Film Bali Beats of Paradise Banjir Pujian di Korsel

​​​Satu lagi karya anak bangsa membuat harum Indonesia. Adalah Livi Zheng, seorang sutradara muda Indonesia yang berkiprah di Hollywood. Setelah membuat heboh di Amerika, Filipina bahkan Tiongkok, kini giliran Korea Selatan dibuat tercengang dengan karya terbarunya  berjudul Bali: Beats of Paradise. 


Bali: Beats of Paradise tayang perdana di Korsel pada Kamis (24/1). Korean National Museum of Contemporary History secara khusus mengundang Livi untuk memperkenalkan karya terbarunya melalui Private Preview dan diskusi dengan berbagai kalangan di Korsel.  

Film bertemakan Gamelan Bali itu diungkapkan sang Sutradara bertutur  tentang perjalanan hidup Nyoman Wenten, seniman gamelan yang tinggal di Los Angeles, Amerika Serikat bersama istrinya Naniek Wenten. 

“Kisah nyata sepasang suami istri asal Indonesia yang memiliki mimpi memperkenalkan gamelan Bali di dunia internasional menjadi inti cerita.  Film ini melibatkan musisi terkenal diantaranya Judith Hill, seorang penyanyi sekaligus pencipta lagu asal California dan I Wayan Balawan, gitaris jazz Indonesia asal Bali yang terkenal dengan Touch Tapping Style.” Demikian ungkap Livi.

Livi dalam berbagai kesempatan mengatakan film dokumenter ini diharapkan bisa menginspirasi para generasi muda di masa sekarang yang berangsur-angsur mulai meninggalkan budayanya seiring perkembangan zaman. “Film ini juga merupakan salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan Indonesia, terutama Gamelan,” ungkapnya.

Berbagai dukungan dan komentar positif berdatangan dari para penonton yang hadir. Cho Chang-ho, sutradara Korea yang telah berhasil membuat berbagai film sukses seperti The Peter Pan Formula (2006) and Lovers Vanished (2010) menyampaikan kekagumannya. “Dalam diri saya tiba tiba timbul keinginan yang mendalam untuk lebih mendengar musik ini (gamelan), serta dengan berbagai cerita dan filosofi yang terangkai di dalamnya,” ucap Cho.  “Saya merasa separuh hati saya sudah “terbeli” oleh Indonesia’” imbuhnya.

Lain lagi komentar Christ Lee, jurnalis Sunday Times, salah satu surat kabar berbahasa Inggris di Korsel. “Saya merasa sangat tersentuh oleh film ini. “Saya jadi merasakan bahwa Gamelan bagi orang Indonesia adalah hidup dan harmoni yang indah,” tuturnya. “Saya juga jadi ingin tahu lebih banyak mengenai Indonesia dan budayanya,” imbuhnya. 

Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi yang juga turut berperan dalam produksi film ini juga menggaris bawahi arti penting Bali: Beats of Paradise. “Film ini memiliki pesan yang sangat kuat tentang bagaimana menyadarkan  masyarakat tentang pentingnya keberagaman, sifat adaptif tradisi dan bagaimana masyarakat kiranya tetap memegang teguh seni dan budayanya, ”kata sang duta besar, sambil menambahkan bahwa Film dimaksud juga menyoroti warna warni keindahan Bali  sebagai pusat perhatian. "Gamelan menggabungkan banyak filosofi dan tradisi Indonesia, terutama moto nasional Indonesia 'persatuan dalam keberagaman.' 

Private Preview Bali: Beats of Paradise digagas oleh Korean National Museum of Contemporary History dengan menggandeng KBRI Seoul. Acara yang ditargetkan hanya untuk 40 undangan terbatas tersebut ternyata disesaki oleh tak kurang dari 150 tamu yang datang dari berbagai daerah di Seoul dan kota-kota di sekitarnya. Selain dari kalangan film, media, dan akademisi, acara juga dihadiri oleh para pemerhati Indonesia dan kalangan diplomatik. 

Tak seperti film dukumenter pada umumnya, film ini diwarnai dengan ritme cerita yang berirama serta berujung pada kisah layaknya drama.  Tak dinyana hal tersebut mengundang banyak ulasan positif dari pengamat film dan media. Indonesia kaya akan beraneka ragam warisan budaya yang harus dijaga, dibanggakan dan dikembangkan oleh generasi muda. Hal itu juga yang menjadi salah satu kekuatan film ini.

Usai Private Preview, pihak Management Seoul Sky, bangunan tertinggi di Korsel berbentuk monolit perak juga mengundang Livi Zheng untuk memperkenalkan film tersebut kepada pengunjung observatorium tersebut pada pekan ini. Tawaran ini tentu tidak disia-siakan. Sebuah prestis tersendiri untuk dapat menayangkan film besutan anak muda Indonesia ini di bangunan ikonik di Korsel tersebut. 

Film kebanggaan Indonesia ini rencananya akan tayang di bioskop di Korsel pada awal April dan di bioskop di Indonesia pada akhir Juni 2019. Don’t miss it guys!!