Indonesia dan Pakistan Tingkatkan Kerja Sama Ekonomi yang Lebih Luas

Dalam berbagai kesempatan pertemuan antara KBRI Islamabad dengan kalangan Pakistan baik pemerintah maupun pelaku usaha, diperoleh komitmen dari kedua pihak untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan perdagangan yang lebih luas. Salah satunya ditangkap dari pernyataan President Sargodha Chamber of Commerce and Industry (SCCI), Mr. Sheikh Muhammad Naveed Iqbal saat menerima kunjungan delegasi KBRIdi kantor SCCI. Sargodha terletak di Provinsi Punjab (sekitar 200 km dari Islamabad) merupakan salah satu produsen terbesar jeruk Kinnow dengan nilai ekspor USD 250 juta, 70% dari total ekspor jeruk nasional.

 

Hal yang sama juga disampaikan eksportir Jeruk Kinnow asal Sargodha, Mr. Shahid Sultan yang melihat potensi hubungan dengan Indonesia masih terbuka lebar dan dapat meluas ke dalam berbagai bentuk kegiatan ekonomi, perdagangan dan investasi. “Saya awalnya melihat Indonesia sebagai pasar untuk jeruk Kinnow saja, namun selanjutnya saya tertarik menanamkan investasi membangun pabrik sabun di Jababeka," tutur Shahid Sultan dalam setiap kesempatan pertemuan dengan KBRI Islamabad.

 

“Nilai investasi saya saat ini baru mencapai sekitar USD 20 juta dan Insya Allah akan bertambah," sambung Sultan. Pabrik tersebut akan memproduksi 50 ribu ton sabun per tahun yang akan dikemas dengan merk dagang khusus untuk dipasarkan di seluruh Indonesia dan diekspor ke negara- negara Afrika hingga 59 negara di dunia.

 

Implementasi Preferential Trade Agreement (PTA) Indonesia-Pakistan pada tahun 2013 telah membuka jalan untuk memasukan jeruk Kinnow ke Indonesia dengan tingkat tariff nol percent dan memasukan kelapa sawit Indonesia ke Pakistan dengan bea tariff yang sama dengan CPO asal Malaysia yang telah lebih dahulu memiliki FTA dengan Pakistan.

 

Neraca perdagangan tahun 2017, menempatkan surplus Indonesia sebesar USD 2,15 miliar dari total nilai perdagangan bilateral sebesar USD 2,64 miliar. Namun faktanya kondisi tersebut tidak menyurutkan keinginan Pakistan berdagang dengan Indonesia. “Impor kelapa sawit berdampak ekonomi yang besar melalui penciptaan berbagai industri pengolahan dan lapangan kerja," ujar salah seorang pengusaha di Sargodha. Kebutuhan rakyat terhadap vegetable oil juga dapat terpenuhi dengan mudah, murah dan melimpah dimana 80% sumber impornya dari Indonesia.

 

Lebih lanjut SCCI juga berterima kasih kepada Indonesia sebagai importir Kinnow terbesar kedua setelah Rusia dengan nilai impor untuk tahun 2017 sekitar USD 25 juta (Rusia USD 43 juta). Selain itu, upaya Pemerintah RI memberikan tambahan tingkat tariff nol percent bagi 20 item produk Pakistan ke pasar Indonesia juga mendapatkan apresiasi berbagai kalangan Pakistan. “Dalam konteks upaya membangun keberlangsungan perdagangan bilateral, setiap partner sudah seharusnya mengapresiasi dan memperhatikan kebutuhan masing-masing," ucap Dubes Iwan Amri pada suatu kesempatan yang berbeda mengomentari semua itikad bagi perluasan kerja sama ekonomi dimaksud.

 

Kunjungan ke Sargodha kali ini dilakukan KBRI Islamabad selain untuk mengingatkan para pelaku usaha hadir dalam Trade Expo Indonesia (TEI) pada tanggal 24-28 Oktober 2018 di ICE BSD Banten, juga untuk saling tukar pandangan dan mencari langkah bersama dalam upaya peningkatan kerja sama di sektor ekonomi dan perdagangan antara dua negara bersahabat. Ajang TEI 2018 akan memperkaya pengetahuan dan pemahaman mengenai kapasitas ekonomi Indonesia sekaligus menuai potensi kerja sama ekonomi yang lebih luas antara kedua pihak.​