Indonesia Berikan Pelatihan Keterampilan Ukir Kayu bagi Pengukir Fiji

​​Nadi, 5 Oktober 2018. Indonesia berkolaborasi dengan Kementerian Kehutanan Fiji dan dua orang ahli ukir kayu dari I Made Ada Gallery Gianyar Bali memberikan pelatihan peningkatan keterampilan ukir kayu (wood carving training programme) bagi 20 orang Pengukir Fiji. Program yang dibuka tanggal 4 Oktober 2018 tersebut akan berlangsung selama kurang lebih 2 minggu di Nadi. 
 
Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Hilman Nugroho pada pembukaan pelatihan menyampaikan bahwa program ini merupakan milestone penting, setelah penandatanganan Memorandum of Understanding bidang Kehutanan antara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Dr. Siti Nurbaya dan Menteri Kehutanan Fiji Hon. Osea Naiqamu, pada Bilateral Meeting Indonesia-Fiji, di sela-sela pelaksanaan Third Asia Pasific Rainforest Summit (APRS-3) April 2018.  Program pelatihan dilaksanakan untuk memenuhi permintaan Fiji kepada Menteri LHK, dan dalam kerangka memperkuat kerjasama Selatan-Selatan. Diharapkan, para pengukir memanfaatkan kegiatan tersebut untuk berbagi pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan mengukir tanpa meninggalkan identitas budaya masing-masing. 

Dirjen Hilman mengharapkan, kerjasama Indonesia dan Fiji dapat memperat persahabatan kedua negara, serta memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat masing-masing Negara. “Bagi Indonesia, Fiji bukan sekedar seorang sahabat di forum Internasional, namun sudah merupakan saudara”, demikian pungkas Dirjen PHPL.  

Sementara itu, Permanent Secretary of Forests Kementerian Kehutanan Fiji, yang diwakili oleh Mr. Semi Dranibaka, Direktur Penelitian dan Pengembangan, menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan kesungguhan Delegasi Indonesia yang dipimpin Dirjen PHPL untuk melaksanakan pelatihan.  Mr. Dranibaka juga mengapresiasi Indonesia atas keberhasilan Indonesia menyelenggarakan APRS-3 beberapa bulan lalu. 

Kegiatan pelatihan ini merupakan salah satu wujud kegiatan di bawah MoU Indonesia-Fiji bidang Kehutanan, yang tidak hanya bermanfaat bagi kehutanan namun sektor lainnya seperti sektor wisata, kesejahteraan masyarakat yang bergantung kepada hutan, seta meningkatkan skala bisnis dari usaha kecil dan menengah, serta pemanfaatan secara lestari dari hutan dan sumber kayu.  Di Fiji, kontribusi dari sektor informal kerajinan kayu terhadap pendapatan dari eksport  nasional  adalah sebesar 10%.   

Mr. Dranibaka mengatakan bahwa kemitraan Indonesia Fiji berarti membangun kedekatan yang lebih kuat, dan percaya akan membuka pintu baru dan menciptakan kesempatan baru dalam sektor kehutanan kedua Negara. 

Sebagai penutup, Mr Dranibaka menyatakan harapan bahwa kemitraan ini akan terus berlanjut di masa mendatang  dan akan memuluskan jalan ke depan untuk kerjasama ekonomi dan pembangunan kapasitas yang lebih kokoh di antara kedua Negara. 

Dalam catatan KBRI Suva, pelatihan peningkatan kualitas SDM serupa namun dengan media bambu juga telah dilaksanakan pada tahun 2007 dan 2011. 

(Sumber: KBRI Suva)