ASEAN Upayakan Percepatan Realisasi ASEAN Connectivity

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebagai bagian dari upaya pembentukan Komunitas ASEAN 2015, konektivtas kawasan melalui pembangunan infrastruktur fisik, konektivitas kelembagaan dan interaksi antar masyarakat juga terus ditingkatkan melalui percepatan implementasi Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC) yang disahkan Pemimpin ASEAN tahun 2010. Implementasi master plan ini diharapkan akan memperkuat daya saing ASEAN sebagai basis produksi yang kompetitif dengan potensi pasar yang cukup besar. Hal tersebut disampaikan Duta Besar Ngurah Swajaya dalam pertemuan ASEAN Connectivity Coordinating Committee (ACCC) yang telah berlangsung di Sekretariat ASEAN di Jakarta, 3-4 April 2013.
 
Wakil Tetap Indonesia untuk ASEAN, Dubes Swajaya dalam kapasitasnya sebagai anggota ACCC, menyampaikan bahwa realisasi 15 proyek prioritas MPAC, khususnya dalam bidang infrastruktur fisik telah mengalami kemajuan, meskipun masih terkendala beberapa tantangan seperti ketersediaan sumber dana akibat belum pulihnya perekonomian dunia serta hambatan lainnya yang bersifat teknis.
Salah satu proyek konektivitas yang didorong Indonesia sebagai negara maritim adalah pengembangan jaringan Roll on Roll off ASEAN (RoRo), yang diawali dengan feasibility study pengembangan RoRo yang menghubungkan Bitung-Indonesia dengan Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Selain itu, tahun ini, Indonesia akan mengajukan proyek feasibility study untuk mengembangkan jaringan kereta api dari Singapura ke Surabaya yang akan tersambung ke dalam rencana jaringan rel kereta api dari Kunming-China ke Singapura.   
Sebagai salah satu upaya mengatasi masalah pendanaan, ASEAN telah membentuk ASEAN Infrastructure Fund (AIF) yang berkedudukan. di Labuan, Malaysia dan dikelola sebagai entitas keuangan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB). Total ekuitas kontribusi semua negara anggota ASEAN dan ADB berjumlah US$ 647.2 juta. AIF telah mengalokasikan pendanaan sebesar US$ 1 milyar untuk periode 3 tahun (2013-2015). Sejauh ini, proyek konektivitas yang akan dibiayai AIF adalah proyek-proyek sub-regional, seperti dalam konteks kerjasama Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East Asia Growth Area (BIMP-EAGA).
Sebagian besar proyek prioritas seperi jaringan rel kereta api dari Kunming ke Singapura dan ASEAN Highway Network sedang berada dalam tahapan implementasi dengan dinamika yang berbeda di masing-masing negara anggota ASEAN. Beberapa proyek prioritas lainnya termasuk ASEAN Ro-Ro Network, Energy Network, ICT dan proyek-proyek terkait institutional connectivity yang dapat memperlancar arus barang dan jasa untuk mendukung pembentukan pasar tunggal ASEAN dan basis produksi yang kompetitif.     
MPAC telah disahkan pada KTT ke-17 ASEAN di Hanoi pada tahun 2010. MPAC terdiri dari 15 proyek prioritas serta 84 program aksi untuk meningkatkan konektivitas di kawasan. ASEAN Connectivity Coordinating Committee (ACCC) dibentuk untuk mengkoordinasi dan memonitor perkembangan realisasi MPAC. ACCC juga menjadi ujung tombak mekanisme koordinasi dengan National Coordinators selaku penanggungjawab realisasi di tingkat nasional.
Saat ini, Dubes Ngurah Swajaya merupakan anggota Indonesia di ACCC, sedangkan sebagai National Coordinator Indonesia untuk ASEAN Connectivity telah ditunjuk Wamen Perencanaan Pembangunan Nasional, Lukita Dinarsyah Tuwo. (NS/RYW)
?