Georgia

PROFIL GEORGIA DAN KERJASAMANYA DENGAN INDONESIA

A.    PROFIL SINGKAT

Nama lengkap : Georgia
Populasi            : 4,4 juta (PBB, 2008)
Ibu Kota : Tbilisi
Luas Wilayah : 69.700 km2
Bahasa Utama
: Georgia, Rusia
Agama Utama 
: Kristen
Usia Rata-rata : 67 tahun (laki-laki), 75 tahun (perempuan)
Mata Uang  
: 1 Lari = 100 tetri
Produk Ekspor : Baja, minuman anggur, buah-buahan
GNI perkapita
: US $ 2.120 (World Bank, 2007)
Domain Internet 
: ge
Kode Telefon Internasional
: +995


B.    SEJARAH SINGKAT

Pada abad ke-1 Masehi, Georgia berada di bawah kekuasaan Romawi. Agama Kristen mulai menjadi agama negara pada tahun 330-an M. pada abad 11-13, wilayah Georgia dikuasai oleh Bangsa Persia, Arab dan Turki, sedangkan Bangsa Mongol baru melakukan invasi pada tahun 1236.

Mulai abad 19, Georgia berada di bawah kekuasaan Imperium Rusia. Selama periode 1918–1921, Georgia sempat merdeka menyusul terjadinya Revolusi Oktober di Uni Soviet namun Georgia dipaksa bergabung kembali ke dalam Uni Soviet. Pada tahun 1991, saat Uni Soviet runtuh, Georgia menyatakan kembali kemerdekaannya dan melantik Zviad   Gamshakurdia sebagai presiden pertama Georgia. Pada tahun 1995, mantan Menlu Uni Soviet Eduard Shevardnadze menduduki jabatan sebagai presiden Georgia menggantikan Zviad Gamshakurdia.

Menyusul kerusuhan Pemilu Parlemen yang melahirkan Revolusi Mawar yang dipimpin oleh Mikheil Saakashvili, maka pada bulan November 2003 Presiden Shevardnadze menyatakan pengunduran dirinya. Dalam pelaksanaan Pemilu Presiden pada bulan Desember 2003, Mikhail Saakashvili berhasil keluar sebagai pemenang dengan suara mutlak. Pada bulan Februari 2004 diselenggarakan Pemilu Parlemen dan sebagai hasilnya, Partai National Movement pimpinan Mikhail Saakashvili menjadi pemenang mutlak. Presiden Saakashvili kemudian mengganti bendera nasional dengan bendera partainya.

1.    Kepartaian

Georgia menganut sistem multi partai. Dalam Pemilu Parlemen 21 Mei 2008, Partai National Movement pimpinan Presiden Mikhail Saakashvili berhasil memperoleh kursi mayoritas. Adapun komposisi perolehan suara hasil pemilu parlemen tsb adalah:

1.
Faksi National Movement – Democrats 
59,22%  (120 kursi)
2.
Faksi National Council-New Rights 17,71%  (16 kursi)
3.
Partai Kristen Demokrat 
8,63%
4.
Partai Buruh  
7,43%
5.
Partai Republik 3,78%
6.
Blok Alliance of the Rights, Topadze-Industrials
0,92%
7.
Aliansi Kristen Demokrat (QDA) 
0,89%
8.
Political Union of Citizens “Georgia Policy”  
0,46%
9.
Blok Tradisional-Our Georgia & Partai Perempuan 
0,45%
10.
Faksi Georgian Sportsmen Union   
0,19%
11.
Partai Nasional Demokrat Radikal Seluruh Georgia 0,18%
12.
Partai Our Country 0,12%       

2.    Perkembangan Politik Luar Negeri

a.    Kebijakan Umum

Pelaksanaan hubungan luar negeri Georgia terutama ditujukan untuk memperoleh dukungan dan bantuan bagi pembangunan ekonomi, reformasi menuju sistim ekonomi pasar dengan prioritas menghilangkan ketergantungan pasok energi dari Rusia. Georgia berkeyakinan bahwa upaya pembangunan hanya dapat berhasil apabila didukung oleh lingkungan kawasan yang damai.

Dalam menangani separatisme Abkhazia dan Ossetia Selatan, Pemerintah Georgia tetap memegang prinsip bahwa kedua wilayah tsb merupakan bagian wilayah kedaulatan Georgia, sebagaimana diakui oleh masyarakat internasional melalui 14 resolusi Dewan Keamanan PBB (sampai dengan akhir tahun 1997) maupun negara-negara anggota OSCE. Demikian pula tuduhan politik pembersihan etnik (genocide) yang dilakukan oleh separatis Abkhazia telah dimasukkan ke dalam Deklarasi KTT OSCE di Budapest bulan September 1994.

Setelah perang/konflik bersenjata antara Georgia dengan Rusia pada tanggal 8 Agustus 2008 yang telah menyebabkan banyaknya korban jiwa dan mengundang reaksi dari komunitas internasional, Georgia mengharapkan agar misi perdamaian apapun  yang ditempatkan di wilayah Georgia dibawah pengawasan PBB akan bertujuan untuk mengawasi secara menyeluruh 6 pokok persetujuan gencatan senjata yang ditandatangani tgl 12 agustus 2008.

b.    Hubungan Ukraina dengan Organisasi Internasional/Regional

Georgia saat ini memusatkan perhatian untuk membina kerjasama kawasan melalui ide Peaceful Caucasus, disamping aktif mengikuti kerjasama ekonomi Laut Hitam (BSEC). Georgia juga merintis hubungan dengan negara-negara Eropa untuk nantinya dapat menjadi bagian dari struktur kerjasama Eropa (Uni Eropa). Georgia tidak menentang perluasan NATO dan makin aktif mengikuti program-program PFP NATO meskipun mendapat kecaman Rusia.

Georgia menolak sistim kerjasama the Commonwealth of  Independent States (CIS)   yang bersifat supranasional dan didominasi Rusia. Parlemen Georgia pada tgl 12 Juni 2009 dengan suara bulat mengeluarkan dekrit keluarnya Georgia dari the Commonwealth of Independent States (CIS).  hal tsb dikatakan oleh ketua Parlemen Georgia, Davit Bakradze setelah selesai sidang pertama setelah 2 bulan berlangsungnya protes di Tbilisi.  Georgia memberitahukan kepada Komite Eksekutif CIS terkait keinginan keluar dari CIS  pada tanggal 18 Agustus 2008.  langkah tersebut diambil setelah perang  5 hari  dgn Rusia  di  Ossetia Selatan.

Untuk mengimbangi pengaruh Rusia di kawasan, Georgia telah menyatakan diri akan bergabung ke dalam NATO. Hal ini disambut baik oleh AS yang segera mengirim tim militernya untuk melatih tentara Georgia, khususnya pasukan penjaga perbatasan, dengan dalih untuk mengatasi teroris yang sering menyusup ke dalam wilayah Georgia.

c.    Hubungan Georgia dengan negara-negara tetangga

Hubungan Georgia dengan negara tetangga utamanya, yakni Rusia, selama pemerintahan Presiden Saakashvili yang cenderung pro-Barat sangat buruk.  Secara terus terang, Presiden Saakashvili menyebutkan bahwa Rusia selalu berusaha merongrong Georgia dengan berbagai cara, termasuk memprovokasi separatisme di Abkhazia dan Ossetia Selatan, memblokade ekonomi Georgia dengan melarang impor komoditi utama Georgia, yakni wine dan air mineral maupun menaikkan harga migas terhadap Georgia secara sepihak. Hubungan Georgia dan Rusia semakin memburuk dan mencapai puncaknya pada 8 Agustus 2008 yang menyebabkan perang/konflik bersenjata antara kedua negara yang menimbulkan banyak korban dan meminta keprihatinan seluruh komunitas internasional.

Pihak Rusia menyatakan ingin melindungi warga Rusia di wilayah Ossetia Selatan dan Abkhazia. Sementara di pihak lain, Georgia berupaya untuk mempertahankan integritas kedaulatan wilayahnya sesuai dengan prinsip dan norma-norma hukum internasional dari ancaman separatisme. Konflik tsb akhirnya diredakan melalui penandatanganan Ceasefire Agreement, 12 Agustus 2008 yang ditandatangani oleh Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Presiden Perancis, Nicholas Sarkozy atas nama Uni Eropa, yang memuat six point plan. Konflik bersenjata tsb juga sempat diperburuk dengan pengakuan Rusia secara sepihak terhadap kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia, 26 Agustus 2008 yang mengundang reaksi dari berbagai pihak. Sementara itu hubungan dengan negara-negara tetangga lainnya, yakni Armenia, Azerbaijan dan Turki tidak mengalami hambatan.

d.    Hubungan Georgia  dengan negara-negara besar atau di kawasan lain

Pemerintahan Presiden Saakashvili telah mencanangkan untuk bergabung ke dalam Uni Eropa dan aliansi NATO, sehingga hubungan Georgia dengan negara-negara Eropa dan AS merupakan prioritas utamanya. Secara militer, Georgia berharap keberadaan AS di kawasan Kaukasus dapat mengimbangi pengaruh Rusia. Dalam kaitan ini pengembangan hubungan Georgia dengan AS merupakan sesuatu hal penting dalam kebijakan politik luar negeri Georgia, terutama dengan ditandatanganinya Piagam Kemitraan Strategis Georgia-AS, 9 Januari 2009 di Washington.

e.    Latihan militer

Menteri Pertahanan Georgia mengatakan sebanyak 1.100 orang  dari 16 negara  NATO  dan mitra NATO berpartisipasi dalam latihan di Georgia.  cooperative longbow-2009 tsb dimulai pada 6 Mei 2009. latihan tsb merupakan latihan operasi pada tingkat brigade multinasional dan diikuti dgn latihan cooperative lancer-2009 yang akan melatih pasukan pada tingkat batalyon  dalam operasi perdamaian yang berakhir hingga  1 Juni 2009.  20 negara akan ikut ambil bagian namun Armenia, Moldova, Serbia dan Kazakhstan mengundurkan diri setelah Rusia protes akan keterlibatannya.
 
MEDIA

  • Sakartvelos Respublika (Republic of Georgia) – surat kabar harian, dulunya merupakan media yang digunakan untuk menyuarakan kebijakan pemerintah
  • 24 Saati (24 Hours) – surat kabar harian komersial oleh Rustavi group
  • Rezonansi (Resonance) – surat kabar harian komersial
  • Alia (Repatriation) – surat kabar mingguan komersial
  • Akhali Versia (New Version) – surat kabar mingguan komersial
  • Kvilis Palitra – surat kabar mingguan komersial
  • Georgian Times – surat kabar mingguan berbahasa lnggris
  • Georgia Today – surat kabar mingguan berbahasa lnggris
  • Georgian Messenger – surat kabar harian berbahasa lnggris
  • Svobodnaya Gruzia (Free Georgia) – surat kabar harian berbahasa Rusia,  dulunya merupakan milik pemerintah
  • Archive of Georgian newspapers – surat kabar berbahasa Georgia

Televisi

Radio

  • Georgian Public Radio – memiliki dua jaringan
  • Radio Imedi – jaringan milik swasta, tentang berita-berita nasional
  • Fortuna FM – jaringan milik swasta, lebih banyak mengenai dunia musik
  • Mtsvane Talgha (Green Wave) – jaringan radio nasional yang memiliki hubungan dengan LSM

Kantor Berita/Internet
  • Prime-News - swasta, berbahasa lnggris
  • Kavkas-Press - swasta
  • Civil Georgia – situs berita yang dijalankan oleh United Nations Association of Georgia


HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA-GEORGIA


BIDANG POLITIK

A.    Umum

Indonesia memberikan pengakuan atas kemerdekaan Georgia pada tanggal 27 Juli 1992. Hubungan diplomatik kedua negara disepakati dalam Komunike Bersama yang ditandatangani pada tanggal 25 Januari 1993. Dengan Keppres No. 88/1993 tanggal 30 September 1993, KBRI Kyiv merangkap Georgia.

Hubungan bilateral RI-Georgia menunjukkan perkembangan positif pada tahun 2007, seiring dengan perubahan dan perkembangan dalam negeri Georgia saat itu. Pada tahun tsb, kedua negara melakukan pertemuan bilateral pada tingkat expert yang dipimpin oleh Direktur Eropa Tengah dan Timur Deplu didampingi oleh Dubes RI Kyiv dan staf pada saat kunjungan ke Georgia 21-22 Februari 2007. Pada kesempatan tsb berhasil diparaf Persetujuan Perdagangan dan Kerja Sama Ekonomi dan Teknik (KSET) RI-Georgia.

Secara umum, hubungan diplomatik Indonesia-Georgia selama ini berjalan dengan baik  dan tidak ada ganjalan secara politis yang mengganggu hubungan kedua negara.

B.    Sikap Pemerintah Indonesia atas masalah Ossetia Selatan dan Abkhazia

Indonesia menjunjung tinggi penghormatan terhadap keutuhan wilayah dan kedaulatan negara, yang merupakan masalah prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB dan hukum internasional. Oleh karena itu Indonesia sejak semula mengharapkan masalah Ossetia Selatan dan Abkhazia dapat diselesaikan melalui cara-cara damai dalam proses di bawah kendali Dewan Keamanan PBB (DK PBB), yang mempunyai mandat untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional. 

Penghormatan terhadap prinsip keutuhan wilayah (territorial integrity) dan kesatuan nasional (national unity) ini harus dipegang teguh dalam hubungan antar negara. Kedua prinsip ini telah ditegaskan dan digarisbawahi oleh Indonesia ketika menghadapi masalah Kosovo, sebab Indonesia tidak ingin pengecualian atas prinsip tersebut dijadikan preseden dalam penanganan masalah serupa, termasuk menyangkut alasan perlindungan atas sebagian warga negara dari suatu negara yang berdomisili di wilayah nasional suatu negara.

Oleh karena itu, seperti halnya kasus lepasnya Kosovo dari entitas Serbia merdeka, sulit bagi Indonesia untuk mengakui kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia atas alasan apapun yang digunakan oleh negara sahabat seperti Rusia guna melindungi warga negara Georgia keturunan Rusia.
Sejak awal, konflik mengenai Ossetia Selatan dan Abkhazia yang melibatkan Rusia dan Georgia merupakan masalah keamanan dan perdamaian internasional. Oleh karena itu, Indonesia tetap berharap DK PBB, utamanya negara-negara anggota tetap DK PBB, memberikan pengutamaan peranan DK PBB untuk menyelesaikan masalah tersebut.

BIDANG EKONOMI

A.    Kerjasama Ekonomi Bilateral RI-Georgia


Berdasarkan data dari BPS (diolah Pusdata Depdag RI), volume perdagangan bilateral RI-Georgia untuk tahun 2007 mencapai sebesar USD 21,01 juta, dengan surplus sebesar USD 20,42 juta untuk Indonesia. Sedangkan untuk tahun 2008, volume perdagangan kedua negara mencapai sebesar USD 34,720 juta, dengan surplus di pihak Indonesia sebesar USD 31,04 juta.

Komoditi ekspor utama Indonesia ke Georgia, antara lain kopi, aki, peralatan pengukuran gas/air, produk kertas dan karton, ban, minyak kelapa sawit, kelapa dan produk turunannya, serta produk kayu. Sedangkan komoditi impor Indonesia dari Georgia antara lain peralatan mesin, bahan pewarna sintetis, polimer, jenis gula (laktosa, maltose, glukosa dan fruktosa), pakaian, sabun dan bahan-bahan dasarnya, mesin cetak dan alat-alat percetakan. Berikut neraca perdagangan antara RI-Georgia:

NERACA PERDAGANGAN RI-GEORGIA
PERIODE 2003-2008
      (Nilai: Ribu US$)

URAIAN    2004    2005
2006
2007
2008
Jan-Mei
2008
2009

TOTAL PERDAGANGAN
6.030,3 8.909,9 
15.354,3 
21.015,2
34.720,8
9.842,7 6.419,3
EKSPOR    5.563,3 8.325,9 14.924,7 20.718,8
32.883,1 9.611,9 6.275,4
IMPOR    0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
NERACA PERDAGANGAN 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah Pusdata Dep. Perdagangan)

Menurut data statistik Georgia, beberapa jenis komoditas ekspor Indonesia ke Georgia adalah kopi, minyak kelapa sawit, electric power meter, wheel dan mebel sedangkan Georgia mengekspor alat-alat percetakan.

Dalam upaya mendorong hubungan kedua negara, khususnya di bidang ekonomi dan perdagangan, saat ini sedang dijajaki penunjukan seorang warga Georgia sebagai Konsul Kehormatan RI di Georgia. Diharapkan pencalonan tsb mendapat persetujuan dalam waktu dekat, baik  dari Pemerintah RI maupun dari Pemerintah Georgia.

Untuk mendorong hubungan dan kerjasama bilateral di bidang ekonomi dan perdagangan, terutama melalui kontak antara pengusaha kedua negara, Indonesia mengharapkan keikutsertaan para pengusaha Georgia untuk ikut dalam Pameran Produk Ekspor (PPE) Indonesia yang diselenggarakan secara reguler sekitar pertengahan Oktober setiap tahun.

Sebagai upaya untuk penanggulangan money laundering dalam transaksi ekonomi, kedua negara telah menandatangani MoU between the Competent Authorities of the Indonesian Financial Transaction Reports and Analysis Center of the Republic of Indonesia and the Financial Monitoring Service of Georgia concerning Cooperation in the Exchange of Financial Intelligence Related to Money Laundering and Financing of Terorism, yang ditandatangani oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dengan Financial Intelligent Unit (FIU) Georgia melalui pertukaran dokumen di Georgia tanggal 10 Maret 2008 dan di Jakarta pada tanggal 30 Maret 2008.

Di bidang ekonomi dan perdagangan, terdapat  beberapa persetujuan pending, yang pernah dijajaki kemungkinan kerjasama kedua negara, antara lain:
  • Persetujuan Peningkatan dan Perlindungan Penanaman Modal (P4M),
  • Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B),
  • Persetujuan Transportasi Laut, dan
  • Persetujuan Perhubungan Udara.

Kedua pihak pada tanggal 22 Februari 2007 telah memaraf Persetujuan Kerjasama Ekonomi dan Teknik (KSET) dan Persetujuan Perdagangan RI-Georgia di Tbilisi, Georgia saat kunjungan Direktur ETT, Deplu bersama Dubes RI Kyiv dan staf ke Georgia. Diharapkan kedua persetujuan tsb nantinya dapat ditandatangani pada waktu yang tepat (saat adanya kunjungan pejabat tinggi antara kedua negara), sebagai pembuka jalan bagi pengembangan hubungan bilateral RI-Georgia, khususnya di bidang ekonomi dan perdagangan.

SOSIAL BUDAYA

Meskipun sampai saat ini belum terdapat kerjasama antara kedua negara di bidang sosial-budaya maupun pariwisata  namun diharapkan terdapat peningkatan kontak antara masyarakat kedua negara melalui kunjungan wisatawan Georgia ke Indonesia dan sebaliknya. Berdasarkan data KBRI Kyiv pada tahun 2007, terdapat sebanyak 8 orang warga Georgia yang berkunjung ke Indonesia, sedangkan pada tahun 2008 sebanyak 39 orang, dan tahun 2009 (Januari-sekarang)  sebanyak 11 orang.

Dalam rangka mendorong peningkatan saling kontak antar masyarakat kedua negara, pemerintah Indonesia pada tahun 2009-2010 menawarkan beasiswa ”Dharmasiswa” kepada para mahasiswa asing untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia selama 1 tahun di Indonesia. Informasi mengenai hal tsb dapat di lihat melalui alamat website www.darmasiswa.depdiknas.org. Dalam kaitan tsb, pemerintah Indonesia terus mengharapkan adanya keikutsertaan mahasiswa Georgia memanfaatkan tawaran beasiswa tsb untuk belajar di Indonesia.

Atas undangan Kementerian Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Georgia, team Indonesia berpartisipasi pada the Third International Young Inventors Project Olympiad (IYIPO) 2009 di Tbilisi pada tanggal 14-16 Mei 2009, yang diikuti 21 negara dengan memperlombakan 50 proyek penelitian. Pada event tsb tim Indonesia memperoleh 1 emas dan 3 perunggu, antara lain oleh Ridho Assidicky (16), murid State Senior High School of Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) meraih medali emas dengan penelitian mengenai “biological project experiment of potential ornament plants as noise reducing factors”, dan Muhammad Royyan (16) juga murid SBBS meraih medali perunggu dengan penelitian “the usage of generation function in solving combinatory problem”.


DOKUMEN PENDING

Kedua negara pada perundingan di Tbilisi, Georgia, 22 Februari 2007, saat kunjungan Direktur Eropa Tengah dan Timur Deplu didampingi oleh Dubes RI Kyiv dan staf telah memfinalisasi dan berhasil memaraf 2 dokumen, yaitu:

  1. Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Georgia on Economic and Technical Cooperation
  2. Trade Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Georgia
  3. Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Georgia concerning the Promotion and Protection on Investments
  4. Agreement for the Avoidance of Double Taxation and the Prevention of Fiscal Evasion with Respect to Taxes on Income
  5. Agreement on Sea Transportation
  6. Agreement on Air Transportation

KETERANGAN DASAR SINGKAT EKONOMI

NEGARA AKREDITASI GEORGIA

Hari Kemerdekaan                     :  9 April 1991

Penduduk Georgia                     : 4,615 juta orang (Juli 2010)

PDB per kapita                         : US$ 2.971 (2008), US$ 2.580 (2009), US$ 2.743 (perkiraan 2010)

PDB                                         : US$ 12,8 milyar (2008), US$ 11 milyar (2009), US$ 11,6 milyar

                                                  (perkiraan 2010)

Inflasi 2009                               : 3%

Inflasi 2010                               : 4,9% (periode Januari – Juli 2010)

Hutang  Luar  negeri Georgia      : US$ 3,583 milyar (31 Juli 2010)

Volume perdagangan 2009        : US$ 5,5 milyar

Ekspor dan impor                     : US$ 1,13 milyar dan US$ 4,369 milyar

Volume perdagangan 2010        : US$  3,506 milyar (Januari-Juli)

Ekspor dan impor                     : US$ 0,864 milyar

Cadangan devisa luar negeri      : US$ 2,642 milyar

Pertumbuhan Ekonomi             : 3,9% (2009) akibat terjadi penurunan di sektor perdagangan jasa

                                                 dan hospitality industry. Sementara itu pada periode Januari-Juli 2010 sebesar 5%yg didorong oleh ekspor  energi dan  capaian perbankan

FDI                                           :  US$ 1,564 milyar (2008), US$ 658 juta (2009)

Komposisi etnik                        :  Etnik Georgia 83,8%,  Azerbaijan  6,5%,  Armenia 5,7%, Rusia 1,5%

                                                   dan lainnya 2,2%

Luas wilayah                             :  69.700 km 2

Perbatasan                               :  Armenia  164 km,  Azerbaijan 322 km,  Russia 723 km,Turki 252 km

Mata uang                                :   Lari (1 USD/ 1,84 Lari) per tanggal 6 September 2010

Sungai                                      :  Sungai Rioni di Georgia Barat dan Sungai  Mtkvari di sepanjang

                                                   pegunungan Kaukasus

Pelabuhan Laut Internasional      :  Batumi dan Poti (wilayah laut hitam)

Letak Geografi                           :  Kawasan Kaukasus Selatan 

 

Catatan:

Penduduk Tbilisi                        :  1,152 juta orang (2010)

Luas                                         :  726 km 2

Komposisi etnik                        :  Georgia 80%, etnik lainnya Armenia, Azerbaijan, Rusia, Ukraina, Yahudi, dsb.