Startups Korea Tertarik Jadikan Bali sebagai Business Hub

Dalam rangka mempromosikan Bali sebagai business hub bagi para digital nomads Korea, sekaligus mendorong program nasional hingga tahun 2020 untuk tumbuhkan 1,000 perusahaan rintisan berbasis IT atau popular dengan sebutan startup, KBRI Seoul melaksanakan kegiatan Familiarization Trip (famtrip) Startup Korea di Bali, pada 10-14 Desember 2018. 

Kegiatan ini berupa kunjungan bisnis yang diikuti oleh 9 kaum muda Korea, pendiri 5 startups, bernama Adiscope (pembuat aplikasi promosi K-Pop”Idol Champ” dan monetisasi aplikasi melalui iklan), Store Camera (aplikasi kamera untuk kebutuhan digital commerce), Jaya Development (IOT based smart property development), Pygmalion (aplikasi business matching service), dan IMP (aplikasi e-commerce).  

Selama 4 hari di Bali aktifitas para startup Korea ini sarat dengan  program presentasi (pitching), diskusi dengan sejumlah startup Indonesia, business matching dengan pelaku bisnis dari sektor e-commerce, perhotelan, agriwisata, F&B, industri manufaktur, dan pertemuan dengan pengelola unicorns  Indonesia, yakni Traveloka dan Tokopedia. Para startup Korea juga mengunjungi  perusahaan dan sentra UMKM, serta co-working space bernama Livits yang cukup popular di Bali. 

Salah satu peserta David Baek bahkan secara terus terang menyatakan bahwa dirinya tertarik untuk bekerja secara remote di salah satu co-working space di Bali yang dikunjungi. Fasilitas yang ditawarkan tidak kalah dengan yang ada di Seoul, tapi berlipat lebih murah dan nyaman, demikian tutur David Baek, CEO Pygmalion. 

Minat yang dari para startup ini tidak terlepas dari daya tarik Pulau Bali di Korea, yang kondang sebagai surga bagi para pengantin baru atau honeymooners. Setiap tahun setidaknya sekitar 160.000 wisatawan Korea berlibur ke Bali.

Setelah ikut program famtrip ini, kaum millenial Korea tersebut tertarik menjadikan Bali sebagai ’the next business hub’. Ide seperti mengawinkan fasilitas perhotelan dengan Internet of Things (IOT) begitu menarik untuk dikembangkan para startup Korea dengan pemilik jaringan hotel di Pulau Dewata. Demikian pula, promosi aplikasi K-Pop terbaru  ’Idol Champ’ di Indonesia dan monetisasi aplikasi dengan periklanan menjadi lahan yang potensial menguntung dalam bisnis e-commerce Indonesia dan Korea.  Peluang-peluang ini sangat menarik minat startup Korea yang menjajaki merintis usaha dan berinvestasi di Bali. Bali beyond leisure menjadi tagline baru bagi kaum muda Korea tersebut.  

Kegiatan famtrip ini diprakarsai oleh KBRI Seoul bekerja sama dengan sebuah akselerator Korea bernama D.Camp dan organisasi marketing tanah air, Markplus Indonesia. Tujuan kegiatan famtrip adalah untuk membangun jaringan kerjasama yang melibatkan startup Korea-Indonesia dan startup accelerators kedua negara. Para investor nantinya juga  akan digandeng dalam tahap berikutnya melalui kerangka startup seeding program di Indonesia atau pun di Korea. 
Pemilihan lokasi di Bali untuk pertama kalinya ini  karena terdapat direct flight Seoul-Denpasar yang dioperatori oleh Maskapai Garuda dan Korean Airlines. Selain itu,  provinsi Bali sangat populer di kalangan wisatawan dan millenials Korea.  
Dalam kaitan famtrip, salah satu peserta dari startup Jaya Development, Clark Hong, menyampaikan masukan bahwa potensi Bali menjadi digital business hub dunia sangat besar. Lanskap yang indah, pasar yang kompetitif, penduduk yang ramah dan terbuka merupakan daya tarik tersendiri bagi startup dan pebisnis Korea. Namun demikian, pemerintah perlu menambah investasinya di jaringan broadband 5G dalam waktu dekat.  Bagi para digital nomads Korea ini jaringan internet yang cepat sangat mendukung kesuksesan mereka bekerja.​