MAKNA HIJRAH DALAM MENYAMBUT 1 MUHARAM 1440H

Stockholm (Minggu 16 September 2018). Kelompok Pengajian Al-Ikhlas pada hari Minggu 16 September 2019 telah menggelar pengajian untuk memperingati datangnya tahun baru 1 Muharram 1440 Hijriyah. Acara dilakukan dengan mengadakan zikir dan sholat bersama yang dilakukan di kediaman Bapak Ahmad Mulia Karnida.  Kegiatan dimulai pukul 12:20 siang waktu setempat, dan dipimpin langsung oleh Ibu Katroun Nada Danielsson.

 

Setelah mendengarkan sambutan dari Pimpinan Pengajian Al-Ikhlas, Indra Gunawan dan Dubes RI Bagas Hapsoro juga diagendakan sesi ceramah yang dibawakan oleh Sahilaushafnur atau akrab dipanggil dengan nama Sahel.

 

Menurut Sahel, hijriah dilakukan setelah disepakatinya kalender Islam. Tetapi yang lebih penting adalah makna dari Hijrah itu sendiri. Hijrah adalah perpindahan dari yang batil menjadi baik. Menurut Sahel ummat Islam perlu melaksanakan sesuatu yang dianjurkan dan diperintahkan oleh Al-Qur'an dan Hadits.

 

Penanggalan tahun hijriah di tetapkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab saat Nabi besar Muhammad SAW beserta sebagian pengikutnya hijrah dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa ini mempunyai arti yang penting bagi umat islam karena perpindahan Nabi Muhammad SAW beserta sebagian pengikutnya dari Mekkah ke Madinah karena tekanan dari kaum kafir Quraisy di Mekkah. Hijrah sendiri mempunyai makna yang berarti perpindahan atau menyingkir ke tempat yang satu ke tempat yang lain yang lebih aman dan menjauhkan diri dari dosa.

 

Karena pentingnya peristiwa ini, banyak orang yang memperingati tahun baru hijriah dengan beribadah, meminta ampun atas dosa yang sudah di perbuat setahun yang lalu, berdoa diberi keselamatan dan rezeki.

 

"Mengamalkan Islam setiap hari perlu dilakukan cukup dengan meluangkan waktu untuk membaca 5 (lima) ayat dan terus diamalkan", kata penceramah yang juga mahasiswa KTH jurusan Sustainable Energy System ini. Ditambahkan oleh Sahel bahwa berkumpul dengan orang yang tidak seiman tidak apa-apa tetapi kita harus tetap sesuai dengan prinsip kita sendiri. Contohnya adalah sembahyang. Sholat adalah kebutuhan tidak semata-mata kewajiban.

 

Dubes Bagas Hapsoro menyampaikan penghargaannya kepada Pak Ahmad Mulia Karnida dan Bu Vina yang telah menyediakan kediamannya untuk penyelenggaraan pengajian ini. Diharapkan juga agar pengajian ini membawa berkah bagi masyarakat Indonesia semua. Pada Era globalisasi ini masyarakat Indonesia yang tinggal di Swedia umat Islam perlu meningkatkan pengetahuan dan penguasaan teknologi untuk dapat mengolah dan memanfaatkan nikmat Allah di alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia.

 

Acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Fauzan Arafat, mahasiswa Karolinska Institute jurusan Health Informatics. Kegiatan peringatan 1 Muharram diatas dihadiri dari komunitas Indonesia, mahasiswa dari berbagai kota di Swedia dan staf KBRI Stockholm. (Sumber: KBRI Stockholm).