Besar RI untuk Fiji, Tuvalu, Nauru dan Kiribati yang berkedudukan di Suva, Benyamin Scott Carnadi menyambut gembira penandatangan kontrak tersebut. “Peristiwa ini sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya Perusahaan Indonesia dipercaya untuk membangun stadion kebanggan rakyat Kiribati. Hal ini adalah realisasi arahan Presiden Joko Widodo dalam sidang kabinet terbatas tanggal 4 Mei 2018 yang menegaskan bahwa Indonesia harus meningkatkan hubungan dengan negara-negara kepulauan di Pasifik."

Upaya untuk mendapatkan proyek pembangunan tersebut merupakan kerja kolektif antara swasta dan pemerintah RI yang mendukung penetrasi pasar non tradisional di kawasan Pasifik. Bahkan dalam berbagai pertemuan dengan pejabat-pejabat tinggi Kiribati, Duta Besar Benyamin Carnadi selalu mempromosikan perusahaan dan produk-produk Indonesia yang memiliki kualitas dan standar yang tidak kalah dengan produk-produk Australia dan Selandia Baru.

Kiribati merupakan sebuah negara kepulauan di Pasifik yang merupakan negara rangkapan KBRI Suva di Fiji berpenduduk kurang lebih 100 ribu jiwa. Negara ini mengandalkan produk-produk impor untuk memenuhi kebutuhan warga negaranya. Terdapat banyak produk Indonesia seperti mi instan, perlengkapan mandi dan deterjen yang masuk melalui Fiji dan Australia ke Kiribati.

(Sumber KBRI Suva). ​