Peringatan ke-70 Tahun Hubungan Bilateral Indonesia-India diawali dengan diplomasi seni kerajinan

​Pada tanggal 2-14 Januari telah diadakan workshop kerajinan tangan bertajuk India and Indonesia Craft Skill Exchange Workshop di Dilli Haat, New Delhi. Penyelenggaraan kegiatan tersebut merupakan kerja sama antara organisasi non-profit Dastkari Haat Samiti dengan KBRI New Delhi. Kegiatan ini telah menandai dimulainya rangkaian program peringatan ke-70 tahun hubungan bilateral antara Indonesia dengan India yang resmi dimulai sejak tahun 1949.

Workshop kerajinan tangan dimaksud, merupakan ajang kolaborasi antara seniman Indonesia dan seniman India dalam mengembangkan kerajinan tangan. Terdapat tiga bidang seni kerajinan yang tampilkan, yaitu: batik (tie & dye), gerabah, dan kerajinan serat (jote). Workshop tersebut mendatangkan 4 seniman pengrajin dari Indonesia, di antaranya: Bregas Harrimardoyo (seniman gerabah) dari rumah produksi Pekunden, Natsir seniman dan penulis, Caroline Rika Winata (pembatik) dari rumah produksi Wiru dan Novita (pembatik) dari rumah produksi Katuna.

“Apa yang telah dimulai dari Dastkari Haat Samiti (workshop) ini nantinya akan memiliki kehidupannya sendiri. Ke depan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan UKM dan kesejahteraan para seniman di kedua negara, terutama dalam memasarkan produk karya para seniman pengrajin tersebut kepada masyarakat luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri," demikian ungkap Dubes RI untuk India, Sidharto R. Suryodipuro dalam sambutan penutup kegiatan tersebut.

Menurut Mrs. Jaya Jaitly, pendiri Dastkari Haat Samiti dalam sambutannya menambahkan bahwa kegiatan dimaksud tidak semata-mata tentang perdagangan, strategi pemasaran, maupun ekonomi, namun juga merupakan diplomasi dalam bidang kerajinan yang mempersatukan seni, budaya, warisan leluhur, serta menjadi tali pengikat antara masyarakat India dan Indonesia. Sebagai bentuk dukungan terhadap pemasaran produk pengrajin, pada pameran kerajinan tangan di Dilli Haat Panitia memasangkan label berwarna kuning yang membedakan antara peserta pameran yang merupakan pengrajin asli atau pedagang perantara.

Hal menarik yang diperoleh dari para seniman Indonesia, yaitu bahwa selama kegiatan workshop berlangsung telah terjadi pertukaran teknik, ide, dan pemahaman baru yang dapat memperkaya seniman dari kedua negara. Dengan bekal pemahaman baru tersebut, para seniman dapat meningkatkan efisiensi terutama dalam proses produksi dengan tidak mengurangi kualitas produk kerajinan yang mereka hasilkan.  

 New Delhi, 15 Januari 2019

SB