ABK Indonesia Antusias Mengikuti Penyuluhan tentang Hukum dan Ketenagakerjaan


Lima, Peru : Pada hari Sabtu, 15 September 2018 KBRI Lima melakukan sosialisasi kekonsuleran dalam rangka peningkatan pemahaman dan pengetahuan tentang hukum, kontrak kerja, hak dan kewajiban sebagai WNI di luar negeri bagi para Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia yang saat ini berada di Peru. Penyuluhan dibuka oleh Duta Besar RI Lima yang dalam sambutannya menyatakan bahwa pemahaman ABK terhadap isi kontrak kerja merupakan hal penting karena di dalamnya berisi kesepakatan kedua belah pihak. Selain itu disampaikan juga bahwa pentingnya lapor diri bagi para ABK yang baru datang, maupun yang akan naik kapal. Dubes RI menambahkan bahwa KBRI merupakan rumah bagi seluruh WNI di luar negeri, sehingga penting bagi WNI maupun ABK untuk bersilaturahmi dan lapor diri ke KBRI Lima.

 

Saat ini terdapat lebih dari 200 kapal asing (Cina, Korea, Spayol, Jepang, Panama dll) penangkap ikan dan cumi yang saat ini beroperasi di perairan Peru, di mana di dalam kapal tersebut dipekerjakan para ABK Indonesia. Penyuluhan diberikan kepada kurang lebih 15 orang ABK  yang merupakan wakil dari 8 buah kapal penangkap ikan dan cumi (Ocean 77, Amor 707, Amor 705, Bada 103, Eun Hae 109, Eun Hae 101, Eun Hae 108 dan Dongil 5) yang saat ini sedang melakukan docking di pelabuhan Callao, Lima.

 

Penyuluhan dan sosialisasi diisi dengan paparan berupa informasi hukum, perjanjian kerja (PK), hak dan kewajiban sebagai ABK Indonesia di luar negeri, pembahasan mengenai perjanjian kerja dari awal perekrutan hingga penandatangan perjanjian kerja, penempatan di kapal, pentingnya lapor diri, pentingnya memahami isi perjanjian kerja, lama kerja dan juga prosedur perpanjangan paspor, serta langkah-langkah apa jika terjadi masalah dan sengketa dan prosedur penyelesaiannya.

 

Saat pelaksanaan penyuluhan juga menampung pertanyaan-pertanyaan dan masalah yang dihadapi para ABK yang kebanyakan menceritakan  keburukan kondisi ABK yang bekerja di kapal-kapal berbendera Tiongkok dan Taiwan. Bahkan ada ABK yang diperlakukan semena-mena dan tidak diberikan fasilitas yang layak atau memadai, hanya diberi makan satu kali sehari dalam bentuk bubur, minum air bersih harus beli, tidak diperbolehkan menggunakan  kamar mandi dan harus mandi di luar menggunakan air laut yang dingin, gaji yang diterima hanya US$150-300 yang akan dibayar setelah dua bulan bekerja, potongan untuk agen sangat besar, waktu istirahat yang diberikan sangat sedikit, obat-obatan sangat minim jika sakit hanya diberikan paracetamol.

 

Dari pertanyaan dan keluhan yang diterima, kebanyakan ABK tidak mengetahui apa yang akan dilakukan di atas kapal dan tidak paham secara menyeluruh isi dari perjanjian kerja, bahkan ada yang menyatakan menandatangani perjanjian kerja di bandara saat akan berangkat keluar negeri. Ada pula yang menyatakan ditakut-takuti akan dipidanakan oleh agen jika tidak mau berangkat karena sudah dibelikan tiket secara sepihak dan terpaksa menandatangani perjanjian kerja.

 

Penyuluhan yang dilakukan KBRI Lima tidak hanya mengundang para ABK datang ke KBRI, namun juga dengan cara melakukan jemput bola ke kantong-kantong ABK di daerah Callao dan Mingka di Lima (KBRI Lima).​