Sate dan Batik Indonesia Ramaikan Pako Festa 2015

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

?Warga Indonesia dan komunitas “Friends of Indonesia” kembali menyemarakkan Pako Festa Street Parade, festival tahunan yang diselenggarakan oleh City of Geelong. Kurang lebih 50 orang berbaris mengenakan pakaian daerah yang berwarna-warni, berjalan perlahan diiringi tabuhan lima orang anggota Rampak Kendang yang memainkan kendang di atas mobil bak terbuka.

 
Tidak hanya orang dewasa, sejumlah remaja dan anak-anak berkostum pakaian adat Minang, Bali, Jawa, dan daerah lain, ikut meramaikan barisan Indonesia. Tampak di antara barisan, empat orang pria mengenakan pakaian adat Sunda mengangkat satu benda berbentuk mirip rumah kecil yang di dalamnya terdapat berbagai jenis makanan sebagai seserahan untuk mempelai wanita.
 
Tahun ini, bekerja sama dan didukung oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra, KJRI Melbourne bersama komunitas Indonesia di Geelong yang tergabung dalam Indonesia Association in Geelong dan Kelompok Musik Rampak Kendang (di bawah naungan Pasundan Melbourne), berpartisipasi pada Pako Festa 2015. Tidak hanya pada parade, komunitas Indonesia juga mempromosikan kuliner Indonesia dengan stand yang menjual berbagai makanan khas Indonesia, seperti sate, nasi goreng, mi goreng, dan rendang. Warga yang berkunjung sangat antusias dan terlihat mengantre untuk membeli makanan Indonesia yang cukup dikenal dan digemari warga.
 
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini terdapat workshop membatik gratis untuk pengunjung. Workshop batik ini mendapat banyak perhatian dari pengunjung. Pwngunjung, dewasa dan anak-anak, sangat antusias mengikuti tutorial membatik yang disampaikan pengajar. Sebagian pengunjung anak-anak yang berartisipasi pada workshop batik adalah murid yang belajar Bahasa Indonesia di sekolahnya. Sambil membatik, tidak jarang mereka langsung bercakap-cakap dengan instruktur dalam Bahasa Indonesia. Seusai mengikuti workshop, kain yang telah diberi motif batik dibawa pulang. Khusus bagi peserta anak-anak, dibagikan sebuah souvenir dari bahan batik.
 
“Terima kasih,” ujar Jenny, siswa kelas 3 SD, yang tersenyum lebar ketika diberi souvenir tempat pensil dari kain batik warna merah.
Di dalam tenda tempat workshop, terdapat display alat pembatik tradisional seperti canting, dan kompor tanah, serta beberapa kain batik dan buku-buku mengenai batik dan tekstil tradisional Indonesia. Selama workshop, tidak hanya pelajaran membatik yang diperoleh, para pengunjung juga mendapat informasi umum mengenai Indonesia dari brosur-brosur pariwisata yang ada. (KJRI Melbourne)