GAMBARAN SINGKAT PERKEMBANGAN TERKINI AFRIKA SELATAN DAN HUBUNGAN BILATERAL RI – AFRIKA SELATAN

BENDERA AFSEL.jpg


​​ 


DAFTAR ISI

                                        I.      Profil negara ...................................................................................................         

                                        II.     Hubungan bilateral RI-Afsel ...........................................................................

                                        III.    Gambaran umum hubungan bilateral RI-Afsel.................................................

                                        IV.    Perbandingan Afsel-RI.....................................................................................

                                        V.     Perkembangan terkini Afsel..............................................................................

                                                Kebijakan luar negeri......................................................................................

                                                Politik.............................................................................................................

                                                Ekonomi.........................................................................................................         

                                                Sosial budaya.................................................................................................

                                         VI.   Kerja sama politik.............................................................................................

                                         VII.  Kerja sama ekonomi..........................................................................................

                                         VIII. Kerja sama sosial budaya        

I.     PROFIL NEGARA

Negara:Republic of South Africa/Republik Afrika Selatan
Ibu kota:Pretoria (Administratif/Eksekutif), Cape Town (Legislatif), Bloemfontein (Yudikatif)
Hari Nasional:27 April
Kepala Negara/Pemerintahan :Presiden Jacob Gedleyihlekisa Zuma (sejak 9 Mei 2009)
Menteri Luar Negeri:Maite Nkoana-Mashabane (sejak 11 Mei 2009)
Duta Besar Indonesia di Pretoria Suprapto Martosetomo (sejak Mei 2014)
Duta Besar Afsel di Jakarta Pakamisa Augustine Sifuba (sejak 30 Januari 2015)
Bahasa Nasional:Inggris, IsiXhosa, IsiZulu, Afrikaans, Ndebele, Sotho Utara, Sotho, Swazi, Tsonga, Venda dan Setswana
Agama:Protestan (36,6%), Katolik (7,1%), Muslim (1,5%), lain-lain (2,3%)
Luas Wilayah:

Darat: 1.214.470 Km2

Perairan: 4.620 Km2

Penduduk:54,95 juta jiwa (2015, World Bank)
GDP:USD 312,79 milyar (2015, World Bank); USD 350,1 Milyar (2014)
Income per kapita:USD 5.691,7 (2015, World Bank)
Pertumbuhan GDP1,3% (2015, World Bank)
Cadangan Devisa:USD 41,62 milyar (2015, World Bank)
Industri Unggulan :Platinum, emas dan chrominium (terbesar di dunia), besi dan baja, kimia, pupuk, dan produk makanan
Komoditas Ekspor:Emas, berlian, platinum, bahan tambang, mesin-mesin
Negara Mitra Utama Ekspor:RRT, AS, Jepang, Botswana dan Jerman
Komoditas Impor:Bahan kimia, produk migas, alat-alat iptek, bahan pangan
Negara Mitra Utama Impor:RRT, Jerman, Arab Saudi, AS, Nigeria dan India

​ 

II. HUBUNGAN BILATERAL RI-AFRIKA SELATAN

Hubungan Diplomatik:

Sejak 12 Agustus 1994 (22 tahun)

 

Data Perdagangan RI – Afsel

(Menurut Kemdag RI)

:

Volume Perdagangan RI-Afsel

Tahun 2015

USD 898 juta

 

Tahun 2016 (Jan-Okt)

USD  860.4 juta

 

Ekspor RI ke Afsel

Tahun 2015

USD 666,12 juta

 

Tahun 2016 (Jan-Okt)

USD 632.4 juta

 

Impor RI dari Afsel

Tahun 2015

USD 231,94 juta

 

Tahun 2016 (Jan-Okt)

USD 228 juta

 

Neraca Perdagangan RI-Afsel Tahun 2015

Surplus USD 434,18 juta

 

Tahun 2016 (Jan-Okt

Surplus USD 404.4 juta

 

 

 

2014

USD 1,87 milyar

 

 

 

 

 

2014

USD 1,379milyar

 

 

 

 

 

2014

USD 488,49 juta

 

 

 

 

 

2014

Surplus USD 881,01 juta

 

Investasi Indonesia ke Afsel

 

:n/a
Investasi Afsel di Indonesia:USD 1,8 juta (BKPM, 2015)

Ekspor Utama RI ke Afsel

(Kemdag RI)

 

:Kendaraan bermotor, karet, alas kaki, ban dan kertas

Impor Utama RI dari Afsel

(Kemdag RI)

 

:Bubur kayu (pulp), gula, alumunium, besi, baja, kapas, dan mesin-mesin
Jumlah WNI di Afsel:242 orang (KBRI Pretoria: Januari 2016)

III.  GAMBARAN UMUM HUBUNGAN BILATERAL RI – AFRIKA SELATAN

  1. ​​​​​​​​​Hubungan diplomatik RI-Afsel dibuka oleh Wakil Tetap (Watap) RI dan Watap Afsel di New York dengan ditandatanganinya​Joint Communique Pembukaan Hubungan Diplomatik pada tanggal 12 Agustus 1994. Sebelum itu, Indonesia dan Afsel telah menyetujui pembukaan hubungan konsuler yang mulai berlaku sejak tanggal 10 Februari 1994. Sejak 12 Agustus 1994, LORI – Liaison Office of the Republic of Indonesia di Pretoria telah berubah statusnya menjadi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Sementara pemerintah Afsel secara resmi membuka kantor perwakilannya di Jakarta pada 17 Januari 1995.
  2. Hubungan bilateral RI-Afsel berlangsung dengan baik, yang antara lain, ditandai dengan saling kunjung antar pejabat tinggi negara dan kerja sama dalam kerangka multilateral, terutama PBB, GNB dan G20.
  3. ​Pemerintah Afsel memandang Indonesia sebagai bangsa yang memiliki ikatan sejarah yang erat dengan bangsa Afsel. Pemerintah Afsel juga senantiasa mengingat dan sangat menghargai peranan Pemerintah Indonesia yang di masa lalu secara konsisten mendukung perjuangan rakyat Afsel menentang pemerintah Apartheid. Hal ini ditandai dengan kehadiran wakil dari African National Congress (ANC), Mosen Kotane dan Moulvi Cachalia, sebagai observer pada KTT Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung. 
  4. Nelson Mandela sebagai tokoh ANC dan Presiden pertama Afrika Selatan pasca-Apartheid (1994-1999) mempunyai special attachment pada Indonesia. Mandela telah berkunjung ke Indonesia sebanyak empat kali (1990, 1994, 1997 dan 2002). Mandela juga dikenal sebagai tokoh dunia yang secara tidak langsung memperkenalkan batik yang terkenal dengan sebutan Madiba Shirt di Afrika Selatan.

      A. Mekanisme bilateral 

  1. Indonesia dan Afsel memiliki mekanisme konsultasi bilateral berupa Sidang Komisi Bersama (SKB), Joint Trade Committee (JTC) dan telah menandatangani sejumlah Perjanjian dan MoU di berbagai bidang: i) Pembentukan SKB; ii). Pembentukan Joint Trade Committee; iii). Perdagangan; iv). Pertanian; v). Pertahanan; vi). UKM; vii). Budaya; viii). Transaksi keuangan; ix). Perhubungan Udara; x). Perpajakan; xi) Ristek; xii). Pengembangan Kebijakan.
  2. SKB ke-1 pada tingkat Senior Official Meeting (SOM) diselenggarakan di Batam, Indonesia tanggal 25–26 Februari 2008. Dalam Draft Pembaruan MoU Pembentukan SKB RI-Afsel, kedua pihak sepakat untuk meningkatkan status SKB tersebut dari Tingkat SOM menjadi Tingkat Menlu.
  3. Pada pertemuan bilateral Menlu RI-Menlu Afsel tanggal 6 Februari 2017 di Cape Town, disepakati bahwa pertemuan tersebut merupakan SKB ke-2 kedua negara.   
  4. Sementara itu, Joint Trade Committee (JTC) telah dilaksanakan dua kali pada tahun 2006 di Afsel dan tahun 2012 di Indonesia. Pertemuan JTC ke-3 akan dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2017 di Pretoria, Afsel.
  5. Afsel merupakan satu-satunya negara Afrika yang memiliki kesepakatan Kemitraan Strategis dengan Indonesia, suatu kemitraan yang disepakati melalui Joint Declaration on a Strategic Partnership for a peaceful and Prosperous Future Between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of South Africa pada 17 Maret 2008. Sejak 2014, kedua Menlu menyetujui untuk membentuk Plan of Action (PoA) Kemitraan Strategis yang berlaku selama 5 tahun dan telah ditandatangani di hadapan kedua Kepala Negara pada waktu Kunjungan Kenegaraan Presiden Jacob Zuma ke Indonesia pada Maret 2017.


 IV.  PERBANDINGAN AFRIKA SELATAN DENGAN  INDONESIA

PembandingIndonesiaAfrika Selatan
Luas Wilayah 1.904.569 km21.219.090 km²
Penduduk

257,56juta jiwa (2015)

*World Bank

54,95 juta jiwa (2015)

*World Bank

GDP Per Kapita

USD 3.346,5(2015)

*World Bank

USD 5.691,7(2015)

*World Bank

GDP Nominal

USD 861,93 milyar (2015)

*World Bank

USD 312,79 milyar (2015)

*World Bank

Cadangan Devisa

USD 103,26 milyar (2015)

*World Bank

USD 41,62 milyar (2015)

*World Bank

Foreign Direct Investment

USD 15,5 milyar (2015)

*World Bank

USD 1,57 milyar (2015)

*World Bank

Total Perdagangan Internasional

USD 292,98 milyar (2015)

*International Trade Center

USD 149,22milyar (2015)

*International Trade Center

 

V.   PERKEMBANGAN TERKINI AFRIKA SELATAN

KEBIJAKAN LUAR NEGERI

  1. Kementerian Luar Negeri Afsel (DIRCO) telah mengeluarkan dokumen Rencana Strategis Periode 2013-2018 yang menjelaskan berbagai kebijakan hubungan internasional Afsel selama periode tersebut. Terdapat sejumlah strategi yang menjadi landasan tugas pokok dan fungsi DIRCO dalam periode 2013-2018, yang terdiri dari dua program utama sebagai berikut:

      aHubungan internasional

      Penguatan hubungan ekonomi dan politik bertujuan:

    • Memperkuat hubungan bilateral melalui kesepakatan ekonomi dan politik di berbagai kawasan di dunia  
    • Meningkatkan promosi Trade, Tourism and Investment (TTI) Afsel
    • Mengedepankan konsep marketing dan branding yang menampilkan Afsel sebagai negara demokratis yang stabil, tujuan investasi yang aman, dan mitra dagang yang bisa diandalkan
    • Mendukung program yang ada untuk berbagai kawasan antara lain Afrika, Amerika dan Karibia, Asia dan Timur Tengah serta Eropa.

​      bKerja sama Internasional 

      Partisipasi dalam Sistem Pemerintahan Global bertujuan:

    • Melanjutkan peran dan partisipasi aktif dalam fora multilateral termasuk PBB dan seluruh organ bagiannya
    • Mengedepankan prinsip damai untuk penyelesaian konflik internasional yang sesuai Piagam PBB dan hukum internasional
    • Mendukung realisasi nyata dari strategi, rencana aksi, komitmen yang telah disepakati dalam forum besar PBB untuk mencapai international development goals (IDGs) termasuk Millennium Development Goals (MDGs)  

      2. Dalam kerja sama kawasan, Afsel memperkuat integrasi politik dan ekonomi Southern African Development Community                    (SADC) dengan tujuan:

    • Mengedepankan agenda integrasi pembangunan Afrika bagian selatan termasuk di dalamnya antara lain integrasi perdagangan, pembangunan infrastruktur, dan koordinasi kebijakan antar-sektor
    • Memperkuat kohesi politik SADC

      3. Selain itu, Afsel juga memperkuat hubungan Selatan-Selatan dengan tujuan, yaitu:

    • Memajukan penguatan kerja sama Selatan-Selatan
    • Mendukung agenda besar Selatan-Selatan di berbagai fora​​​
POLITIK

  1. Sejak berakhirnya era apartheid pada April 1994, Afsel telah menganut sistem politik presidensial multi-partai. Mayoritas penduduk Afsel yang merupakan warga kulit hitam, masih memiliki trauma terhadap rezim apartheid di masa lampau. Masyarakat kulit hitam di Afsel selama ini memberikan dukungan yang besar kepada ANC (African National Congress) sebagai partai politik yang pernah dipimpin oleh Nelson Mandela dengan warisan yang telah membawa Afsel terlepas dari rezim apartheid.
  2. ​Meskipun dengan tingkat dukungan yang menurun, Pemilu Afsel yang dilaksanakan pada 7 Mei 2014 berhasil memenangkan kembali partai ANC (dengan perolehan suara sebesar 62,15%) untuk memimpin kembali Parlemen dan Pemerintahan Afsel. Berdasarkan konstitusi, Ketua partai pemenang Pemilu berhak menjabat sebagai Presiden Afsel untuk masa lima tahun. Dengan menguasai parlemen secara mayoritas dan memegang jabatan Presiden, dapat diperkirakan ANC cukup leluasa menjalankan kebijakan serta program politik dan ekonomi dalam dan luar negeri Afsel.
  3. Dalam Pemilu Tingkat Provinsi dan Nasional yang dilaksanakan tanggal 7 Mei 2014 di atas, terdapat 200 partai politik yang mendaftar namun hanya 33 partai yang memenuhi syarat untuk mengikuti Pemilu. Selain ANC, terdapat 12 partai lain yang memperoleh kursi di Parlemen, utamanya Democratic Alliance (DA), Economic Freedom Fighters (EFF), Inkatha Freedom Party dan National Freedom Party. Partai DA dan EFF menjadi oposisi utama ANC dengan masing-masing memperoleh 22,23% dan 6,35% suara.
  4. Pasca wafatnya mantan Presiden Nelson Mandela, partai ANC sudah mulai mengalami “keretakan” di tubuh partai karena kehilangan figur penting ANC. Jacob Zuma, Presiden Afsel saat ini yang juga sebagai ketua partai ANC dianggap belum dapat menjadi sosok pemimpin yang diharapkan. Hal ini, antara lain, karena Presiden Zuma diduga terlibat dalam berbagai kasus korupsi, terutama kasus pembangunan kediaman pribadi Zuma di Nkandla, Kwazulu-Natal yang ditengarai menggunakan anggaran negara sebesar Rand 246 juta (equivalent USD 24,6 juta). Selain itu banyak tokoh ANC lainnya mendapatkan tuduhan melakukan tindak korupsi, kolusi dan nepotisme.
  5. Sementara itu, dukungan terhadap partai petahana nampak semakin berkurang, ditandai dengan penurunan drastis jumlah suara yang diperoleh ANC pada Pemilu Pemerintahan Lokal pada bulan Agustus 2016. Berdasarkan data resmi dari Komisi Pemilu Afrika Selatan, total suara ANC mengalami penurunan sebesar 8,04%, yaitu dari 61,95% di tahun 2011 menjadi 53,91% tahun 2016. Hal ini diperkirakan akibat perpecahan internal partai dan merosotnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan ANC. 
  6. Situasi ini menyebabkan ANC kehilangan kekuasaannya di beberapa daerah. Partai oposisi terbesar, Democratic Alliance (DA), yang sebelumnya hanya memerintah atas satu metropolitan municipality saja (Cape Town/ibukota legislatif) saat ini telah berhasil merebut kepemimpinan atas tiga kota penting lainnya, yaitu Tshwane (Pretoria/ibukota administratif), Johannesburg dan Nelson Mandela Bay. Dalam membangun kekuatannya ini, DA membentuk koalisi dengan beberapa partai oposisi lain, utamanya Economic Freedom Fighters (EFF) yang dipimpin oleh mantan pemimpin sayap pemuda ANC.
  7. Tahun 2017 merupakan tahun terakhir bagi Zuma untuk menjabat Presiden ANC. Sejak 2014, Presiden Zuma telah menegaskan tidak akan maju kembali pada tahun 2017 dan akan memberikan kesempatan kepada kader penerus lain. Hingga saat ini, terdapat dua kandidat yang diperkirakan akan bersaing pada Konferensi Nasional ANC akhir tahun ini untuk menggantikan Jacob Zuma sebagai presiden partai, yaitu Deputi Presiden Afrika Selatan (dan juga ANC), Cyril Ramaphosa, dan Mantan Ketua Komisi Uni Afrika, Nkosazana Dlamini-Zuma. Dengan pencalonan ini, diperkirakan ANC akan semakin terbagi secara internal dengan masing-masing kubu mendukung kandidat presidennya.
  8. Dalam pidato tahunan/State of the Nation Address (SONA) tanggal 9 Februari 2017 di Cape Town, Presiden Zuma menyampaikan sejumlah kebijakan luar negeri. Termasuk dalam hal ini, peran Afrika Selatan sebagai Ketua Southern African Development Community (SADC), yang beranggotakan 14 negara, dimulai pada bulan Agustus 2017 serta partisipasi Afsel dalam upaya mediasi, operasi pemeliharaan perdamaian dan inisiatif penciptaan perdamaian di beberapa negara Afrika (Kerajaan Lesotho, Republik Demokratik Kongo, Burundi, Mozambik, Sudan Selatan, Somalia dan Libya) melalui kehadiran South African Nasional Defence Force.
  9. Presiden Zuma juga menyampaikan komitmen Afrika Selatan atas  One China Policy sekaligus menegaskan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagai mitra kerjasama penting  bagi Afrika Selatan. Terkait isu Palestina, disampaikan bahwa pendudukan Israel atas Palestina telah menginjak tahun ke-50 pada tahun 2017. Pemerintah Afrika Selatan berpandangan bahwa ekspansi pembangunan Israel tidak sejalan dengan upaya global untuk mewujudkan solusi dua negara dan Oslo Accord. Dengan semangat yang sama, Presiden Zuma juga mengharapkan kiranya penerimaan kembali keanggotaan Maroko di Uni Afrika dapat menjadi katalis bagi penyelesaian isu Sahara Barat.
  10. Hingga tahun 2016, isu xenophobia masih belum hilang dari kalangan masyarakat Afsel. Pada 20-23 Juni 2016 gelombang kerusuhan melanda Kota Tshwane, dipicu oleh ketidakpuasan politik di internal ANC, namun melebar kepada penjarahan took-toko dan penyerangan warga asing seperti WN Somalia, Nigeria dan Pakistan. Sejak apartheid berakhir pada tahun 2004, peristiwa-peristiwa xenophobia seperti insiden pembunuhan dan perusakan properti orang asing justru meningkat. Salah satu insiden yang terkenal adalah Kerusuhan Mei 2008 yang menewaskan 62 orang, kerusakan properti milik imigran dan migrasi besar-besaran pendatang asing.
  11. Xenophobia di Afsel umumnya ditargetkan pada pendatang atau pengungsi dari kawasan Afrika seperti Somalia, Nigeria, Zimbabwe, Mozambik dan dari Asia Selatan, terutama Pakistan dan Bangladesh. Afsel menjadi tujuan utama para pengungsi dan pendatang dengan motif ekonomi yang mencapai 2,2 juta (2011). Jumlah ini ditambah dengan pendatang ilegal yang diperkirakan sebanyak 500.000 orang.


EKONOMI

  1. Afsel merupakan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di kawasan Afrika, dengan PDB sebesar USD 314,6  milyar (2015) yang mencakup 20% dari total keseluruhan benua Afrika setelah Nigeria dan Mesir. Afsel juga mendapat predikat upper-middle income country dari Bank Dunia. Berdasarkan analisa IMF, pertumbuhan ekonomi di Afrika Selatan pada tahun 2016 secara keseluruhan mencapai 0,5%. Hal ini merupakan penurunan dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2015 yang mencapai 1,3%. Pada tahun 2017 dan 2018, IMF memperkirakan pertumbuhan sebesar masing-masing 0,8% dan 1,6%. Sementara itu, di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi bertumbuh sebesar 2,7%, Bank Dunia memproyeksikan Afsel hanya akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 0,6% (2017), 1,1% (2018) dan 2% (2019). Prediksi tersebut masih berada di bawah proyeksi South Africa Reserve Bank (SARB), yaitu sebesar 1,0% (2017), 1,5% (2018) dan 1,7% (2019).
  2. Faktor yang mempengaruhi rendahnya proyeksi tersebut adalah merosotnya tingkat kepercayaan investor kepada Afsel sebagai dampak dari penurunan peringkat sovereign credit yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings dan Fitch Ratings setelah Presiden Jacob Zuma melakukan pergantian Menteri Keuangan pada bulan April 2017. Dalam laporan Global Economic Prospectus yang berjudul "A Fragile Recovery", Bank Dunia berulang kali menekankan tentang ketidakpastian situasi politik dan kebijakan di Afsel yang akan membebani sektor investasi.
  3. Pada bulan Juni 2017, Afsel telah menyusul 2 (dua) negara BRICS, Brazil dan Rusia kembali masuk ke dalam kondisi resesi untuk pertama kalinya sejak tahun 2009. Lembaga statistik Afsel, Stats SA dalam laporannya pada hari Selasa, 6 Juni 2017 menyatakan bahwa perekonomian Afsel pada kuartal pertama 2017 telah mengalami kontraksi sebesar 0,7%, menyusul kontraksi sebesar 0,3% yang terjadi pada kuartal terakhir 2016. 
  4. Kontraksi ini gagal diprediksi oleh Afsel, mengingat pada Budget Review 2017 pada awal tahun 2017, Afsel memproyeksikan akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 1,3%. Kondisi resesi ini langsung berdampak pada menurunnya nilai mata uang Rand sebesar 1% menjadi Rand 12.81 per USD 1.
  5. Menurunnya GDP pada mayoritas sektor Afsel, terutama pada pada sektor trade dan manufacturing menjadi penyebab utama terjadinya kontraksi. Pertumbuhan positif hanya dilaporkan terjadi pada dua sektor, yaitu mining dan agriculture. Analis ekonomi juga menyebutkan ketidakpastian situasi politik menjadi salah satu alasan utama terjadinya kontraksi, terutama menjelang Konferensi Nasional Partai ANC, dimana pengganti Presiden Zuma sebagai ketua Partai ANC akan dipilih pada bulan Desember. Apabila kontraksi ini terus berlanjut di kuartal kedua, diprediksi akan menyebabkan terjadinya penurunan GDP, peningkatan angka pengangguran (saat ini telah mencapai 27%), dan memperbesar resiko penurunan kembali status investasi Afsel.
  6.  Pemulihan kekuatan ekonomi Afsel diprediksi akan lemah, mengingat kegagalan panen akibat kekeringan pada tahun 2016, serta meningkatnya harga komoditas ekspor utama Afsel. Sementara itu, industri manufaktur Afsel juga diprediksi akan melemah pada bulan Juni 2017, setelah mengalami kenaikan sejak bulan Oktober 2016. Penurunan ini ditandai dengan penurunan new orders, tingkat employment, dan stock of purchases.
  7. Nilai investasi akan mengalami penurunan sebesar 2% pada tahun 2017. Namun demikian, hal tersebut juga diperkirakan akan kembali naik sebesar 1.5% pada tahun 2018. Pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan akan terus melemah pada 2017 diprediksi akan kembali memguat pada pada tahun 2018, dikarenakan oleh kenaikan konsumsi privat dan nilai ekspor yang didukung oleh pemulihan harga komoditas dan pertumbuhan di pasar ekspor.
  8. Pengangguran dan ketidaksetaraan di Afsel akan tetap tinggi, sebagai cermin dari kesenjangan keterampilan yang besar dan rendahnya kualitas pendidikan. Nilai inflasi Afsel juga diprediksi akan tetap tinggi, dikarenakan oleh depresiasi mata uang Rand dan kenaikan harga pangan.
  9. Menurut data yang dikeluarkan oleh South African Revenue Service (SARS) pada bulan Maret 2017, terdapat peningkatan surplus neraca perdagangan sebesar 5.2 miliar Rand, menjadi 11.44 miliar Rand dibandingkan dengan data pada bulan Februari 2017. Lebih lanjut, pada kuartal pertama 2017 tercatat peningkatan surplus neraca perdagangan sebesar 4.98 miliar Rand dibandingkan dengan defisit 24.27 miliar Rand pada periode yang sama tahun 2016. Data ini termasuk data perdagangan dengan Botswana, Lesotho, Namibia dan Swaziland (BLNS), dimana total ekspor mencapai 101.23 miliar Rand, dengan impor sebesar 89.79 miliar Rand.
  10. Lebih lanjut, SARS juga melaporkan adanya peningkatan ekspor sebesar 16% atau sebesar 13.96 miliar Rand, pada kurun waktu Februari 2017 hingga Maret 2017. Sementara nilai impor juga tercatat meningkat sebesar 8,9% atau 7.32 miliar Rand.
  11. Untuk kuartal pertama 2017, nilai ekspor tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 8% menjadi 268.68 miliar Rand, dari nilai 248.72 miliar Rand yang dilaporkan pada 2016. Namun nilai impor tercatat mengalami penurunan sebesar 3,4% menjadi 263.71 miliar Rand pada periode yang sama tahun lalu.
  12. Produk ekspor utama Afrika Selatan adalah logam mulia dan batu, diikuti oleh kendaraan, peralatan transportasi, mesin-mesin dan peralatan elektronik. Sementara impor utama Afrika Selatan diantaranya adalah mesin-mesin, peralatan elektronik, kendaraan serta peralatan transportasi.
  13. Mitra ekspor terbesar Afrika Selatan adalah Asia, dengan nilai ekspor sebesar 30 miliar Rand, diikuti oleh Afrika dengan 27 miliar Rand, kemudian Eropa dengan 26 miliar Rand, dan terakhir, Amerika yang berjumlah lebih dari 8 miliar Rand. Sementara itu, mitra impor terbesar Afrika Selatan adalah Asia, dengan nilai impor 35 miliar Rand, diikuti oleh Eropa dengan nilai impor 32 miliar Rand.
  14. Afsel merupakan anggota Southern African Custom Union (SACU). Dibawah SACU, Afsel bersama dengan Botswana, Lesotho, Namibia dan Swaziland menerapkan kebijakan common external tariff sehingga kebijakan tarif eksternal SACU harus dirundingkan dulu dengan lima negara anggota. Selain itu, Afsel juga menjadi anggota Southern Africa Development Community (SADC), yang pada tahun 2008 meluncurkan SADC FTA dalam rangka perwujudan perdagangan bebas tarif.
  15. Tantangan-tantangan yang dihadapi pemerintah Afrika Selatan dalam memperbaiki perekonomian antara lain: 
    • kekurangan pasokan listrik,
    • kekurangan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan pasar,
    • tingkat pengangguran yang tinggi (27,1 % pada tahun 2016),  
    • seringnya pemogokan buruh
    • menurunnya global competitiveness (peringkat ke-47)
    • tingginya kesenjangan pendapatan (Gini ratio: 0.63%)
    • kekeringan dalam 2 tahun terakhir yang menyebabkan turunnya produksi pertanian​
  16. Dalam pidato tahunan tanggal 9 Februari 2017 di Cape Town, Presiden Zuma menyampaikan perkiraan pertumbuhan ekonomi Afrika Selatan pada tahun 2017 akan mengalami peningkatan sebesar 1.3% dari 0.5% pada tahun 2016. Namun demikian, pemerintah juga menyadari terjadinya peningkatan tingkat pengangguran, yang mencapai 27,1% (tertinggi sejak resesi tahun 2009), serta ancaman turunnya investment-grade credit rating dari S&P Global Ratings and Fitch Ratings. Lembaga Pemeringkat Kredit Internasional pada bulan Mei 2017 telah memberikan penilaian “junk status” kepada Afsel. Moody’s Investors Service memberikan nilai sovereign credit Baa3 (negative outlook), Standard and Poor’s memberikan nilai sovereign credit BB+ (negative outlook), dan Fitch Ratings memberikan nilai sovereign credit BB+ (stable outlook). 
  17. Terkait kebijakan economic transformation, sejumlah pihak berpandangan bahwa kebijakan dimaksud akan sulit dilaksanakan, megingat perubahan struktur dan sistem ekonomi melalui regulasi dan legislasi hanya akan efektif dalam mengubah sistem ownership dari warga kulit putih ke warga kulit hitam. Namun demikian, perubahan tersebut tidak serta merta akan mengatasi berbagai permasalahan dalam negeri di Afrika Selatan. Sebaliknya, yang perlu dilakukan adalah peningkatan kapasitas pemerintahan dalam mengelola surplus ekonomi menjadi pembangunan ekonomi di sektor riil, yang didukung oleh situasi politik yang kondusif.​ 
  18. Pada awal tahun 2017, Afrika Selatan telah meluncurkan program Invest SA-One Stop Shop untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi penanam modal dengan mengurangi jalur birokrasi dan administrasi dalam pengurusan ijin usaha. Invest SA akan berada dibawah Departemen Perdagangan dan Industri (DTI) dan akan diluncurkan di seluruh Afrika Selatan selama tiga tahun ke depan.​
  19. Investasi di sektor pertambangan terbaru dilakukan oleh perusahaan pertambangan Interalloys Trading Ltd. bersama dengan Onicaster Pty. Ltd sebesar 675 juta Rand untuk pertambangan bijih besi pada Rooinekke Iron Ore Project di kota Griekwastad, Provinsi Northern Cape. Penanaman modal tersebut diperkirakan dapat menyerap sebanyak 150 tenaga kerja. Selain itu, sepanjang 2017-2019, Interalloy Lyd. juga berencana menginvestasikan sebesar 428 juta Rand bagi pembangunan rel kereta api, sebesar 80 juta Rand untuk tambang Rooinekke, dan 167 Rand untuk investasi lainnya di provinsi Northern Cape.​

 SOSIAL BUDAYA​   

  1. Afsel merupakan negara yang menyatakan diri sebagai Rainbow Nation mengingat latar belakang dan komposisi masyarakatnya yang beranekaragam. Istilah Rainbow Nation dicetuskan oleh mantan presiden kulit hitam pertama Afsel yaitu mendiang Nelson Mandela yang mengutamakan rekonsiliasi dan persatuan bangsa pasca rezim apartheid.​
  2. Masyarakat Afsel memberikan penghormatan yang tinggi kepada mendiang Nelson Mandela dengan menyebutnya sebagai Father of the Nation dan juga meneladani falsafah Nelson Mandela yaitu Ubuntu yang merupakan konsep semangat persatuan dan keselarasan dalam hidup bersosialisasi serta dalam menjaga nilai-nilai demokrasi.​
  3. Pemerintahan Afsel yang saat ini dipimpin oleh ANC masih belum bisa menyelesaikan beberapa masalah utama rakyat Afsel yakni masalah mutu pendidikan, tingkat pengangguran yang cukup tinggi, kesetaraan gender, penurunan angka kemiskinan, pemerataan pemilikan tanah pertanian dan kesetaraan kesejahteraan bagi masyarakat kulit hitam. ​
  4. Masalah kemiskinan, kesenjangan sosial dan penyakit HIV/AIDS menjadi salah satu isu utama dalam negeri Afsel, khususnya bagi warga Afsel kulit hitam. Sekitar 60% warga kulit hitam Afsel masih berada di bawah garis kemiskinan dan 20% populasinya terjangkit HIV/AIDS.  Afsel juga mengalami kekeringan terparah sepanjang 2016. Kondisi kekeringan ekstrim ini telah membuat kering banyak bendungan dan menghancurkan sektor pertanian. Departemen Perairan dan Sanitasi di pertengahan tahun 2016 telah memberlakukan pembatasan penyediaan air di beberapa wilayah kotapraja Johannesburg, yaitu pengurangan kuota sebanyak 15% bagi konsumen domestik dan 20% untuk komunitas petani. Pembatasan tersebut akan berlangsung hingga akhir tahun hidrologi pada bulan Mei tahun 2017.​
    • ​​​​​Gerakan Protes Mahasiswa​ 
  5. ​​​​Dunia pendidikan tinggi Afrika Selatan dilanda protes mahasiswa berskala nasional sepanjang tahun 2016. Protes tersebut diawali oleh tuntutan mahasiswa (umumnya mahasiswa kulit hitam) yang menuntut dihapuskannya simbol-simbol apartheid di seluruh perguruan tinggi Afsel. Simbol-simbol dimaksud termasuk patung-patung tokoh kulit putih Afsel dan penggunaan bahasa Afrikaans sebagai bahasa pengantar perkuliahan. Protes ini telah memicu ketegangan antara siswa kulit hitam dan kulit putih. Tuntutan penghapusan bahasa Afrikaans sebagai bahasa pengantar perkuliahan telah dipenuhi oleh pihak universitas dengan penetapan bahasa Inggris sebagai bahasa utama pengantar perkuliahan​ 
  6. Protes tersebut kemudian berlanjut menjadi protes untuk menuntut dihapuskannya biaya perkuliahan yang dikenal sebagai gerakan #FeesMustFall. Protes #FeesMustFall berlangsung dalam sekala nasional dan telah menghentikan kegiatan perkuliahan di tahun akademik 2016 untuk waktu yang cukup lama. Protes ini juga kerap berujung pada tindak kekerasan dan pengrusakan fasilitas kampus. Di awal tahun 2017 aktivis mahasiswa menyatakan bahwa protes #FeesMustFall akan tetap berlanjut sampai dengan tuntutan dihapuskannya biaya perkuliahan dipenuhi oleh Pemerintah Afsel.
  7. Dalam pidato tahunan Presiden Zuma tanggal 9 Februari 2017 di Cape Town, terlihat pemerintah berupaya meredam berbagai tuntutan yang diajukan oleh rakyat Afrika Selatan dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Secara khusus, pemerintah berupaya meredam aksi protes mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan gratis. Pemerintah menyadari bahwa keuangan pemerintah tidak memungkinkan untuk memenuhi tuntutan tersebut yang akan membebani keuangan Negara dan menyebabkan pemerintah tidak mampu mendanai program-program sosial lainnya terutama pengentasan kemiskinan. 
​​VI. KERJA SAMA POLITIK

Dialog Maritim Indonesia-Afrika 

  1. ​​Dalam rangka implementasi visi maritim Indonesia, Kemlu c.q. Dit. Afrika berencana untuk menyelenggarakan Dialog Maritim Indonesia-Afrika pada Agustus 2018. Dialog bertujuan untuk mempromosikan pembangunan kemaritiman Indonesia serta mendorong kerja sama konkret di bidang kemaritiman antara RI- Afrika Sub-Sahara. Dialog akan menghadirkan narasumber nasional dan internasional terkait kemaritiman dan dihadiri oleh Perwakilan Negara-negara Afrika Sub-Sahara di Jakarta.
  2. Adapun dialog maritim direncanakan setingkat pejabat senior dengan membahas penguatan penegakan hukum bagi kejahatan di laut. Termasuk dalam hal ini, illegal, unreported and regulated fishing, pencucian uang yang memanfaatkan aktivitas ilegal di laut dan isu perompak. Forum juga ditujukan untuk memperkuat norm-setting terhadap pidana perikanan, mekanisme pelacakan kapal dan perlindungan terhadap anak buah kapal. 
  3. Hubungan bilateral RI-Afsel yang selama ini terbina dengan baik, juga ditandai dengan saling kunjung antar dignitaries, antara lain, sbb:​
    ​Indonesia ke Afsel
    1. Presiden Soeharto (November 1997)
    2. Presiden Abdurrahman Wahid (April 2000)
    3. Presiden Megawati Soekarnoputri (September 2002)
    4. Wakil Presiden M. Jusuf Kalla (September 2005)
    5. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Maret 2008)
    6. Wamenlu RI A. M. Fachir (Februari 2016)
    7. Menlu Retno L.P. Marsudi (Februari 2017)

    Afsel ke Indonesia
    1. Presiden Nelson Mandela: 
    o 1990 (sebagai Ketua ANC);
    o September 1994;
    o Juli 1997;
    o 2002 (sebagai Mantan Presiden).
    2. Presiden Thabo Mbeki (April 2005)
    3. Deputi Presiden Phumzjle Mlambo-Ngcuka (April 2006)
    4. Wakil Presiden Cyril Ramaphosa (April 2015)
    5. Menlu Maite Nkoana-Mashabane (April 2015 dan Agustus 2016)
    6. Presiden Jacob Zuma (Maret 2017)
  4. Kemajuan dalam hubungan bilateral RI-Afsel juga ditandai dengan kerja sama saling dukung di berbagai organisasi internasional sebagai berikut:
    a. Postal Operations Council  dari Universal Postal Union (2013-2016)
    b. International Telecommunication Union (2014-2018) 
    c. Dewan HAM PBB (2016-2017)
    d. Dewan International Maritime Organization (IMO) Kategori C
    e. International Law Commission​
  5. Dalam pertemuan Menlu RI dengan Menlu Maite Nkoana-Mashabane di sela-sela World islamic Economic Forum ke-12 di Jakarta, Agustus 2016, kedua Menlu sepakat untuk:

a.  menjajaki jadwal pertemuan ke-2 SKB di Afsel sebelum akhir tahun 2016 (telah dilaksanakan pada bulan        Februari 2017 di Cape Town, Afsel).

b. menyelesaikan sejumlah kesepakatan yang pending termasuk Perjanjian Bebas Visa Pemegang Paspor              Diplomatik dan Dinas.

c. selain itu, Menlu RI juga menyampaikan tentang peningkatan aktivitas lobi separatis Papua di Afsel dan            mendapat tanggapan positif Menlu Afsel.

6.