EAST ASIA SUMMIT

1/6/2016

​HUBUNGAN KEMITRAAN

ASEAN - EAST ASIA SUMMIT

 
East Asia Summit (EAS) merupakan satu forum regionalism terbuka yang baru muncul di kawasan Asia Timur. Terdapat 16 negara peserta EAS, yaitu 10 negara ASEAN, Australia, China, India, Jepang., Republik Korea dan Selandia Baru. EAS merupakan forum leaders-led summit dengan ASEAN sebagai kekuatan penggerak dalam kemitraan dengan Negara-negara anggota lainnya. EAS bersifat terbuka, inklusif, transparan dan outward-looking dengan format retreat berupa diskusi strategis mengenai berbagai tema actual di kawasan.
 
KTT Pertama Asia Timur
 
KTT ke-1 Asia Timur diselenggarakan pada tanggal 14 Desember 2005 di Kuala Lumpur dan dihadiri oleh para Pemimpin ASEAN, Jepang, China, Republik Korea, India, Australia dan Selandia Baru. Atas undangan Malaysia, Rusia hadir sebagai guest of ASEAN’s Chair. Pertemuan tersebut menghasilkan dua dokumen utama yaitu Kuala Lumpur Declaration on the East Asia Summit  yang merupakan cerminan pandangan bersama bahwa EAS dapat memainkan peranan penting dalam proses pembentukan komunitas di kawasan, dan East Asia Summit Declaration on Avian Influenza Prevention, Conrol and Response.
 
KTT Kedua Asia Timur
 
KTT ke-2 Asia Timur dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2007 di Cebu, Philippines, dan membahas energy security\y sebagai focus utama yang menghasilkan Cebu Declaration on East Asian Energy Security yang ditandatangani oleh Kepala Negara/Pemerintahan EAS.
 
KTT Ketiga Asia Timur
 
KTT ke-3 Asia Timur dilaksanakan pada tanggal 21 November 2007 di Singapura dan secara khusus mendiskusikan masalah Energy Environment, Climate  Change, Energy and the Environment.
 
Dari hasil ketiga KTT tersebut telah ditindaklanjuti berbagai pertemuan/kegiatan yang melibatkan pihak terkait antara lain pelaksanaan workshop mengenai isu-isu di atas, pembentukan EAS Energy Cooperation Task Force (ECTF) untuk mengidentifikasikan prioritas kerjasama di bidang energy dan penyelenggaraan EAS  Environment Ministers Meeting.
 
Dalam mengkaji kemungkinan kerangka kerjasama bagi integrasi ekonomi di Asia Timur telah dibentuk Comprehensive Economic Partnership in East Asia (CEPEA). CEPEA terdiri dari pakar dari Negara-negara EAS dan telah beberapa kali bertemu di Jepang, Selandia Baru, Thailand, India, Filipina dan Indonesia.
 
CEPEA telah menyampaikan laporan akhir (Phase I Report of the Track Two Study Group on CEPEA) kepada ASEAN Economic Ministers + 6 (AEM+6) Working Lunch bulan Agustus 2008.  Phase I Report of the Track Two Study Group on CEPEAbertujuan untuk memperkuat integrasi ekonomi, mengurangi ketimpangan pembangunan, serta mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
 
Pada AEM+6 bulan Agustus tersebut, para Menteri Ekonomi EAS juga menyepakati Phase II Track Two Study on CEPEA yang merinci pilar kerjasama ekonomi, fasilitas dan liberalisasi serta pengembangan kelembagaan.
 
Phase II Study telah mengadakan pertemuan sebanyak empat kali dari bulan November 2008 hingga Juli 2009. Laporan akhir Phase II telah disampaikan kepada para Menteri Ekonomi EAS pada pertemuan di Bangkok, Thailand, pada tanggal 15 Agustus 2009. Pertemuan tersebut menyetujui hasil Phase II Track Two Study on CEPEAkepada para Pemimpin EAS pada 4th East Asia Summit.
 
Jepang merupakan partisipan yang paling aktif dalam memajukan kerjasama EAS, antara lain melalui inisiatif Japan-East Asia Networkof Exchange for Students and Youths (JENESYS) dan telah menyumbang US$ 195.572.072,- ke dalam JAPAN ASEAN Integratiob Fund (JAIF) bagi pelaksanaan program selama 2007-2012.
 
Sementara Economic Research Institute for ASEAN  and East Asia (ERIA) merupakan lembaga kajian yang dibiayai Jepang dengan focus pada topik-topik riset yang memiliki kepentingan strategis dan akan melanjutkan pekerjaannya untuk mendorong integrasi regional dan memperkuat kemitraan di Asia Timur. Pada KTT ke-3 EAS, para Pemimpin EAS telah meyepakati pembentukan ERIA untuk dapat diakomodasikan sementara di Sekretariat ASEAN di Jakarta. Beberapa proyek penelitian dibawah pilar ERIA, antara lain deepening integration, narrowing the development gaps and sustainable development termasuk “Developping Roadmap toward East Asian Economic Integration”, “Energy Security in East Asia”, dan laporan-laporan mengenai “ EAS Energy Outlook”, “ Asia Biomass Energy Principles” dan “EAS-ERIA Bio-Diesel Fuel Standards”.
 
Pada tanggal 3 Juni 2009, Thailand selaku Ketua ASEAN mendapat mandat dari para Pemimpin EAS untuk mengeluarkan Joint Press Statement of the East Asia Summit on the Global Economic and Financial Crisis yang mencerminkan komitmen Negara partisipan EAS dalam menghadapi dampak krisis keuangan global dan menekankan pentingnya kerjasama internasional untuk mengambil langkah-langkah kongkrit melalu program jaringan pengamanan social dan bantuan untuk usaha kecil dan menengah.
 
KTT Keempat Asia Timur
 
KTT Ke-4 Asia Timur telah berlangsung di Cha-am Hua Hin, Thailand pada tanggal 25 Oktober 2009 dan telah mengadopsi Cha-am Hua Hin Statement on EAS Disaster Management dan Joit Press Statement of the 4th East Asia Summit on the Revival of Nalanda University.
 
KTT ke-4 Asia Timur telah menugaskan pejabat tinggi dan badan-badan terkait penanggulangan bencana untuk membahas cara-cara untuk mengimplementasikan rekomendasi dari Cha-am Hua Hin Statement on EAS Disaster Management,  termasuk pengembanagn kapasitas yang terintegrasi dalam tanggap bencana dan pengurangan dampak bencana di kawasan serta mengkaji kemungkina pembentukan suatu jejaring regional dari para contact points penanggulangan bencana melalui kerangka kerja dan mekanisme yang ada di ASEAN.
 
Terkait dengan penanganan bencana, KTT ke-4 Asia Timur menugaskan para pejabat terkait untuk menyiapkan standard operating procedures (SOP) untuk penanganan bencana serta menegaskan kembali pentingnya peningkatan kapabilitas dalam penanggulangan bencana di tingkat masyarakat.
 
Selain itu, KTT ke-4 Asia Timur juga mencatat antara lain:
·         Inisiatif Jepang untuk membangun suatu masyarakat yang tahan bencana di Asia Timur;
·         Usulan Australia mengenai jejaring regional dari para Sherpa penanganan bencana dan suatu regional-pooled fund sebagai bagian dari upaya-upaya untuk meningkatkan koordinasi dalam penanganan bencana regional;
 
Terkait dengan pendidikan, KTT ke-4 Asia Timur antara lain:
·         Menyambut baik tawaran China untuk memberikan 2000 beasiswa pemerintah dan 200 beasiswa MPA bagi Negara-negara berkembang peserta EAS untuk 5 tahun ke depan;
·         Menyambut baik tawaran Australia untuk bekerjasama dengan ASEC dalam membentuk task force of senior officials dan penyelenggaraan 2 workshop pada tahun 2010 di Jakarta dan ibukota Negara anggota ASEAN lainnya;
·         Menyambut baik upaya Selandia Baru dalam pengembangan regional sducation rsource project dan regional Media Programme yang disponsori oleh Selandia Baru dan Indonesia.
 
Di bidang energy, KTT ke-4 Asia Timur menegaskan kembali dukungan terhadap pengembangan sumber-sumber energi baru dan terbarukan, seperti bio-fuels guna mengurangi ketergantungan terhadap fosil fuel. Ktt ke-4 Asia Timur mencatat suksesnya pelaksanaan eas Workshop on Bio-fuels tanggal 18-19 Juni 2008 di Bangkok dan 3rd EAS Energy Ministers Meeting tanggal 29 Juli 2009 di Myanmar.
 
Terkait dengan penanggulangan wabah flu A(H1N1), KTT ke-4 Asia Timur antara lain:
·         Menyepakati untuk meningkatkan upaya-upaya penyebaran wabah tersebut melalui peningkatan kerjasama dalam penanggulanagn wabah, termasuk sharing of information, penambahan regional stockpiles obat-obatan penting serta saling bantu dalam mendapatkan obat-obatan murah dan vaksin influenza tersebut.
·         Menugaskan para pejabat di bidang kesehatan untuk mempertimbangkan cara-cara mengatasi ancaman wabah flu tersebut.
 
KTT ke-4 Asia Timur mendukung ASEAN Leaders’ Statement on ASEAN Connectivity yang dikeluarkan pada tanggal 24 Oktober 2009. Para pemimpin EAS mempunyai kesamaan pandangan bahwa peningkatan intra-ASEAN connectivity akan menguntungkan kawasan EAS secara keseluruhan. Para pemimpin EAS mendukung peningkatan linkagesbaik di dalam ASEAN maupun antara ASEAN dengan mitranya di EAS, guna membantu memfasilitasi integrasi regional. KTT ke-4 Asia Timur juga mendukung upaya ASEAN untuk mengembangkan ASEAN  Master Plan on regional connectivity dan infrastructure development fund for ASEAN. KTT ke-4 Asia Timur meminta Asian Development Bank dan UN ESCAP mendukung upaya-upaya ASEAN untuk meningkatkan regional connectivity.
 
KTT ke-4 Asia Timur menyampaikan penghargaab terhadap kontribusi Economic Research Institute from ASEAN and East Asia (ERIA) yang telah memberikan rekomendasi mengenai penelitian dan kebijakan praktis yang bermanfaat. KTT ke-4 Asia Timur mendorong ERIA untuk bekerja sama dengan ADB dan ASEC untuk mempercepat penyelesaian “Comprehensive Asia Development Plan” guna meningkatkan connectivity di kawasan.
Terkait dengan Comprehensive Economic Partnership in East Asia (CEPEA), KTT ke-4 Asia Timur menyambut baik keputusan para Menteri Ekonomi dalam pertemuan di Bangkok tanggal 15 Agustus 2009 yang menugaskan para pejabat tinggi ekonomi untuk membahas dan mempertimnbangkan rekomendasi-rekomendasi laporan Phase I dan Phase II. CEPEA dan East Asia Free Trade Area (EAFTA) dalam kaitan ini dapat dilakukan dan dipertimbangkan secara bersamaan.
 
Para Pemimpin EAS menegaskan kembali dukunagn terhadap upaya EAS untuk membangun Asia Timur yang sejahtera dan harmonis, dengan ASEAN sebagai driving force.
 
Para Pemimpin EAS memandang EAS telah berkembang dengan cepat sebagai forum strategis dan komponen penting dari evolusi arsitektur regional dan EAS perlu memainkan peran yang saling melengkapi dan saling memperkuat peran mekanisme-mekanisme regional lainnya, termasuk proses dialog ASEAN seperti ASEAN Plus Three process, ASEAN Regional Forum, dan APEC dalam membangun komunitas Asia Timur.
 
Selain itu KTT ke-4 Asia Timur mengakui pentingnya pembahasan-pembahasan ditingkat regional guna mencari cara-cara untu meningkatkan stabilitas dan kesejahteraan di kawasan Asia Pasifik.
 
KTT Kelima Asia Timur
 
KTT ke-5 Asia Timur dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2010, dipimpin oleh Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Tan Dung, serta dihadiri oleh para Kepala Negara dan Pemerintahan Negara-negara ASEAN, Australia, China, India, Jepang, Republik Korea dan Selandia Baru. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, Secretary of States, Hillary Clinton, diundang untuk turut hadir sebagai Tamu Khusus dari Ketua ASEAN. Delegasi RI dipimpin oleh Presiden RI, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono.
 
Sebagai perayaan lima tahun kerjasama EAS, KTT mengadopsi Ha Noi Declaration on the Commemoration of the Fifth Anniversary of East Asia Summit yang mencantumkan review perkembangan kerja sama, termasuk tangible progress pada lima bidang prioritas kerjasama yaitu keuangan, pendidikan, energy, penanganan bencana dan pencegahan avian flu. KTT juga menegaskan kembali komitmen untuk konsolidasi lebih lanjut serta penguatan kerja sama EAS sesuai dengan prinsip-prinsip dasar dalam Kuala Lumpur Declaration.
 
KTT menugaskan Menteri Luar Negeri Negara partisipan EAS untuk mempelajari, mengidentifikasi dan mengkonsolidasikan kembali peran, tujuan, follow up serta mekanisme koordinasi EAS di masa mendatang.
 
Terkait dengan arah kerja sama EAS di masa mendatang dalam evolusi arsitektur regional, para Kepala Negara/Pemerintahan partisipan EAS menyampaikan selamat datang kepada kedua tamu khusus Ketua ASEAN serta menyambut partisipasi Rusia dan Amerika Serikat dalam EAS. Untuk itu, Rusia dan Amerika Serikat dalam EAS diundang secara formal pada KTT ke-6 Asia Timur 2011.
 
KTT menyepakati pendidikan sebagai key principle untuk pengembangan sumber daya manusia, memperkecil kesenjangan pembangunan, dan memperkuat regional competitiveness menuju pemulihan dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Pertemuan menhapresiasi langkah-langkah India dalam pendirian kembali Nalanda University. Pertemuan juga menyambut rencana penyelenggaraan pertemuan Menteri Pendidikan EAS pada tahun 2011. Selain itu, KTT menyambut baik pelaksanaan Forum on Higher Education di Kunming, China pada tanggal 14-15 Oktober 2010.
Pertemuan mencatat komitmen Pemerinta Australia untuk 7500 beasiswa pada periode 2011-2015 untuk kawasan Asia Timur, komitmen Pemerintah Selandia Baru untuk 850 beasiswa selama lima tahun serta komitmen Pemerintah China yang menawarkan 2000 beasiswa bagi pejabat Negara, serta 200 beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di bidang administrasi publik (Master of Public Administration-MPA).
 
Pertemuan mengapresiasi ASEAN’s Leaders’ Statement on Human Resource and Skills Development for Economic Recovery and Sustainable Growth yang diadopsi pada KTT ke-17 di Ha Noi. Pertemuan juga mencatat upaya Australia, Kamboja, India, Laos, Malaysia dan Vietnam untuk mengimplementasikan EAS pilot capacity building program yang berfokus pada penguatan institusi dan fungsi agensi pengawasan pasar keuangan. Pertemuan mencatat dan menyambut baik proposal Jepang untuk membangun “East Asia Science and Innovation Area” serta proposal untuk menyelenggarakan EAS Informal Meeting on Science and Technology.
 
Pertemuan mendorong upaya penguatan liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi diantara Negara partisipan EAS. Pertemuan menyambut baik dokumen Progress Report of ASEAN Economic Ministers on the Progress of ASEAN plus working groups on EAFTA/CEPEA.
 
Pertemuan mengapesiasi hail-hasil lengkap mengenai Comprehensive Asia Development Plan (CADP) oleh the Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA). Pertemuan juga mencatat hasil laporan dari pelaksanaan “Symposium on Envolving ASEAN Society and EDstablishing Sustainable Social Security Net” yang diadakan pada tanggal 26 Oktober 2010 di Ha Noi oleh ERIA, the Central Institute for Economic Management of Viet Nam (CIEM) dan Universitas Harvard.
 
Terkait dengan isu perubahan iklim, pertemuan mencatat proposal pendirian East Asia Environmental Education Center di Viet Nam. KTT juga menyambut baik inisiatif Viet Nam untuk mengadakan East Asia Forum on Climate Change, dan proposal China untuk mendirikan East Asia Research and Cooperation Center on Climate Change.
 
Terkait dengan kerja sama di bidang penanganan bencana (Disaster Management), pertemuan mengapresiasi upaya Australia terkait tujuh proposal dalam EAS Disaster Response Initiatives untuk berkontribusi dalam implementasi ASEAN Agreement on Disaster Managementand Emergency Response (AADMER). Pertemuan juga mencatat proposal untuk perluadan kerja sama di bidang agrikultur dan pembangunan pedesaan yang akan membantu upaya pengurangan kemiskinan dan ketahanan pangan di kawasan.