GAMBARAN SINGKAT PERKEMBANGAN TERKINI AFRIKA SELATAN DAN HUBUNGAN BILATERAL RI – AFRIKA SELATAN

​​​BENDERA AFSEL.jpg


​​ 


DAFTAR ISI

                                        I.      Profil negara ...................................................................................................         

                                        II.     Hubungan bilateral RI-Afsel ...........................................................................

                                        III.    Gambaran umum hubungan bilateral RI-Afsel.................................................

                                        IV.    Perbandingan Afsel-RI.....................................................................................

                                        V.     Perkembangan terkini Afsel..............................................................................

                                                Kebijakan luar negeri......................................................................................

                                                Politik.............................................................................................................

                                                Ekonomi.........................................................................................................         

                                                Sosial budaya.................................................................................................

                                         VI.   Kerja sama politik.............................................................................................

                                         VII.  Kerja sama ekonomi..........................................................................................

                                         VIII. Kerja sama sosial budaya        

I.     PROFIL NEGARA

Negara
:

Republic of South Africa/Republik Afrika Selatan
Ibu kota:
Pretoria (Administratif/Eksekutif), Cape Town (Legislatif), Bloemfontein (Yudikatif)
Hari Nasional:27 April
Kepala Negara/Pemerintahan :Presiden Cyril Ramaphosa
(sejak 15 Februari 2018)
Menteri Luar Negeri:Lindiwe Sisulu (Februari 2018)
Duta Besar Indonesia di Pretoria 
Duta Besar Afsel di Jakarta Dr. Hilton Fisher (2018)
Bahasa Nasional:Inggris, IsiXhosa, IsiZulu, Afrikaans, Ndebele, Sotho Utara, Sotho, Swazi, Tsonga, Venda dan Setswana
Agama:Protestan (36,6%), Katolik (7,1%), Muslim (1,5%), lain-lain (2,3%)
Luas Wilayah:

Darat: 1.214.470 Km2

Perairan: 4.620 Km2

Penduduk:56,52  juta jiwa (estimasi pertengahan tahun 2017 Biro Statistik Afrika Selatan)
GDP:USD 312,79 milyar (2015, World Bank); USD 350,1 Milyar (2014)
Income per kapita:USD 5.691,7 (2015, World Bank)
Pertumbuhan GDP1,3% (2015, World Bank)
Cadangan Devisa:USD 41,62 milyar (2015, World Bank)
Industri Unggulan :Platinum, emas dan chrominium (terbesar di dunia), besi dan baja, kimia, pupuk, dan produk makanan
Komoditas Ekspor:Emas, berlian, platinum, bahan tambang, mesin-mesin
Negara Mitra Utama Ekspor:RRT, AS, Jepang, Botswana dan Jerman
Komoditas Impor:Bahan kimia, produk migas, alat-alat iptek, bahan pangan
Negara Mitra Utama Impor:RRT, Jerman, Arab Saudi, AS, Nigeria dan India

​ 

II. HUBUNGAN BILATERAL RI-AFRIKA SELATAN

Hubungan Diplomatik
:

Sejak 12 Agustus 1994 (22 tahun)

 

Data Perdagangan RI – Afsel

(Menurut Kemdag RI)

:

Volume Perdagangan RI-Afsel

Tahun 2015

USD 898 juta

 

Tahun 2016 (Jan-Okt)

USD  860.4 juta

Ekspor RI ke Afsel


Tahun 2015

USD 666,12 juta

 

Tahun 2016 (Jan-Okt)

USD 632.4 juta

Impor RI dari Afsel

Tahun 2015

USD 231,94 juta

 

Tahun 2016 (Jan-Okt)

USD 228 juta

 

Neraca Perdagangan RI-Afsel Tahun 2015

Surplus USD 434,18 juta

 

Tahun 2016 (Jan-Okt

Surplus USD 404.4 juta

 

 

 

2014

USD 1,87 milyar

 

 

 

 

 

2014

USD 1,379milyar

 

 

 

 

 

2014

USD 488,49 juta

 

 

 

 

 

2014

Surplus USD 881,01 juta

 

Investasi Indonesia ke Afsel

 

:n/a
Investasi Afsel di Indonesia:USD 1,8 juta (BKPM, 2015)

Ekspor Utama RI ke Afsel

(Kemdag RI)

 ​

:Kendaraan bermotor, karet, alas kaki, ban dan kertas

Impor Utama RI dari Afsel

(Kemdag RI)

 

:Bubur kayu (pulp), gula, alumunium, besi, baja, kapas, dan mesin-mesin
Jumlah WNI di Afsel:242 orang (KBRI Pretoria: Januari 2016)

III.  GAMBARAN UMUM HUBUNGAN BILATERAL RI – AFRIKA SELATAN

  1. ​​​​​​​​​Hubungan diplomatik RI-Afsel dibuka oleh Wakil Tetap (Watap) RI dan Watap Afsel di New York dengan ditandatanganinya​Joint Communique Pembukaan Hubungan Diplomatik pada tanggal 12 Agustus 1994. Sebelum itu, Indonesia dan Afsel telah menyetujui pembukaan hubungan konsuler yang mulai berlaku sejak tanggal 10 Februari 1994. Sejak 12 Agustus 1994, LORI – Liaison Office of the Republic of Indonesia di Pretoria telah berubah statusnya menjadi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Sementara pemerintah Afsel secara resmi membuka kantor perwakilannya di Jakarta pada 17 Januari 1995.
  2. Hubungan bilateral RI-Afsel berlangsung dengan baik, yang antara lain, ditandai dengan saling kunjung antar pejabat tinggi negara dan kerja sama dalam kerangka multilateral, terutama PBB, GNB dan G20.
  3. ​Pemerintah Afsel memandang Indonesia sebagai bangsa yang memiliki ikatan sejarah yang erat dengan bangsa Afsel. Pemerintah Afsel juga senantiasa mengingat dan sangat menghargai peranan Pemerintah Indonesia yang di masa lalu secara konsisten mendukung perjuangan rakyat Afsel menentang pemerintah Apartheid. Hal ini ditandai dengan kehadiran wakil dari African National Congress (ANC), Mosen Kotane dan Moulvi Cachalia, sebagai observer pada KTT Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung. 
  4. Nelson Mandela sebagai tokoh ANC dan Presiden pertama Afrika Selatan pasca-Apartheid (1994-1999) mempunyai special attachment pada Indonesia. Mandela telah berkunjung ke Indonesia sebanyak empat kali (1990, 1994, 1997 dan 2002). Mandela juga dikenal sebagai tokoh dunia yang secara tidak langsung memperkenalkan batik yang terkenal dengan sebutan Madiba Shirt di Afrika Selatan.

      A. Mekanisme bilateral 

  1. Indonesia dan Afsel memiliki mekanisme konsultasi bilateral berupa Sidang Komisi Bersama (SKB), Joint Trade Committee (JTC) dan telah menandatangani sejumlah Perjanjian dan MoU di berbagai bidang: i) Pembentukan SKB; ii). Pembentukan Joint Trade Committee; iii). Perdagangan; iv). Pertanian; v). Pertahanan; vi). UKM; vii). Budaya; viii). Transaksi keuangan; ix). Perhubungan Udara; x). Perpajakan; xi) Ristek; xii). Pengembangan Kebijakan.
  2. SKB ke-1 pada tingkat Senior Official Meeting (SOM) diselenggarakan di Batam, Indonesia tanggal 25–26 Februari 2008. Dalam Draft Pembaruan MoU Pembentukan SKB RI-Afsel, kedua pihak sepakat untuk meningkatkan status SKB tersebut dari Tingkat SOM menjadi Tingkat Menlu.
  3. Pada pertemuan bilateral Menlu RI-Menlu Afsel tanggal 6 Februari 2017 di Cape Town, disepakati bahwa pertemuan tersebut merupakan SKB ke-2 kedua negara.   
  4. Sementara itu, Joint Trade Committee (JTC) telah dilaksanakan dua kali pada tahun 2006 di Afsel dan tahun 2012 di Indonesia. Pertemuan JTC ke-3 akan dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2017 di Pretoria, Afsel.
  5. Afsel merupakan satu-satunya negara Afrika yang memiliki kesepakatan Kemitraan Strategis dengan Indonesia, suatu kemitraan yang disepakati melalui Joint Declaration on a Strategic Partnership for a peaceful and Prosperous Future Between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of South Africa pada 17 Maret 2008. Sejak 2014, kedua Menlu menyetujui untuk membentuk Plan of Action (PoA) Kemitraan Strategis yang berlaku selama 5 tahun dan telah ditandatangani di hadapan kedua Kepala Negara pada waktu Kunjungan Kenegaraan Presiden Jacob Zuma ke Indonesia pada Maret 2017.


 IV.  PERBANDINGAN AFRIKA SELATAN DENGAN  INDONESIA

PembandingIndonesiaAfrika Selatan
Luas Wilayah 1.904.569 km21.219.090 km²
Penduduk

257,56juta jiwa (2015)

*World Bank

54,95 juta jiwa (2015)

*World Bank

GDP Per Kapita

USD 3.346,5(2015)

*World Bank

USD 5.691,7(2015)

*World Bank

GDP Nominal

USD 861,93 milyar (2015)

*World Bank

USD 312,79 milyar (2015)

*World Bank

Cadangan Devisa

USD 103,26 milyar (2015)

*World Bank

USD 41,62 milyar (2015)

*World Bank

Foreign Direct Investment

USD 15,5 milyar (2015)

*World Bank

USD 1,57 milyar (2015)

*World Bank

Total Perdagangan Internasional

USD 292,98 milyar (2015)

*International Trade Center

USD 149,22milyar (2015)

*International Trade Center

 

V.   PERKEMBANGAN TERKINI AFRIKA SELATAN

KEBIJAKAN LUAR NEGERI

  1. Kementerian Luar Negeri Afsel (DIRCO) telah mengeluarkan dokumen Rencana Strategis Periode 2013-2018 yang menjelaskan berbagai kebijakan hubungan internasional Afsel selama periode tersebut. Terdapat sejumlah strategi yang menjadi landasan tugas pokok dan fungsi DIRCO dalam periode 2013-2018, yang terdiri dari dua program utama sebagai berikut:

      aHubungan internasional

      Penguatan hubungan ekonomi dan politik bertujuan:

    • Memperkuat hubungan bilateral melalui kesepakatan ekonomi dan politik di berbagai kawasan di dunia  
    • Meningkatkan promosi Trade, Tourism and Investment (TTI) Afsel
    • Mengedepankan konsep marketing dan branding yang menampilkan Afsel sebagai negara demokratis yang stabil, tujuan investasi yang aman, dan mitra dagang yang bisa diandalkan
    • Mendukung program yang ada untuk berbagai kawasan antara lain Afrika, Amerika dan Karibia, Asia dan Timur Tengah serta Eropa.

​      bKerja sama Internasional 

      Partisipasi dalam Sistem Pemerintahan Global bertujuan:

    • Melanjutkan peran dan partisipasi aktif dalam fora multilateral termasuk PBB dan seluruh organ bagiannya
    • Mengedepankan prinsip damai untuk penyelesaian konflik internasional yang sesuai Piagam PBB dan hukum internasional
    • Mendukung realisasi nyata dari strategi, rencana aksi, komitmen yang telah disepakati dalam forum besar PBB untuk mencapai international development goals (IDGs) termasuk Millennium Development Goals (MDGs)  

      2. Dalam kerja sama kawasan, Afsel memperkuat integrasi politik dan ekonomi Southern African Development Community                    (SADC) dengan tujuan:

    • Mengedepankan agenda integrasi pembangunan Afrika bagian selatan termasuk di dalamnya antara lain integrasi perdagangan, pembangunan infrastruktur, dan koordinasi kebijakan antar-sektor
    • Memperkuat kohesi politik SADC

      3. Selain itu, Afsel juga memperkuat hubungan Selatan-Selatan dengan tujuan, yaitu:

    • Memajukan penguatan kerja sama Selatan-Selatan
    • Mendukung agenda besar Selatan-Selatan di berbagai fora​​​
POLITIK

  1. Sejak berakhirnya era apartheid pada April 1994, Afsel telah menganut sistem politik presidensial multi-partai. Mayoritas penduduk Afsel yang merupakan warga kulit hitam, masih memiliki trauma terhadap rezim apartheid di masa lampau. Masyarakat kulit hitam di Afsel selama ini memberikan dukungan yang besar kepada ANC (African National Congress) sebagai partai politik yang pernah dipimpin oleh Nelson Mandela dengan warisan yang telah membawa Afsel terlepas dari rezim apartheid.
  2. ​Meskipun dengan tingkat dukungan yang menurun, Pemilu Afsel yang dilaksanakan pada 7 Mei 2014 berhasil memenangkan kembali partai ANC (dengan perolehan suara sebesar 62,15%) untuk memimpin kembali Parlemen dan Pemerintahan Afsel. Berdasarkan konstitusi, Ketua partai pemenang Pemilu berhak menjabat sebagai Presiden Afsel untuk masa lima tahun. Dengan menguasai parlemen secara mayoritas dan memegang jabatan Presiden, dapat diperkirakan ANC cukup leluasa menjalankan kebijakan serta program politik dan ekonomi dalam dan luar negeri Afsel.
  3. Dalam Pemilu Tingkat Provinsi dan Nasional yang dilaksanakan tanggal 7 Mei 2014 di atas, terdapat 200 partai politik yang mendaftar namun hanya 33 partai yang memenuhi syarat untuk mengikuti Pemilu. Selain ANC, terdapat 12 partai lain yang memperoleh kursi di Parlemen, utamanya Democratic Alliance (DA), Economic Freedom Fighters (EFF), Inkatha Freedom Party dan National Freedom Party. Partai DA dan EFF menjadi oposisi utama ANC dengan masing-masing memperoleh 22,23% dan 6,35% suara.
  4. Pasca wafatnya mantan Presiden Nelson Mandela, partai ANC sudah mulai mengalami “keretakan” di tubuh partai karena kehilangan figur penting ANC. Jacob Zuma, Presiden Afsel saat ini yang juga sebagai ketua partai ANC dianggap belum dapat menjadi sosok pemimpin yang diharapkan. Hal ini, antara lain, karena Presiden Zuma diduga terlibat dalam berbagai kasus korupsi, terutama kasus pembangunan kediaman pribadi Zuma di Nkandla, Kwazulu-Natal yang ditengarai menggunakan anggaran negara sebesar Rand 246 juta (equivalent USD 24,6 juta). Selain itu banyak tokoh ANC lainnya mendapatkan tuduhan melakukan tindak korupsi, kolusi dan nepotisme.
  5. Sementara itu, dukungan terhadap partai petahana nampak semakin berkurang, ditandai dengan penurunan drastis jumlah suara yang diperoleh ANC pada Pemilu Pemerintahan Lokal pada bulan Agustus 2016. Berdasarkan data resmi dari Komisi Pemilu Afrika Selatan, total suara ANC mengalami penurunan sebesar 8,04%, yaitu dari 61,95% di tahun 2011 menjadi 53,91% tahun 2016. Hal ini diperkirakan akibat perpecahan internal partai dan merosotnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan ANC. 
  6. Situasi ini menyebabkan ANC kehilangan kekuasaannya di beberapa daerah. Partai oposisi terbesar, Democratic Alliance (DA), yang sebelumnya hanya memerintah atas satu metropolitan municipality saja (Cape Town/ibukota legislatif) saat ini telah berhasil merebut kepemimpinan atas tiga kota penting lainnya, yaitu Tshwane (Pretoria/ibukota administratif), Johannesburg dan Nelson Mandela Bay. Dalam membangun kekuatannya ini, DA membentuk koalisi dengan beberapa partai oposisi lain, utamanya Economic Freedom Fighters (EFF) yang dipimpin oleh mantan pemimpin sayap pemuda ANC.
  7. Tahun 2017 merupakan tahun terakhir bagi Zuma untuk menjabat Presiden ANC. Sejak 2014, Presiden Zuma telah menegaskan tidak akan maju kembali pada tahun 2017 dan akan memberikan kesempatan kepada kader penerus lain. Hingga saat ini, terdapat dua kandidat yang diperkirakan akan bersaing pada Konferensi Nasional ANC akhir tahun ini untuk menggantikan Jacob Zuma sebagai presiden partai, yaitu Deputi Presiden Afrika Selatan (dan juga ANC), Cyril Ramaphosa, dan Mantan Ketua Komisi Uni Afrika, Nkosazana Dlamini-Zuma. Dengan pencalonan ini, diperkirakan ANC akan semakin terbagi secara internal dengan masing-masing kubu mendukung kandidat presidennya.
  8. Dalam pidato tahunan/State of the Nation Address (SONA) tanggal 9 Februari 2017 di Cape Town, Presiden Zuma menyampaikan sejumlah kebijakan luar negeri. Termasuk dalam hal ini, peran Afrika Selatan sebagai Ketua Southern African Development Community (SADC), yang beranggotakan 14 negara, dimulai pada bulan Agustus 2017 serta partisipasi Afsel dalam upaya mediasi, operasi pemeliharaan perdamaian dan inisiatif penciptaan perdamaian di beberapa negara Afrika (Kerajaan Lesotho, Republik Demokratik Kongo, Burundi, Mozambik, Sudan Selatan, Somalia dan Libya) melalui kehadiran South African Nasional Defence Force.
  9. Presiden Zuma juga menyampaikan komitmen Afrika Selatan atas  One China Policy sekaligus menegaskan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagai mitra kerjasama penting  bagi Afrika Selatan. Terkait isu Palestina, disampaikan bahwa pendudukan Israel atas Palestina telah menginjak tahun ke-50 pada tahun 2017. Pemerintah Afrika Selatan berpandangan bahwa ekspansi pembangunan Israel tidak sejalan dengan upaya global untuk mewujudkan solusi dua negara dan Oslo Accord. Dengan semangat yang sama, Presiden Zuma juga mengharapkan kiranya penerimaan kembali keanggotaan Maroko di Uni Afrika dapat menjadi katalis bagi penyelesaian isu Sahara Barat.
  10. Hingga tahun 2016, isu xenophobia masih belum hilang dari kalangan masyarakat Afsel. Pada 20-23 Juni 2016 gelombang kerusuhan melanda Kota Tshwane, dipicu oleh ketidakpuasan politik di internal ANC, namun melebar kepada penjarahan took-toko dan penyerangan warga asing seperti WN Somalia, Nigeria dan Pakistan. Sejak apartheid berakhir pada tahun 2004, peristiwa-peristiwa xenophobia seperti insiden pembunuhan dan perusakan properti orang asing justru meningkat. Salah satu insiden yang terkenal adalah Kerusuhan Mei 2008 yang menewaskan 62 orang, kerusakan properti milik imigran dan migrasi besar-besaran pendatang asing.
  11. Xenophobia di Afsel umumnya ditargetkan pada pendatang atau pengungsi dari kawasan Afrika seperti Somalia, Nigeria, Zimbabwe, Mozambik dan dari Asia Selatan, terutama Pakistan dan Bangladesh. Afsel menjadi tujuan utama para pengungsi dan pendatang dengan motif ekonomi yang mencapai 2,2 juta (2011). Jumlah ini ditambah dengan pendatang ilegal yang diperkirakan sebanyak 500.000 orang.

EKONOMI

  1. Afsel merupakan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di kawasan Afrika, dengan PDB sebesar USD 314,6  milyar (2015) yang mencakup 20% dari total keseluruhan benua Afrika setelah Nigeria dan Mesir. Afsel juga mendapat predikat upper-middle income country dari Bank Dunia. Berdasarkan analisa IMF, pertumbuhan ekonomi di Afrika Selatan pada tahun 2016 secara keseluruhan mencapai 0,5%. Hal ini merupakan penurunan dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2015 yang mencapai 1,3%. Pada tahun 2017 dan 2018, IMF memperkirakan pertumbuhan sebesar masing-masing 0,8% dan 1,6%. Sementara itu, di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi bertumbuh sebesar 2,7%, Bank Dunia memproyeksikan Afsel hanya akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 0,6% (2017), 1,1% (2018) dan 2% (2019). Prediksi tersebut masih berada di bawah proyeksi South Africa Reserve Bank (SARB), yaitu sebesar 1,0% (2017), 1,5% (2018) dan 1,7% (2019).
  2. Faktor yang mempengaruhi rendahnya proyeksi tersebut adalah merosotnya tingkat kepercayaan investor kepada Afsel sebagai dampak dari penurunan peringkat sovereign credit yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings dan Fitch Ratings setelah Presiden Jacob Zuma melakukan pergantian Menteri Keuangan pada bulan April 2017. Dalam laporan Global Economic Prospectus yang berjudul "A Fragile Recovery", Bank Dunia berulang kali menekankan tentang ketidakpastian situasi politik dan kebijakan di Afsel yang akan membebani sektor investasi.
  3. Pada bulan Juni 2017, Afsel telah menyusul 2 (dua) negara BRICS, Brazil dan Rusia kembali masuk ke dalam kondisi resesi untuk pertama kalinya sejak tahun 2009. Lembaga statistik Afsel, Stats SA dalam laporannya pada hari Selasa, 6 Juni 2017 menyatakan bahwa perekonomian Afsel pada kuartal pertama 2017 telah mengalami kontraksi sebesar 0,7%, menyusul kontraksi sebesar 0,3% yang terjadi pada kuartal terakhir 2016. 
  4. Kontraksi ini gagal diprediksi oleh Afsel, mengingat pada Budget Review 2017 pada awal tahun 2017, Afsel memproyeksikan akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 1,3%. Kondisi resesi ini langsung berdampak pada menurunnya nilai mata uang Rand sebesar 1% menjadi Rand 12.81 per USD 1.
  5. Menurunnya GDP pada mayoritas sektor Afsel, terutama pada pada sektor trade dan manufacturing menjadi penyebab utama terjadinya kontraksi. Pertumbuhan positif hanya dilaporkan terjadi pada dua sektor, yaitu mining dan agriculture. Analis ekonomi juga menyebutkan ketidakpastian situasi politik menjadi salah satu alasan utama terjadinya kontraksi, terutama menjelang Konferensi Nasional Partai ANC, dimana pengganti Presiden Zuma sebagai ketua Partai ANC akan dipilih pada bulan Desember. Apabila kontraksi ini terus berlanjut di kuartal kedua, diprediksi akan menyebabkan terjadinya penurunan GDP, peningkatan angka pengangguran (saat ini telah mencapai 27%), dan memperbesar resiko penurunan kembali status investasi Afsel.
  6.  Pemulihan kekuatan ekonomi Afsel diprediksi akan lemah, mengingat kegagalan panen akibat kekeringan pada tahun 2016, serta meningkatnya harga komoditas ekspor utama Afsel. Sementara itu, industri manufaktur Afsel juga diprediksi akan melemah pada bulan Juni 2017, setelah mengalami kenaikan sejak bulan Oktober 2016. Penurunan ini ditandai dengan penurunan new orders, tingkat employment, dan stock of purchases.
  7. Nilai investasi akan mengalami penurunan sebesar 2% pada tahun 2017. Namun demikian, hal tersebut juga diperkirakan akan kembali naik sebesar 1.5% pada tahun 2018. Pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan akan terus melemah pada 2017 diprediksi akan kembali memguat pada pada tahun 2018, dikarenakan oleh kenaikan konsumsi privat dan nilai ekspor yang didukung oleh pemulihan harga komoditas dan pertumbuhan di pasar ekspor.
  8. Pengangguran dan ketidaksetaraan di Afsel akan tetap tinggi, sebagai cermin dari kesenjangan keterampilan yang besar dan rendahnya kualitas pendidikan. Nilai inflasi Afsel juga diprediksi akan tetap tinggi, dikarenakan oleh depresiasi mata uang Rand dan kenaikan harga pangan.
  9. Menurut data yang dikeluarkan oleh South African Revenue Service (SARS) pada bulan Maret 2017, terdapat peningkatan surplus neraca perdagangan sebesar 5.2 miliar Rand, menjadi 11.44 miliar Rand dibandingkan dengan data pada bulan Februari 2017. Lebih lanjut, pada kuartal pertama 2017 tercatat peningkatan surplus neraca perdagangan sebesar 4.98 miliar Rand dibandingkan dengan defisit 24.27 miliar Rand pada periode yang sama tahun 2016. Data ini termasuk data perdagangan dengan Botswana, Lesotho, Namibia dan Swaziland (BLNS), dimana total ekspor mencapai 101.23 miliar Rand, dengan impor sebesar 89.79 miliar Rand.
  10. Lebih lanjut, SARS juga melaporkan adanya peningkatan ekspor sebesar 16% atau sebesar 13.96 miliar Rand, pada kurun waktu Februari 2017 hingga Maret 2017. Sementara nilai impor juga tercatat meningkat sebesar 8,9% atau 7.32 miliar Rand.
  11. Untuk kuartal pertama 2017, nilai ekspor tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 8% menjadi 268.68 miliar Rand, dari nilai 248.72 miliar Rand yang dilaporkan pada 2016. Namun nilai impor tercatat mengalami penurunan sebesar 3,4% menjadi 263.71 miliar Rand pada periode yang sama tahun lalu.
  12. Produk ekspor utama Afrika Selatan adalah logam mulia dan batu, diikuti oleh kendaraan, peralatan transportasi, mesin-mesin dan peralatan elektronik. Sementara impor utama Afrika Selatan diantaranya adalah mesin-mesin, peralatan elektronik, kendaraan serta peralatan transportasi.
  13. Mitra ekspor terbesar Afrika Selatan adalah Asia, dengan nilai ekspor sebesar 30 miliar Rand, diikuti oleh Afrika dengan 27 miliar Rand, kemudian Eropa dengan 26 miliar Rand, dan terakhir, Amerika yang berjumlah lebih dari 8 miliar Rand. Sementara itu, mitra impor terbesar Afrika Selatan adalah Asia, dengan nilai impor 35 miliar Rand, diikuti oleh Eropa dengan nilai impor 32 miliar Rand.
  14. Afsel merupakan anggota Southern African Custom Union (SACU). Dibawah SACU, Afsel bersama dengan Botswana, Lesotho, Namibia dan Swaziland menerapkan kebijakan common external tariff sehingga kebijakan tarif eksternal SACU harus dirundingkan dulu dengan lima negara anggota. Selain itu, Afsel juga menjadi anggota Southern Africa Development Community (SADC), yang pada tahun 2008 meluncurkan SADC FTA dalam rangka perwujudan perdagangan bebas tarif.
  15. Tantangan-tantangan yang dihadapi pemerintah Afrika Selatan dalam memperbaiki perekonomian antara lain: 
    • kekurangan pasokan listrik,
    • kekurangan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan pasar,
    • tingkat pengangguran yang tinggi (27,1 % pada tahun 2016),  
    • seringnya pemogokan buruh
    • menurunnya global competitiveness (peringkat ke-47)
    • tingginya kesenjangan pendapatan (Gini ratio: 0.63%)
    • kekeringan dalam 2 tahun terakhir yang menyebabkan turunnya produksi pertanian​
  16. Dalam pidato tahunan tanggal 9 Februari 2017 di Cape Town, Presiden Zuma menyampaikan perkiraan pertumbuhan ekonomi Afrika Selatan pada tahun 2017 akan mengalami peningkatan sebesar 1.3% dari 0.5% pada tahun 2016. Namun demikian, pemerintah juga menyadari terjadinya peningkatan tingkat pengangguran, yang mencapai 27,1% (tertinggi sejak resesi tahun 2009), serta ancaman turunnya investment-grade credit rating dari S&P Global Ratings and Fitch Ratings. Lembaga Pemeringkat Kredit Internasional pada bulan Mei 2017 telah memberikan penilaian “junk status” kepada Afsel. Moody’s Investors Service memberikan nilai sovereign credit Baa3 (negative outlook), Standard and Poor’s memberikan nilai sovereign credit BB+ (negative outlook), dan Fitch Ratings memberikan nilai sovereign credit BB+ (stable outlook). 
  17. Terkait kebijakan economic transformation, sejumlah pihak berpandangan bahwa kebijakan dimaksud akan sulit dilaksanakan, megingat perubahan struktur dan sistem ekonomi melalui regulasi dan legislasi hanya akan efektif dalam mengubah sistem ownership dari warga kulit putih ke warga kulit hitam. Namun demikian, perubahan tersebut tidak serta merta akan mengatasi berbagai permasalahan dalam negeri di Afrika Selatan. Sebaliknya, yang perlu dilakukan adalah peningkatan kapasitas pemerintahan dalam mengelola surplus ekonomi menjadi pembangunan ekonomi di sektor riil, yang didukung oleh situasi politik yang kondusif.​ 
  18. Pada awal tahun 2017, Afrika Selatan telah meluncurkan program Invest SA-One Stop Shop untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi penanam modal dengan mengurangi jalur birokrasi dan administrasi dalam pengurusan ijin usaha. Invest SA akan berada dibawah Departemen Perdagangan dan Industri (DTI) dan akan diluncurkan di seluruh Afrika Selatan selama tiga tahun ke depan.​
  19. Investasi di sektor pertambangan terbaru dilakukan oleh perusahaan pertambangan Interalloys Trading Ltd. bersama dengan Onicaster Pty. Ltd sebesar 675 juta Rand untuk pertambangan bijih besi pada Rooinekke Iron Ore Project di kota Griekwastad, Provinsi Northern Cape. Penanaman modal tersebut diperkirakan dapat menyerap sebanyak 150 tenaga kerja. Selain itu, sepanjang 2017-2019, Interalloy Lyd. juga berencana menginvestasikan sebesar 428 juta Rand bagi pembangunan rel kereta api, sebesar 80 juta Rand untuk tambang Rooinekke, dan 167 Rand untuk investasi lainnya di provinsi Northern Cape.​

 SOSIAL BUDAYA​   

  1. Afsel merupakan negara yang menyatakan diri sebagai Rainbow Nation mengingat latar belakang dan komposisi masyarakatnya yang beranekaragam. Istilah Rainbow Nation dicetuskan oleh mantan presiden kulit hitam pertama Afsel yaitu mendiang Nelson Mandela yang mengutamakan rekonsiliasi dan persatuan bangsa pasca rezim apartheid.​
  2. Masyarakat Afsel memberikan penghormatan yang tinggi kepada mendiang Nelson Mandela dengan menyebutnya sebagai Father of the Nation dan juga meneladani falsafah Nelson Mandela yaitu Ubuntu yang merupakan konsep semangat persatuan dan keselarasan dalam hidup bersosialisasi serta dalam menjaga nilai-nilai demokrasi.​
  3. Pemerintahan Afsel yang saat ini dipimpin oleh ANC masih belum bisa menyelesaikan beberapa masalah utama rakyat Afsel yakni masalah mutu pendidikan, tingkat pengangguran yang cukup tinggi, kesetaraan gender, penurunan angka kemiskinan, pemerataan pemilikan tanah pertanian dan kesetaraan kesejahteraan bagi masyarakat kulit hitam. ​
  4. Masalah kemiskinan, kesenjangan sosial dan penyakit HIV/AIDS menjadi salah satu isu utama dalam negeri Afsel, khususnya bagi warga Afsel kulit hitam. Sekitar 60% warga kulit hitam Afsel masih berada di bawah garis kemiskinan dan 20% populasinya terjangkit HIV/AIDS.  Afsel juga mengalami kekeringan terparah sepanjang 2016. Kondisi kekeringan ekstrim ini telah membuat kering banyak bendungan dan menghancurkan sektor pertanian. Departemen Perairan dan Sanitasi di pertengahan tahun 2016 telah memberlakukan pembatasan penyediaan air di beberapa wilayah kotapraja Johannesburg, yaitu pengurangan kuota sebanyak 15% bagi konsumen domestik dan 20% untuk komunitas petani. Pembatasan tersebut akan berlangsung hingga akhir tahun hidrologi pada bulan Mei tahun 2017.​
    • ​​​​​Gerakan Protes Mahasiswa​ 
  5. ​​​​Dunia pendidikan tinggi Afrika Selatan dilanda protes mahasiswa berskala nasional sepanjang tahun 2016. Protes tersebut diawali oleh tuntutan mahasiswa (umumnya mahasiswa kulit hitam) yang menuntut dihapuskannya simbol-simbol apartheid di seluruh perguruan tinggi Afsel. Simbol-simbol dimaksud termasuk patung-patung tokoh kulit putih Afsel dan penggunaan bahasa Afrikaans sebagai bahasa pengantar perkuliahan. Protes ini telah memicu ketegangan antara siswa kulit hitam dan kulit putih. Tuntutan penghapusan bahasa Afrikaans sebagai bahasa pengantar perkuliahan telah dipenuhi oleh pihak universitas dengan penetapan bahasa Inggris sebagai bahasa utama pengantar perkuliahan​ 
  6. Protes tersebut kemudian berlanjut menjadi protes untuk menuntut dihapuskannya biaya perkuliahan yang dikenal sebagai gerakan #FeesMustFall. Protes #FeesMustFall berlangsung dalam sekala nasional dan telah menghentikan kegiatan perkuliahan di tahun akademik 2016 untuk waktu yang cukup lama. Protes ini juga kerap berujung pada tindak kekerasan dan pengrusakan fasilitas kampus. Di awal tahun 2017 aktivis mahasiswa menyatakan bahwa protes #FeesMustFall akan tetap berlanjut sampai dengan tuntutan dihapuskannya biaya perkuliahan dipenuhi oleh Pemerintah Afsel.
  7. Dalam pidato tahunan Presiden Zuma tanggal 9 Februari 2017 di Cape Town, terlihat pemerintah berupaya meredam berbagai tuntutan yang diajukan oleh rakyat Afrika Selatan dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Secara khusus, pemerintah berupaya meredam aksi protes mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan gratis. Pemerintah menyadari bahwa keuangan pemerintah tidak memungkinkan untuk memenuhi tuntutan tersebut yang akan membebani keuangan Negara dan menyebabkan pemerintah tidak mampu mendanai program-program sosial lainnya terutama pengentasan kemiskinan. 
​​
VI. KERJA SAMA POLITIK

Dialog Maritim Indonesia-Afrika 
  1. ​​Dalam rangka implementasi visi maritim Indonesia, Kemlu c.q. Dit. Afrika berencana untuk menyelenggarakan Dialog Maritim Indonesia-Afrika pada Agustus 2018. Dialog bertujuan untuk mempromosikan pembangunan kemaritiman Indonesia serta mendorong kerja sama konkret di bidang kemaritiman antara RI- Afrika Sub-Sahara. Dialog akan menghadirkan narasumber nasional dan internasional terkait kemaritiman dan dihadiri oleh Perwakilan Negara-negara Afrika Sub-Sahara di Jakarta.
  2. Adapun dialog maritim direncanakan setingkat pejabat senior dengan membahas penguatan penegakan hukum bagi kejahatan di laut. Termasuk dalam hal ini, illegal, unreported and regulated fishing, pencucian uang yang memanfaatkan aktivitas ilegal di laut dan isu perompak. Forum juga ditujukan untuk memperkuat norm-setting terhadap pidana perikanan, mekanisme pelacakan kapal dan perlindungan terhadap anak buah kapal. 
  3. Hubungan bilateral RI-Afsel yang selama ini terbina dengan baik, juga ditandai dengan saling kunjung antar dignitaries, antara lain, sbb:​
    ​Indonesia ke Afsel
    1. Presiden Soeharto (November 1997)
    2. Presiden Abdurrahman Wahid (April 2000)
    3. Presiden Megawati Soekarnoputri (September 2002)
    4. Wakil Presiden M. Jusuf Kalla (September 2005)
    5. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Maret 2008)
    6. Wamenlu RI A. M. Fachir (Februari 2016)
    7. Menlu Retno L.P. Marsudi (Februari 2017)

    Afsel ke Indonesia
    1. Presiden Nelson Mandela: 
    o 1990 (sebagai Ketua ANC);
    o September 1994;
    o Juli 1997;
    o 2002 (sebagai Mantan Presiden).
    2. Presiden Thabo Mbeki (April 2005)
    3. Deputi Presiden Phumzjle Mlambo-Ngcuka (April 2006)
    4. Wakil Presiden Cyril Ramaphosa (April 2015)
    5. Menlu Maite Nkoana-Mashabane (April 2015 dan Agustus 2016)
    6. Presiden Jacob Zuma (Maret 2017)
  4. Kemajuan dalam hubungan bilateral RI-Afsel juga ditandai dengan kerja sama saling dukung di berbagai organisasi internasional sebagai berikut:
    a. Postal Operations Council  dari Universal Postal Union (2013-2016)
    b. International Telecommunication Union (2014-2018) 
    c. Dewan HAM PBB (2016-2017)
    d. Dewan International Maritime Organization (IMO) Kategori C
    e. International Law Commission​
  5. ​Dalam pertemuan Menlu RI dengan Menlu Maite Nkoana-Mashabane di sela-sela World islamic Economic Forum ke-12 di Jakarta, Agustus 2016, kedua Menlu sepakat untuk: 
​​​​​​​​​​​​a. menjajaki jadwal pertemuan ke-2 SKB di Afsel sebelum akhir tahun 2016 (telah dilaksanakan pada bulan Februari 
        2017 di Cape Town, Afsel). 
b. menyelesaikan sejumlah kesepakatan yang pending termasuk Perjanjian Bebas Visa Pemegang Paspor 
        Diplomatik dan Dinas.
c. selain itu, Menlu RI juga menyampaikan tentang peningkatan aktivitas lobi separatis Papua di Afsel 
        dan mendapat tanggapan positif Menlu Afsel. 
​​​       6. Pada tanggal 6 Februari 2017, Menlu RI telah melakukan kunjungan ke Cape Town sebagai special envoy IORA Leaders'
           Summit. Dalam kunjungan tersebut, Menlu RI telah melakukan pertemuan d​engan Menlu Afsel dan kunjungan kehormatan    
           kepada Presiden Zuma.
       7. Kunjungan Kehormatan Menlu RI kepada Presiden Afsel dan dibahas:
                    a. ​   Indikasi positif untuk melakukan kunjungan ke Indonesia memenuhi Undangan Presiden RI untuk Presiden Afsel 
                            menghadiri KTT IORA dan melakukan kunjungan kenegaraan.
                    b.     Pandangan Presiden RI bahwa Afrika merupakan prioritas Indonesia dalam kerja sama. Presiden Afsel Setuju agar 
                            kedua negara lebih banyak mengedepankan isu dan kerjasama ekonomi.
                    c.     Presiden Zuma memandang penting peranan IORA dan setuju dengan pandangan Menlu RI bahwa IORA masih 
                            under-utilized.
       ​             d.     Menlu RI menyerahkan Surat Presiden RI tentang permintaan dukungan Afsel untuk pencalonan RI sebagai 
                            Anggota Tidak tetap DK PBB periode 2019-2020
                    e.     Menlu RI sampaikan bahwa produk RI ke Afsel dikenakan tarif tinggi. Untuk itu, RI siap memulai pembahasan 
                            PTA RI-SACU dan mengidentifikasi tarif yang bisa dikurangi.
       8. Dalam pertemuan dengan Menlu Afsel, kedua Menlu sepakat untuk
                    a.     Pertemuan kedua Menlu ditetapkan sebagai SKB ke-RI-Afsel;
                    b.     Menyelesaikan Plan of Action Kemitraan Strategis 2017-2021, MoU Kerjasama Kelautan dan Perikanan, MoU
                            Kerjasama Pelatihan Diplomatik, dan Perjanjian Bebas Viza untuk Paspor Diplomatik dan Dinas;
                    c.     Kesiapan Indonesia untuk memulai pembahasan dan identifikasi tarif impor yang dapat dikurangi oleh kedua
                            negara;
                    d.     Mendorong kerjasama perbankan, di mana Indonesia Eximbank menawarkan opsi pembiayaan ekspor bagi
                            dunia usaha kedua negara;
                    e.     Terkait isu kampanye gerakan Papua Barat, Afsel menghargai kedaulatan RI dan menolak balkanisasi suatu
                            negara.
       9. Menlu RI telah menghadiri Forum Bisnis RI-Afsel di Cape Town, tanggal 6 Februari 2017. Forum Bisnis dihadiri oleh
           perusahaan RI dari PT. PAL, PT Pindad, Ketua Kadin Komite Afrika, dan Indonesia Eximbank. Dalam sambutan, Menlu  
           antara lain menyampaikan berbagai keunggulan RI, sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia tenggara, dan
           stabilitas politik RI.
    10.  Kunjungan Kenegaraan Presiden Afsel, Jacob Zuma, bersama tiga Menteri serta sejumlah pejabat senior Afselke Indonesia
           telah dilaksanakan pada 5-8 Maret 2017. Presiden Afsel juga menghadiri penyelenggaraan IORA Leaders’ Summit dan
           menjadi pembicara dalam acara IORA Business Summit. Beberapa hasil pertemuan antara Presiden RI dengan Presiden Afsel
           adalah sebagai berikut:
                   a.     Presiden Afsel telah mengundang Presiden RI untuk melakukan Kunjungan Kenegaraan balasan ke Afsel. Hingga 
                            saat ini, belum terdapat indikasi mengenai rencana kunjungan Presiden RI ke Afsel.
                   b.     Permintaan penurunan tarif komoditas prioritas kedua negara. Dalam kaitan ini, akan dilakukan studi 
                            pembentukan Preferential Trade Agreement antara Indonesia dengan South African Customs Union.
                   c.     Presiden RI telah mengusulkan inisiatif penyelenggaraan Indonesia-Africa Forum dan Dialog Maritim di tahun
                            2018 di Indonesia. 
                   d.     Bekerja sama mendorong Kerja Sama Selatan-Selatan, melalui penguatan kerja sama dalam kerangka IORA dan
                            New Asian African Strategic Partnership.
                   e.     Presiden Afsel telah mengindikasikan untuk memberikan dukungan atas pencalonan Indonesia sebagai Anggota
                            Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020.
                   f.     Penandatanganan tiga dokumen kerja sama, yaitu: Persetujuan Bebas Visa bagi Pemegang Paspor Dinas dan
                            Diplomatik, MoU Kerja Sama Pendidikan dan Pelatihan Diplomatik, dan Rencana Aksi 2017-2021 Kemitraan
                            Strategis Indonesia-Afsel.

      New Asian African Strategic Partnership (NAASP)
      1.   Kedua negara merupakan penggerak utama bangunan kerjasama baru Asia Afrika melalui New Asian-African Strategic
            Partnership (NAASP). NAASP dicetuskan sewaktu KTT Asia Afrika 2005 di Jakarta, dalam rangkaian peringatan Jubilee
            KAA 1955 di Bandung Indonesia. Saat ini NAASP telah berhasil menggulirkan beberapa kerjasama konkret Asia-Afrika, baik
            dalam rangka pembangunan kapasitas SDM maupun berbagai bentuk kerja sama lainnya.
      2.   Pihak Afsel sebagai co-chair telah menjadi tuan rumah bagi berbagai kegiatan NAASP. Termasuk dalam hal ini, NAASP
            Senior Officials Meeting di Durban, September 2006 untuk mengevaluasi perkembangan implementasi NAASP dan NAASP
            Co-Chairs’ Meeting di Tshwane (Pretoria), tahun 2010 untuk membahas rencana KTT ke-2 NAASP pada tahun 2011 dan 
            kandidat co-chair dari Asia untuk periode berikutnya.
      ​3.   KTT NAASP ke-2 yang seharusnya diselenggarakan pada tahun 2009 telah tertunda beberapa kali dan hingga saat ini masih
            belum terlaksana. Berdasarkan informasi terkini yang diperoleh dari Dubes Afrika Selatan di Jakarta, hingga saat ini
            Pemerintah Afrika Selatan masih belum memutuskan mengenai jadwal pelaksanaan KTT NAASP ke-2.
      4.   Indonesia memandang perlunya diselenggarakan KTT NAASP ke-2 guna mendorong kerja sama NAASP, utamanya untuk
            menyepakati hasil-hasil pembahasan pertemuan SOM sebelumnya yang telah menyepakati bidang kerja sama prioritas yang
            akan didorong dalam kerangka NAASP.
      ​5.   Afsel berpandangan bahwa NAASP perlu dibuat relevan untuk kepentingan negara-negara di kawasan karena saat ini
            kecenderungan yang terjadi adalah fokus kerja sama negara anggota Uni Afrika dengan negara non anggota dilakukan
            melalui mekanisme bilateral. Dalam konteks kerja sama NAASP, Afsel saat ini melakukan upaya agar NAASP dapat
            diintegrasikan ke dalam struktur Uni Afrika, namun proses tersebut masih menunggu diselesaikannya Global Partnership
            Review, sebagai panduan utama integrasi, yang masih dalam pembahasan Uni Afrika. 
      ​6.   Pada 1 Maret 2014 di Jakarta, Indonesia dan Afsel selaku Co-chair melakukan launching fase ke-2 NAASP capacity building
            program untuk Palestina (dalam kerangka Conference on Cooperation among East Asian Countries for Palestinian
            Development II). Dalam kesempatan tersebut, Menlu RI dan Menlu Afsel melakukan pertemuan bilateral membahas
            perkembangan dan upaya peningkatan hubungan bilateral kedua negara. Kedua Menlu antara lain menyepakati agar
            dibentuk Plan of Action implementasi Kemitraan Strategis antar kedua negara.
​​
      Peringatan Ke-60 Konferensi Asia Afrika dan Peringatan Ke-10 NAASP di Jakarta dan Bandung, tahun 2015
      7.   Indonesia kembali menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika 2015 yang diselenggarakan bersamaan dengan
            Peringatan ke-60 KAA dan ke-10 NAASP pada tahun 2015. Hal ini dimanfaatkan sebagai momentum yang tepat bagi
            negara-negara Asia dan Afrika untuk membahas upaya-upaya memperkuat kerja sama guna mendorong kemajuan di kedua
            kawasan. Disamping itu, peringatan tersebut juga menegaskan kembali relevansi Semangat Bandung 1955 (Bandung Spirit)
            untuk menjawab tantangan global saat ini. 
      8.   Keseluruhan rangkaian pertemuan tersebut mengusung tema utama “Strengthening South-South Cooperation to Promote
            World Peace and Prosperity”, dihadiri delegasi  dari  93 negara Asia Afrika, termasuk Indonesia, 15 negara observer dan 12
            Organisasi Internasional serta sekitar 650 wakil dunia usaha dari 34 negara-negara Asia Afrika. 
      9.   KTT Asia Afrika mensahkan tiga dokumen akhir yaitu (i) Bandung Message, yang merefleksikan komitmen negara-negara
            Asia-Afrika untuk menciptakan tatanan dunia baru yang adil; (ii) Declaration on Reinvigorating the NAASP, yang mengupa-
            yakan dukungan konkrit bagi kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, infrastruktur dan pembangunan maritim, serta     
            (iii) Declaration on Palestine, yang menyatakan dukungan bagi kemerdekaan Palestina.
     10.  Pada dokumen Declaration on Palestine, negara-negara Asia Afrika termasuk Indonesia menyampaikan komitmen untuk
            mendukung pembangunan dan penguatan institusi nasional Palestina melalui program-program capacity building, baik
            melalui kerja sama bilateral, triangular maupun South-South Cooperation yang sesuai dengan kebutuhan dan prioritas
            pembangunan rakyat Palestina.
     11.  Posisi Dasar
            a. Indonesia memandang perlunya diselenggarakan KTT NAASP ke-2 guna mendorong kerja sama NAASP, utamanya untuk
                menyepakati hasil-hasil pembahasan pertemuan SOM sebelumnya yang telah menyepakati bidang kerja sama prioritas
                yang akan didorong dalam kerangka NAASP. KTT NAASP ke-2 yang seharusnya diselenggarakan pada tahun 2009 telah
                tertunda beberapa kali dan hingga saat ini masih belum terlaksana. Berdasarkan informasi terkini yang diperoleh dari
                Dubes Afrika Selatan di Jakarta, hingga saat ini Pemerintah Afrika Selatan masih belum memutuskan mengenai jadwal  
                pelaksanaan KTT NAASP ke-2. 
            b. Indonesia memandang perlunya dilakukan pergantian Co-Chairs NAASP. Dalam hal ini, pihak Asia dan Afrika perlu
                melakukan koordinasi internal guna menentukan Co-Chairs dari masing-masing pihak.
            c. Sesuai dengan kesepakatan dalam Declaration on Reinvigorating the NAASP pada KTT Asia Afrika tahun 2015 lalu,
                Indonesia perlu mendorong penguatan institusional NAASP antara lain dengan mendorong diadakannya pertemuan
                Co-chairmanship NAASP setiap 4 tahun sekali, Pertemuan Tingkat Menteri di sela-sela Pertemuan Sidang Majelis Umum
                PBB setiap 2 tahun sekali dan Pertemuan tahunan antar Co-chairs NAASP.  

       Indian Ocean Rim Association (IORA)
     12.  Afsel adalah Wakil Ketua (Vice Chair) IORA pada masa keketuaan Indonesia periode 2015-2017. Berdasarkan mekanisme
            pada IORA, Vice Chair akan menjadi Chair IORA pada periode berikutnya. Dengan demikian, Afsel merupakan Ketua IORA
            periode 2017-2019. Penyerahan Keketuaan IORA dari Indonesia ke Afsel akan dilaksanakan pada waktu IORACouncil of 
            Ministers’ Meeting di Durban, Afsel, pada bulan Oktober 2017.
     13.  Sebagai Vice-Chair IORA, Afsel berperan aktif dalam mendukung inisiatif-inisiatif Indonesia, khususnya, dalam penyusunan
            IORA Concord. Di samping itu, Afsel merupakan salah satu penggagas penyusunan IORA Action Plan yang akan menjadi
            dokumen pendukung dari IORA Concord.
     14.  Salah satu isu pada IORA yang mendapatkan perhatian Afsel adalah kerja sama blue economy. Dalam kaitan ini, secara
            domestik, Afsel memiliki “Operation Phakisa”. Melalui program tersebut, pemerintah Afsel melakukan pendekatan
            komprehensif untuk memaksimalkan pemanfaatan potensi ekonomi kelautan yang ada di Afsel. 
     15.  Sejak ditetapkannya blue economy sebagai cross-cutting issue IORA pada tahun 2013, Afsel telah menyelenggarakan
            berbagai kegiatan dan pelatihan terkait blue economy, yakni: 
            a. IORA Blue Economy Core Group on Promoting Fisheries and Aquaculture and Maritime Safety and Security Cooperation
                in the Indian Ocean Region (Mei, 2015)
            b. Second IORA Blue Economy Core Group Workshop “Maritime Connectivity and Financing for Development in the Indian
                Ocean” (Juli 2016)

     Kerja Sama ASEAN – SADC
     16.  Tahun 2015 merupakan tahun bersejarah bagi ASEAN melalui pembentukan ASEAN Community. Dalam hal ini, ASEAN
            tidak hanya akan mengadakan kerja sama di kawasan sendiri tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan negara
            maupun organisasi kawasan lainnya. Indonesia dan Afrika Selatan dapat menginisiasi terbentuknya kerja sama kawasan
            Afrika bagian selatan, Southern African Development Community (SADC) dengan ASEAN.   

     G-20
     17.  Indonesia dan Afsel perlu membangun koordinasi dan kerjasama dalam memajukan kerja sama dalam G-20, khususnya
            dalam membahas isu-isu yang menjadi perhatian penting Negara-negara berkembang.

     Kemitraan Strategis
     18.  Pada kesempatan kunjungan kenegaran Presiden SBY ke Afsel, Maret  2008, Presiden RI dan Presiden Afsel, Thabo Mbeki
            telah melakukan penandatanganan  Strategic Partnership (Joint Declaration on a Strategic Partnership for a Peaceful and
            Prosperous Future Between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of South 
            Africa)
     19.  Pada Maret 2014 kedua negara sepakat untuk membentuk Plan of Action (PoA) Kemitraan Strategis RI-Afsel 2015-2019.
            Dalam pertemuan Menlu RI dan Menlu Afsel Maite Nkoana-Mashabane di sela-sela Peringatan KAA ke-60, April 2015,
            sepakat untuk mempercepat finalisasi PoA Kemitraan Strategis RI-Afsel. Dalam kunjungan kerja Dirjen Aspasaf ke Afsel,
            September 2015, kedua pihak sepakat untuk mengubah periode dokumen PoA dari sebelumnya tahun 2015-2019 menjadi
            tahun 2016-2020. Dokumen ini telah ditandatangani pada Maret 2017 oleh Menlu RI dan Menlu Afsel pada saat Kunjungan
            Kenegaraan Presiden Afsel ke Indonesia. 
​     20.  Tujuan PoA tersebut adalah sebagai alat kaji untuk melihat perkembangan bilateral kedua negara, di berbagai bidang
            seperti dalam hal kerjasama politik, pertahanan dan keamanan, ekonomi dan pembangunan, energi, sumber daya alam,
            kelautan dan perikanan. Serta di bidang pertanian, pariwisata, perhubungan,  iptek, pendidikan, pengkajian kebijakan,
            pelatihan, kebudayaan, kesehatan, teknologi informasi, pengembagan kapasitas dan konsuler.  

​     Kerja Sama Industri Strategis

     21.  Dalam bidang kerja sama pertahanan, Indonesia dan Afsel mempunyai potensi untuk bekerjasama dalam pengembangkan
            industri strategis. Dalam beberapa tahun terakhir terdapat interaksi awal dan saling kunjung antar pimpinan industri
            strategis di kedua negara, guna menjajaki kerja sama usaha yang melibatkan PT. PINDAD dan PT. DI dari Indonesia dengan              kelompok usaha Paramount Group dan Denel LTD (BUMN) dari Afsel. 
     22.  Pada tanggal 13 Mei 2011 PT. PINDAD dan Denel LTD menandatangani MoU kerja sama pengembangan produk sistem
            pertahanan dan persenjataan. Dalam hal ini, Denel LTD menyediakan turret dan cannon dan interfaces terkait kepada
            PT. PINDAD untuk kembangkan dan diintegrasikan ke dalam APC buatan PT. PINDAD.
     23.  Pada 2014, PT. Pindad dan Rhein Metal (anak perusahaan Denel LTD) menandatangani MoU kerja sama co-production 
            amunisi besar (termasuk artileri). PT. Pindad dalam hal ini akan menjadi hub manufaktur di kawasan Asia Pasifik, sementara 
            Rhein Metal akan menyediakan teknologi untuk keperluan produksi.
     24.  RI telah melakukan pembelian sejumlah alat komunikasi sebagai komponen untuk melengkapi panser Anoa. 
     25.  Pada kesempatan pertemuan Menlu RI dan Menlu Afsel di sela-sela KTT AA April 2015, kedua pihak sepakat memperkuat 
            kerja sama industri strategis Afsel-RI, termasuk menjajaki bentuk kerja sama joint venturing. Selanjutnya, Wapres Afsel Cyril
            Ramaphosa dalam pertemuan bilateral dengan Wapres RI di sela-sela KTT tersebut kembali menekankan pentingnya untuk
            terus mendorong penguatan kerjasama industri strategis kedua negara.
     26.  Dalam rangka mendorong kerjasama industri strategis, pada 30 September 2015 Dirjen Aspasaf telah berkunjung ke Denel
            Pretoria Metal Press (grup usaha Denel). Dirjen Aspasaf menekankan mengenai pentingnya penguatan kerja sama antar
            BUMN kedua negara, antara lain dengan mendorong cross fertilization. 
     27.  Sebagai implementasi dari Persetujuan Kerjasama Pertahanan yang ditandatangani 17 Maret 2008, Kemlu ​Afsel menyampai-
            kan usulan untuk membentuk Komite Bersama Pertahanan (Joint Defence Committee-JDC), dan mengundang Menhan RI
            untuk meresmikan pembentukan JDC dimaksud pada Maret 2016. Kemhan RI menyampaikan tanggapan usulan
            pembentukan JDC RI-Afsel pada tahun 2017.
     28.  Paramount Group (PG), perusahaan pertahanan swasta terbesar di Afrika yang berkantor pusat di Afsel, pada November
            2016, menyatakan kepada Dubes RI di Pretoria mengenai keinginan untuk mengembangkan kerja sama industri strategis
            dengan Indonesia, khususnya PT Pindad dan PT PAL. PG juga menyampaikan rencananya untuk berkunjung ke Indonesia 
            pada awal tahun 2017. 
​     29.  Pada Business-matchmaking tanggal 9 Februari 2017, PT. PAL telah bertemu dengan Denel Dynamic sementara PT. Pindad
            bersama Indonesia Eximbank bertemu dengan Denel Land System (DLS). Pertemuan menghasilkan
            -    Denel Dynamic menawarkan kerja sama penjualan dan instalasi peluru kendali pertahanan udara untuk kapal TNI 
                 Angkatan Laut RI. MoU kerja sama akan disampaikan kepada PT. PAL pada Maret 2017.
            -    Minat Kepolisian Afsel untuk membeli pistol buatan PT. Pindad melalui kerja sama dengan DLS.

     Kerja Sama Konsuler
     30.  Dalam rangka mendorong saling kunjung antara pejabat kedua negara disepakati untuk membentuk Persetujuan Bebas
            Visa Diplomatik dan Dinas (PBV) antara RI dan Afsel. Proses pembahasan dan mekanisme internal di antara kedua negara
            memerlukan waktu beberapa tahun dan pada tanggal 8 Maret 2017, Menteri Luar Negeri RI dan Afsel menandatangani
            “Persetujuan antara Pemerintah Afrika Selatan dan Pemerintah Republik Indonesia mengenai Pembebasan Visa bagi Peme-
            gang Paspor Diplomatik dan Paspor Dinas" (Agreement between the Government of the Republic of South Africa and the
            Government of the Republic of Indonesia on Visa Exemption for Holders of Diplomatic, Official, and Service Passports).
            Persetujuan dimaksud merupakan salah satu dari tiga dokumen yang disepakati oleh RI dan Afsel pada saat Kunjungan
            Kenegaraan Presiden Afsel, Jacob Zuma, ke Indonesia.
     31.  Pasal 10 (1) Persetujuan tersebut menyebutkan “Persetujuan ini wajib mulai berlaku tiga puluh (30) hari dari tanggal
            diterimanya pemberitahuan terakhir di mana Para Pihak saling memberitahukan Pihak lainnya, melalui saluran diplomatik,
            bahwa semua persyaratan untuk mulai berlakunya Persetujuan ini sebagaimana diatur dalam prosedur internal masing-
            masing telah terpenuhi". Pemerintah Afsel telah menyampaikan nota diplomatik tertanggal 31 Maret 2017 mengenai
            kesiapan implementasi Persetujuan tersebut setelah menyelesaikan prosedur internalnya dan Pemerintah RI menyampaikan
            hal serupa melalui saluran diplomatik tertanggal 5 Juni 2017. Hal ini diikuti oleh tukar menukar spesimen paspor diplomatik
            dan paspor dinas/resmi oleh kedua negara. Atas dasar tersebut, Persetujuan Bebas Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik
            dan Dinas antara RI dan Afsel berlaku efektif mulai tanggal 6 Juli 2017.
     32.  Dalam rangka mendukung peningkatan pariwisata Indonesia dan mendorong interaksi people-to-people, melalui Perpres RI              No. 69/2015,  Indonesia telah memasukkan Afsel bersama dengan sejumlah negara-negara lain dalam daftar negara bebas
            visa kunjungan pada Juni 2015. Hal ini kembali ditegaskan melalui Perpres RI No. 21/2016 yang memberikan keleluasaan
            bagi WN Afsel pemegang paspor kebangsaan yang sah untuk melakukan kunjungan ke Indonesia untuk jangka waktu
            tertentu (30 hari) dan melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) tertentu (124 TPI).
     33.  Pemberian bebas visa kunjungan bagi WN Afsel diharapkan juga Pemerintah Afsel memberikan kemudahan kepada
            WN Indonesia untuk mendapatkan visa kunjungan baik wisata, usaha maupun sosbud ke Afsel yang selama ini masih  
            memerlukan waktu lama.
     34.  Jumlah WNI yang menetap di Afsel tercatat sebanyak 242 orang (per Januari 2016). WNI di Afsel sebagian besar terdiri dari 
            ibu rumah tangga yang menikah dengan WN Afsel berikut keluarganya dan sebagian yang lain adalah TKI yang bekerja di 
            sektor jasa, termasuk dalam bidang telekomunikasi, pelayaran dan rohaniwan.
     35.  Mengingat Afsel memiliki dua pelabuhan besar yaitu Cape Town dan Durban yang menjadi tempat persinggahan kapal-
            kapal internasional, seringkali terjadi kasus yang melibatkan ABK WNI yang membutuhkan pelayanan dan bantuan dari KBRI
            Pretoria dan KJRI Cape Town. Permasalahan yang dialami oleh ABK WNI antara lain kasus kekerasan, pembayaran gaji
            maupun keimigrasian.​

     Kerja Sama Kepolisian
     36.  Pada November 2015, atas undangan Pemerintah Cape Town, Mabes Polri telah mengirimkan dua perwira Polri untuk
            berbagi pengetahuan dan praktik terbaik masalah kepolisian di Indonesia dengan Kepolisian Metro Cape Town. Dalam hal
            ini, Indonesia merupakan negara kedua di Asia yang diundang untuk bekerja sama setelah Jepang pada program kerja sama
            tersebut.
     37.  Guna melanjutkan kerja sama antar kedua instansi kepolisian, Polri telah menyampaikan undangan kepada Kepolisian Metro
            Cape Town untuk mengikuti kursus penanganan kejahatan dan counter-terrorism di Jakarta Centre for Law  Enforcement
            Cooperation (JLEC) di Semarang, Jawa Tengah.
     38.  Pemri telah menyampaikan counterdraft MoU kerja sama Kepolisian RI-Afsel kepada pihak Afsel tanggal 23 Mei 2014
            dan baru dibalas pada Maret 2017. MoU ini ditujukan untuk kerja sama menangani money-laundering dan pembiayaan
            terorisme.