Menengok Milad Masjid Indonesia di Kota Uijeongbu Korsel

​​Udara negeri Ginseng kini sudah mulai tidak ramah. Dinginnya suhu yang melampaui titik beku kerap membuat warganya enggan untuk beraktivitas di luar ruangan kecuali untuk bekerja.

Namun siang itu (6/1) di salah satu sudut kota  Uijeongbu, sekitar 40 Km dari Kota Seoul,  suasana tampak hangat. Lebih dari 200 WNI  berkumpul, bersilaturahmi,  menyelenggarakan Milad atau Ulang Tahun  ke-8 Masjid Indonesia di kota tersebut yang bernama Masjid Al Ikhlas.

Acara diawali pertunjukan  Hadrah dengan lagu-lagu Islami yang dibawakan oleh para santri Masjid. Aktivitas keagamaan ini juga mendapatkan dukungan dari pemerintah Korsel. Hal tersebut ditandai dengan hadirnya Pengurus Pekerja Migran wilayah Uijeongbu dan aparat kepolisian setempat memberikan sambutan yang pada intinya adalah mendukung segala aktivitas positif masyarakat Indonesia dan memberikan jaminan perlindungan. Tak lupa siraman rohanipun disampaikan oleh Ustadz H. Syaikhoni Jazuli Al Hafidz yang merupakan  Imam masjid Korean Muslim Federation (KMF)  Busan yang sengaja dihadirkan pada acara tersebut.

Sementara itu, mewakili Duta Besar RI, Plt. Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Seoul Purno Widodo menyampaikan pentingnya menjaga persatuan dan  toleransi serta saling menghormati sesama WNI di Korsel juga dengan masyarakat setempat. 
Terlebih lagi dengan semakin dekatnya Pemilu. ”Saya harapkan semua masyatakat Indonesia di Korsel menggunakan hak pilihnya dan menghormati  segala perbedaan pilihan dan pandangan serta menghindarkan segala bentuk perselisihan. Karena hal tersebut juga merupakan cerminan nilai ke- Indonesiaan yang santun dan damai, sejalan dengan perinsip Islam yang "rahmatan lil' alamin", tutur Purno.

Acara berlangsung secara khidmat dan menjadi ajang silahturahmi sesama WNI di daerah Uijeongbu dan sekitarnya.  KBRI Seoul terus mendorong kepada WNI yang berada di Korea Selatan untuk tetap melakukan kegiatan positif, salah satunya dengan aktif dalam kegiatan keagamaan.

Ajaran Islam yang perkenalkan masyarakat Indonesia di Korsel  merupakan ajaran Islam yang ramah dan damai. Sehingga Pemerintah Korsel tidak resisten terhadap aktivitas Muslim di negeri K-Pop itu. Hal ini juga  dibuktikan dengan mudahnya WNI mendirikan masjid dan mushala di Korsel yang kini mencapai 50 lebih.

Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Korsel mencapai lebih dari 36.000 orang. Dukungan dari Pemerintah Korsel merupakan bentuk simbiosis mutualisme karena Pemerintah Korsel juga membutuhkan keterampilan PMI dalam menggerakkan aktivitas ekonomi. Sebab itu, Pemerintah Korea memberikan keleluasaan bagi PMI  untuk menjalankan keyakinannya selama tidak mengganggu pekerjaan dan ketertiban umum.

Komunitas Muslim Indonesia (KMI) maupun Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang anggotanya sebagian besar merupakan Pekerja Migran Indonesia kerap melakukan pengajian akbar dengan mengundang dai kondang dari Indonesia. Sekali kumpul pengajian bisa ratusan hingga ribuan WNI datang dari berbagai penjuru Korea Selatan sebagaimana Milad Akbar Komunitas Muslim Indonesia di Korea yang diselenggarakan di Busan seminggu sebelumnya yang dihadiri lebih dari 1000 orang. (KBRI Seoul)