Mencari Format Ideal Hubungan Industri Film Indonesia dan Hollywood

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, diskusi perfilman Indonesia dan AS yang mengikutsertakan para pemangku kepentingan kedua pihak yang relevant dan berbobot telah diselenggarakan di Hotel Renaissance Hollywood, Los Angeles AS pada tanggal 4 Oktober 2009. Apa yang dibidik?


Diskusi yang dikemas dalam format roundtable tersebut difasilitasi Pemerintah Indonesia melalui KJRI Los Angeles dengan tema “Roundtable Discussion on Exploring Challenges and Opportunities to Enhance Relations between Indonesia and US Film Industry”. Pembicara Indonesia yang hadir adalah Peter F. Gontha (KADIN Indonesia-AS), Christine Hakim (Aktris dan produser), Arya Gunawan (wartawaan senior dan pengamat film), dan Ram Punjabi (Produser dan Pemilik Rumah Produksi Multivision). Sedangkan pembicara AS terdiri dari Jon Turteltaub (Executive Director, antara lain film National Treasure dan sequal-nya National Treasure: Book of Secret-dibintangi Nicholas Cage), Teddy Zee (Executive Produser beberapa film yang dibintangi Will Smith, seperti The Pursuit of Happines dan Hitch), Ed Elbert (Produser Film Anna and the King), James Li (Wartawan Senior Hollywood), Bill Bowling (Unit Manager film Rush Hour 2) serta James Chean (produser sekaligus aktor dalam film Born To Kill).


Diskusi tersebut diikuti oleh 84 orang peserta dari kalangan perfilman (stakeholders) yang terdiri dari para produser, sutradara, kritikus, jurnalis film dan lain lain. Diskusi dipandu oleh Kenny Feuerman (News Director for US Media News for the World) dan Fatimah Tobing Rony (Profesor Sinematografi dari Indonesia yang mengajar di University of California Irvine). Acara ini dibuka oleh Konjen RI di Los Angeles, Subijaksono Sujono sedangkan Ketua Delegasi Perfilman Indonesia yang juga Wakil Ketua Dewan Penasehat Perfilman Nasional, Rudy S. Sanyoto bertindak sebagai keynote speaker.


Dalam sambutan pembukaannya, Konjen RI Subijaksono Sujono, antara lain, mengatakan bahwa seiring dengan kemajuan perfilman di tanah air dan meningkatnya hubungan Indonesia-AS, hubungan kerjasama perfilman Indonesia-Hollywood merupakan area kerjasama yang perlu diperhatikan karena menyangkut sekaligus aspek kemasyarakan dan bisnis. Tujuan kegiatan menurut Konjen RI adalah untuk: (1) memfasilitasi networking antara stakeholders industri film di Indonesia dan AS, (2) memperkenalkan industri film AS kepada Hollywood, (3) menjaring input untuk perbaikan perfilman Indonesia, (4) menjajagi kerjasama teknis yang mungkin dilakukan antara industri film Indonesia dengan hollywood, (5) mencari masukan bagaimana film Indonesia dapat diterima audiens/pasar AS dan (6) memperkenalkan Indonesia sebagai tujuan pembuatan film dunia.


Pada bagian yang lain Rudy S. Sanyoto menggarisbawahi posisi strategis Indonesia sebagai tempat tujuan investasi dan pembuatan film karena mempunyai keindahan dan kelengkapan landscaping yang lengkap berupa laut, gurun, sungai, pantai, gunung, gua, hutan, desa maupun kota metropolitan. Pihaknya menggarisbawahi joint production dapat menjadi salah satu alternatif kerjasama Indonesia dengan Hollywood.


Terhadap kemungkinan film Indonesia masuk atau diterima di pasar AS, Kenny Feuerman menayangkan trailer film “Chatterbox the Movie” yang disutradarai oleh Jane Lawalata yang sudah akan diputar di bioskop bioskop di AS. Hal ini membuktikan bahwa karya sutradara Indonesia telah dapat diterima di Hollywood. Terhadap isu ini, James Li menambahkan tema yang diangkat biasanya bersifat universal dan bahasa yang digunakan yakni Bahasa Inggris. Dikatakan bahwa orang Amerika agak malas membaca subtitle yang menurutnya seperti menonton sambil membaca. Selain itu, penting untuk menggandeng partner AS akan sangat membantu untuk mengetahui tren dan selera pasar. Dalam pandangan James Chean kelebihan film Asia, yang juga dapat menjadi nilai tambah, terletak pada bobot ceritanya, sedangkan fim hollywood lebih kepada action atau bumbunya.


Sebagai otokritik, Arya Gunawan menyoroti walaupun kemajuan film Indonesia diakuinya tapi menurutnya kualitasnya masih dipertanyakan sehingga dikhawatirkan mengakibatkan efek boomerang, yakni kejenuhan penonton sehingga produksi film dapat mengalami setback. Tantangan ke depan yang harus dilakukan, antara lain dengan melakukan eksplorasi tema dan genre baru dengan antara lain melalui kolaborasi dengan pihak asing, termasuk Hollywood.


Terkait promosi Indonesia sebagai tujuan pembuatan film beberapa isu yang mengemuka antara lain mengenai perizinan atau birokrasi termasuk apakah ada prasyarat menyerahkan script untuk diperiksa terlebih dahulu, faktor keamanan, isu minoritas, faktor tenaga kerja pendukung, ada tidaknya insentif dari pemerintah, isu pembajakan dan infrastruktur. Penjelasan yang disampaikan antara lain bahwa telah banyak kemajuan di dalam regulasi nasional, termasuk pengesahan UU perfilman yang baru, yang lebih memberikan keleluasan bagi pemilihan topik dan proses pembuatan film. Mengenai isu pembajakan diakui memang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum rampung. Ram Punjabi meyakinkan audiens bahwa pembuatan film di Indonesia sangat reasonable dan menguntungkan.


Menanggapi isu pembuatan film di Indonesia tersebut, Jon Turteltaub, antara lain, menggarisbawahi pentingnya Indonesia lebih memperkenalkan diri dengan cara yang tepat kepada masyarakat AS, khususnya Hollywood. Jon Terteltaub memuji forum ini sebagai permulaan yang sangat baik. Sebagai contoh kalau Indonesia ingin mencitrakan dirinya sebagai negara berpenduduk muslim terbesar maka harus ditambah dengan kata-kata seperti moderat atau bersahabat, karena kalau tidak akan menimbulkan salah persepsi. Selain itu Indonesia harus dapat mempromosikan keunikan dan keunggulannya sendiri yang justru tidak dimiliki oleh negara lain. Edd Elbert menyampaikan pendapat bahwa lokasi sangat penting dalam pembuatan film sehingga kadang faktor harga jadi nomor dua, namun dalam keadaan krisis seperti sekarang pertimbangan budget biasanya paling didahulukan.


Acara tersebut ditutup dengan makan malam bersama diiringi dengan persembahan tari-tarian tradisional Indonesia yang mendapat sambutan cukup antusias dari para peserta dan pembicara (KJRI - KE)