Hubungan Bilateral Indonesia - Kuwait

Sejak dibukanya hubungan diplomatik pada 28 Februari 1968, hubungan RI-Kuwait secara umum berjalan dengan baik dan menunjukkan banyak potensi peningkatan. Hal ini ditandai dengan saling kunjung leaders kedua negara, yang terakhir adalah kunjungan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ke Kuwait pada 29-30 April 2006 dan kunjungan mantan PM Kuwait Sheikh Nasser Al Mohammad Al Ahmad Al Sabah ke Indonesia pada 30 Mei-1 Juni 2007. Pertemuan terakhir tingkat Menteri Luar Negeri, yaitu antara Menteri Luar Negeri RI H.E. Retno L.P. Marsudi dan Minister of Foreign Affairs Kuwait H.E. Sheikh Sabah Al Khalid Al Hamad Al Sabah, dilaksanakan di New York, AS, pada 25 September 2015, di sela-sela UNGA 70.

Pertemuan-pertemuan tersebut penting bagi upaya peningkatan kerja sama. Kedua negara memiliki perhatian dan prioritas yang sama dalam memastikan keamanan dan dengan menggali peluang di berbagai bidang, khususnya perdagangan, investasi, pariwisata dan ketenagakerjaan. Indonesia memiliki komoditas ekspor yang masih diminati Kuwait seperti arang, kertas, besi-baja, mesin industri, pakaian, makanan dan furnitur. Indonesia juga sedang mengembangkan destinasi pariwisata baru yang dapat menjadi tujuan FDI yang menarik bagi Kuwait.

Di sisi lain, Kuwait juga memiliki rencana pembangunan Kuwait 2035 yang masih terbuka sebagai peluang kerja sama seperti pembangunan infrastruktur, inovasi-kewirausahaan (start up business) dan renewable energy. Kuwait juga masih memiliki peluang kerja bagi tenaga kerja formal Indonesia seperti sektor perminyakan, keuangan, transportasi, rumah sakit, perhotelan, konstruksi, retail dan percetakan. 

 

-o0o-