Hubungan bilateral Prancis - Indonesia


 


​​Politik

​​Hubungan bilateral Prancis-Indonesia terjalin dengan baik sejak bulan September 1950, dan kini terus meningkat seperti terlihat dari jalinan kerja sama di berbagai sektor.  Kerja sama dimaksud juga terlihat dari sejumlah kegiatan dialog dan saling-kunjung antarpejabat kedua negara, baik dalam kerangka bilateral maupun multilateral, serta saling-dukung dalam berbagai pencalonan/kandidasi pada organisasi internasional. Pada tahun 2011, kedua negara sepakat menjalin Kemitraan Strategis pada saat kunjungan resmi Perdana Menteri François Fillon ke Indonesia tanggal 30 Juni - 2 Juli, yang difokuskan pada lima bidang kerja sama, yaitu: 1) Perdagangan dan investasi, 2) pendidikan, 3) industri pertahanan, 4) sosial budaya / people-to-people contacts, dan 5) penanganan dampak perubahan iklim.   

 
Jokowi-Macron Hamburg2018_setpres.jpg 
​Kerja sama Kemitraan Strategis terus terjalin dengan baik, hingga pada bulan Maret 2017, Presiden François Hollande juga melakukan kunjungan ke Jakarta dan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Joko Widodo. Kedua pemimpin sepakat terus menguatkan kerja sama bilateral Indonesia-Prancis, khususnya di bidang ekonomi kreatif, pendidikan, maritim, pembangunan kota berkelanjutan (sustainable cities development), energi, pertahanan, serta infrastruktur. Tak lama kemudian, Presiden Joko Widodo juga bertemu dengan Presiden Emmanuel Macron, yang resmi menjadi Presiden Prancis pada tanggal 14 Mei 2017, dalam pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di bulan Juli 2018 di Kota Hamburg, Jerman. 

 
Dalam bidang pendidikan, Prancis-Indonesia membentuk forum kerja sama Joint Working Group (JWG), yang meliputi antara lain: program Double Degree program di Strata Master (S2) dan program Joint Supervision pada Strata Doktoral (S3) yang dibiayai bersama. Jumlah pelajar Indonesia di Prancis adalah 425 orang, dimana ini adalah yang tertinggi dalam lima tahun terakhir (data tahun 2016). Sementara itu, kerja sama pendidikan sekolah kejuruan (vocational secondary education) terjalin melalui sejumlah program pemagangan di Prancis (apprenticeship programs) oleh beberapa guru sekolah kejuruan. 

Dalam bidang pertahanan, kerja sama bilateral kedua negara didasarkan pada Memorandum of Understanding (MOU) tahun 1996 antara Kementerian Pertahanan RI dengan French Ministry of Defense untuk bidang: Cooperation in Equipment, Logistics dan Defense industries. Kerja sama ini ditingkatkan lebih lanjut melalui penyelenggaraan Military Bilateral Talks antara Markas Besar TNI dengan pihak Prancis, yaitu AP French Headquarters, yaitu untuk bidang pendidikan, pertukaran informasi, serta forum dialog.

Sementara untuk sosial budaya, tercatat sejumlah Asosiasi Franco - Indonesian di Prancis yang khususnya aktif berkegiatan di bidang seni budaya. Para asosiasi ini turut berkontribusi pada peningkatan hubungan baik, khususnya jalinan people-to-people-contact, antara orang Prancis dan Indonesia. Di sisi lain, terdapat pula sejumlah universitas di Prancis yang memiliki program Bahasa Indonesia, sehingga turut menjadi aset dalam pengenalan budaya Indonesia di Prancis. Di Prancis setiap tahunnya terdapat sejumlah kegiatan kebudayaan dan promosi pariwisata yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dan pemerintah setempat Prancis. 
 

Ekonomi: Perdagangan

Nilai perdagangan Indonesia dqn Prancis dalam lima tahun terakhir adalah sebagai berikut :

Tabel: nerada perdagangan Indonesia - Prancis (dalam ribu-USD) 

 20122013201420152016 (Jan – Okt)2017 (Jan-Okt)
Export
1.154.8911.082.8621.047.4741.003.241850.340. 899.933
Import
1.926.1951.594.4581.335.1581.337.7031.362.378418.514
Balance-771.304-511.596-287.684-334.462-470.837-183.452

Sumber: ITC Trademap 

Ekspor utama Indonesia ke Prancis adalah: mesin dan alat listrik, minyak dan lemak, sepatu, karet dan produk karet, kopi, teh dan bumbu, furnitur, produk pakaian dan asesoris, minyak esensial, alat musik, serta produk perikanan. 

Sementara impor Indonesia dari Prancis utamanya adalah: mesin, produk susu, mobil, pesawat terbang dan komponen spareparts, obat-obatan, mesin elektrik dan komponen, bahan kimia organik, ekstrak resinoid untuk parfum dan kosmetik, pakan ternak, optik, plastik dan produk plastik, kimia, serat kayu (pulp wood), dan makanan olahan. 

Baik Prancis dan Indonesia adalah anggota Group of Twenty (G20), kelompok 20 Ekonomi utama dunia yang terdiri atas 19 negara dengan perekonomian besar, ditambah Uni Eropa. 

Ekonomi: Investasi

Prancis adalah salah satu tujuan utama investasi di Eropa. Investasi asing di Prancis mencapai 39,58 miliar Euro (ITC Investment Map, 2015), utamanya untuk makanan dan minuman, mesin dan peralatan, alat listrik dan perlengkapan listrik, kendaraan, kesehatan dan jasa sosial, konstruksi, dan keuangan. Beberapa negara yang merupakan investor utama di Prancis diantaranya: UAE, Kanada, Swiss, Jerman, Estonia, Australia, Bahama, Cyprus, Jepang, Hong Kong, Luxembourg, Belanda, Russia, dan Qatar.

Presiden Macron berupaya meningkatkan angka investasi dan menaikkan tingkat kompetitif nasional melalui sejumlah kebijakan tenaga kerja yang lebih fleksibel, meluncurkan program pendidikan kerja profesional, modernisasi sistem manajemen pemerintahan, inkubasi untuk proyek start-up, penyederhanaan prosedur untuk konstruksi dan ijin propergi, serta reformasi sistem pajak bisnis. 

Di sisi lain, investasi Prancis di luar negeri ada di kisaran 37,49 miliar Euro untuk industri-industri diantaranya: pengolahan makanan, pertambangan, perminyakan (petroleum), mesin dan peralatan, barang manufaktur, pertanian, dan transportasi, dengan negara-negara utama tujuan investasi: Inggris, Italia, Irlandia, Amerika Serikat, Swedia, Singapura, Polandia, Nigeria, Hungari, UAE, Bermuda, dan Kongo.

Investasi Indonesia di Prancis sejauh ini adalah di bidang industri perjalanan (melalui Garuda Holiday) dan pertambangan (melalui Maurel and Prom, subsidiary dari Pertamina).

 

Pariwisata

Prancis adalah salah satu negara yang paling sering dikunjungi di dunia, bahkan hingga mencapai 84 juta wisatawan setiap tahun. Perkiraan pendapatan dari sektor ini adalah sebesar 89 miliar Euro dan mampu menyerap pekerja sekitar 1,7 juta orang. Berdasarkan travel and tourism index, pariwisata Prancis berada di nomor 2 setelah Spanyol. 

Sejumlah serangan teror di Prancis, setidaknya dalalam lima tahun terakhir, telah berdampak pada angka kunjungan walaupun pengaruhnya tidak terlalu besar karena kondisi Prancis yang sudah mapan dalam hal keterbukaan, lingkungan hidup, infrastruktur transportasi air-laut-darat, jasa layanan, sumber daya pariwisata, iklim bisnis wisata, asuransi kesehatan, IT, serta kemandirian industri tour and travel (berdasarkan The Travel and Tourism Competitive Index 2017)

Jumlah wisatawan Prancis ke Indonesia tercatat terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Di tahun 2017 tercatat 268.064 wisatawan Prancis, naik sekitar 10.56 persen dari angka 254.126 di tahun 2016. Wisatawan Prancis banyak tertarik untuk berkunjung ke obyek-obyek wisata yang unik, seperti Kawah Ijen, Labuan Bajo dan Pulau Komodo, atau Tana Toraja di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan prosesi pemakamannya yang khas dan hanya ada di Indonesia. ​​