Sambut Ramadhan, KBRI Riyadh Gelar Tabligh Akbar

​Sekitar 500 ekspatriat Indonesia di Riyadh dan sekitarnya menghadiri acara “Tabligh Akbar dan Tarhib Ramadhan 1439 H/2018" yang digelar Jum'at (11/5) di di KBRI Riyadh, kawasan Diplomatic Quarter Riyadh.

Untuk acara yang sangat spesial ini, KBRI Riyadh secara khusus menghadirkan Prof. Dr. K.H. A. Malik Madaniy, seorang Ulama dan Pakar Tafsir Al Qur'an dari UIN Sunan Kalijaga, Yogjakarta, untuk menjadi pembicara sekaligus memberi tausiyah.

Acara yang diawali dengan sambutan Dubes RI Riyadh, Agus Maftuh Abegebriel ini menjadi pemandu datangnya bulan suci Ramadhan sekaligus mengobati rindu akan tanah air.

“Adalah hal sangat yang baik menjelang Ramadhan kita membuat kegiatan yang sekarang disebut dengan Tarhib Ramadhan," ujar Dubes RI di depan ratusan jamaah yang memadati lapangan olahraga KBRI Riyadh.

Substansi acara tersebut menurut Dubes RI adalah untuk mengingatkan ekspatriat Indonesia khususnya umat Islam di Riyadh akan keutamaan-keutamaan bulan suci Ramadhan, “Dan bagaimana kita bisa maksimal di dalam menjalaninya," kata Agus Maftuh.

Dubes RI juga sangat senang dan berbahagia karena ditengah kesibukan Prof. Dr. K.H. A. Malik Madaniy masih mneyempatkan diri untuk jauh-jauh datang ke Riyadh.

“Selamat datang, ahlan wa sahlan guru kami Prof. Malik Madaniy. Kami semua yang hadir disini butuh tausiyah dan siraman rohani dalam menyongsong bulan suci Ramadhan", kata Dubes RI.

027-Tabligh Akbar dan Tarkhib Ramadhan-11 Mei 2018 (126).JPG

Sementara itu, dalam tausiyahnya, Prof. Dr. K.H. A. Malik Madaniy mengingatkan umat Islam agar memprioritaskan al-Qur'an daripada yang lainnya.

“Selama 11 bulan kita disibukkan dengan hal-hal yang umumnya bersifat duniawi. Untuk itu Ramadhan adalah kesempatan emas untuk mencari mardhotillah (ridho Allah SWT)," ujarnya.

Prof. Malik Madaniy kemudian menceritakan tentang keprihatinannya terhadap perkembangan media sosial yang terjadi saat ini. Menurut beliau media sosial berpotensi untuk menimbulkan permusuhan, kebencian dan fitnah apabila digunakan secara tidak benar dan berakhlak.

Dalam penggunaan media sosial beliau menghimbau agar tidak sembarangan mempercayai dan menyebarkan berita-berita yang belum jelas kebenarannya. Sebagai orang berilmu kita harus mengutamakan tabayun (klarifikasi) kepada pihak yang diberitakan sebelum menyebarkannya secara luas. Karena apabila berita yang disebarkan tidak benar, maka akan menjadi fitnah dan merugikan pihak yang diberitakan.

Berkenaan dengan masalah ukhuwah (persaudaraan), menurut Prof. Malik Madaniy ukhuwah bisa dibagi menjadi tiga, ukhuwah imaniyah/diniyah (persaudaraan dengan yang seiman dan seagama), ukhuwah wathoniyah (persaudaraan dengan yang sebangsa dan yang setanah air), ukhuwah insaniyah/basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Sedangkan terminologi Islamiyah bisa dilekatkan kepada ketiga-tiganya. Namun ada perbedaan dampak ketika istilah Islamiyah dilekatkan kepada ketiga-tiganya. ukhuwah imaniyah/diniyah yang Islamiyah akan tetap berlanjut dari dunia sampai akhirat. Sedangkan ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah insaniyah Islamiyah hanya terbatas di dunia saja.

Prof. Malik Madaniy juga mengingatkan kepada seluruh umat Islam untuk selalu berbuat baik dan berkasih sayang, utamanya kepada orang-orang yang miskin dan lemah di sekitar kita karena ridha Allah SWT ada di m​ereka. Doa dan keikhlasan orang miskin dan lemah adalah media yang sangat kuat dalam mencari ridha Allah SWT.  

PENS0101.JPG

Acara yang dimulai pukul 8 malam waktu Riyadh ini semakin semarak dengan tampilnya group nasyid dari Ruhama (Rumah Harapan Mandir/Shelter KBRI Riyadh) yang bersholawat dengan diiringi rebana.

Group ini memang sengaja diminta tampil oleh Dubes RI dengan harapan agar bisa melupakan sejenak permasalahan ketenagakerjaan yang tengah dihadapi sekaligus mohon do'a dari seluruh hadirin.

Tepat pukul 10 malam, acara ditutup dengan do'a bersama dan ramah tamah.