KJRI Bantu Repatriasi 7 WNI-B Untuk Pulang ke Kampungnya

Pada hari Rabu, 27 September 2017 Satgas PWNI telah memfasilitasi kepulangan (repatrasi) 7 (tujuh) orang WNI-B (terdiri dari 4 dewasa dan 3 anak) ke Tawau, Sabah melalui perjalanan darat dan selanjutnya meneruskan perjalanan dengan menaiki kapal feri Mid East untuk menyeberang ke Nunukan Kalimantan Utara.

Menurut Rizal Noor, PF Konsuler 3, anggota Tim Satgas, data WNI-B yang direpatriasi dan kasus yang menimpa mereka. Elsa Afrina (40 tahun), seorang diantara yang direpatriasi adalah pemegang Paspor RI sah namun berstatus ilegal dan bekerja sebagai PRT dengan majikan a.n. Sitti Nurul H sejak bulan Desember 2015. Selama bekerja Ybs menerima gaji RM 800 namun tidak diuruskan jaminan/PLKS. Ybs telah berkali - kali menanyakan mengenai PLKS nya namun majikan hanya mengatakan bahwa untuk memohon PLKS diperlukan persyaratan yang susah dan biaya yang mahal. Ybs merasa tertekan karena statusnya memohon bantuan pemulangan ke daerah asal di Lombok Timur, NTB.

Bagitupun Haeruddin Bin A Rasiah (55 tahun), dia tidak memiliki Paspor RI dan berstatus ilegal dan tinggal di Kg. Bakiau, Keningau. Ybs sebelumnya bekerja pada Ladang Felcra- Ansip, Keningau dan sejak dua bulan yang lalu mengundurkan diri karena kesehatan matanya tidak memungkinkan Ybs untuk bekerja. Ybs menderita penyakit mata yang menyebabkan mata kirinya saat ini tidak berfungsi dan mata kanan mulai tidak bisa melihat dengan jelas. Pihak Hospital Keningau telah memnberikan keterangan kondisi penyakit mata Ybs dan menyatakan Ybs tidak dapat melanjutkan pengobatan karena ketiadaan biaya. Mengingat kondisi kesehatan dan ketidakmampuan keuangannya, Ybs memohon bantuan pemulangan ke daerah asal di Lombok Timur, NTB.

Sedangkan Lamtiur Nainggolan (34 tahun) menurut catatan Tim Satgas adalah WNI yang telah menikah dengan seorang WN Malaysia a.n. Mius @ Musi dan dikarunai 3 orang anak yang lahir di Malaysia a.n. Luke Imanuel Mius Menurung, Sharon Olivia, dan March Stevenson Mius. Ybs terlibat perselisihan dengan suaminya dan mohon bantuan KJRI untuk mencari solusi namun tidak dicapai kesepakatan diantara suami-istri tersebut. Atas keinginan dan permohonan Sdr. Lamtiur dan seijin tertulis dari suaminya, Ybs bersama tiga anaknya memohon bantuan pemulangan ke daerah asal di Medan, Sumatera Utara.

Senada dengan Lamtiur, Siti Ariyani Bte Selamat (63 tahun) tidak memiliki Paspor RI dan berstatus ilegal dan hidup sebatangkara di Kota Kinabalu dengan  tinggal menumpang di kediaman seorang WN Malaysia a.n. Suparlan Bin Roto. Ybs saat ini dalam kondisi mulai pikun dan tidak memiliki uang sehingga memohon bantuan pemulangan ke daerah asal di Balikpapan, Kalimantan Timur. 

Dihubungi secara terpisah, Konjen RI Kota Kinabalu, Akhmad DH Irfan mengatakan bahwa mereka yang difasilitasi repatriasinya oleh KJRI nantinya akan dipulangkan dari Kota Kinabalu ke Indonesia via Nunukan. Tim Satgas telah menugaskan staf Satgas dipimpin oleh Sukartono untuk mengawal mereka. Setibanya di  Nunukan, ketujuh WNI akan langsung ditangani oleh  BP3TKI, Kantor Imigrasi, dan Dinas Sosnakertrans Kabupaten Nunukan. Dan selanjutnya akan dipulangkan ke daerah asalnya masing2.