Asia-Europe Meeting (ASEM)


1. Latar Belakang dan Tujuan

Asia Europe Meeting (ASEM) didirikan di Bangkok tahun 1996. Hingga saat ini keanggotaan ASEM terus berkembang hingga mencakup 53 mitra (partners) yang terdiri dari 21 negara Asia, 30 negara Eropa, Sekretariat ASEAN, dan Uni Eropa. ASEM merupakan forum dialog dan kerjasama antar-kawasan Asia dan Eropa yang ditujukan untuk menciptakan kemitraan dan kemajuan Asia-Eropa, memperkuat dialog yang setara dan membangun saling pengertian kedua kawasan. Sifat kerja sama ASEM adalah informal, non-binding, multi-dimensional dan evolutionary. Fokus ASEM pada tiga pilar kerja sama yaitu politik; ekonomi; dan sosial-budaya. ​

Mekanisme kerja ASEM bermuara pada pertemuan Kepala Negara/Pemerintahan ASEM dalam format Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dan dilangsungkan dua tahun sekali. Di bawah KTT ASEM, terdapat mekanisme pertemuan Menteri Luar Negeri ASEM (ASEM Foreign Ministers Meeting/FMM) yang dilangsungkan 2 tahun sekali, berselang-seling dengan jadwal KTT ASEM.

Hasil kesepakatan para Pemimpin ASEM dan Menteri Luar Negeri ASEM tersebut ditindaklanjuti pada pertemuan Pejabat Tinggi (Senior Officials) ASEM yang biasanya diadakan dua kali dalam setahun.

Materi pembahasan SOM, FMM, dan KTT mencerminkan isu-isu internasional, regional maupun kasus-kasus tertentu yang memiliki muatan politis tinggi serta berdampak besar terhadap kepentingan stabilitas keamanan, perdamaian dan kesejahteraan global.

Pada perkembangannya, cakupan kerja sama ASEM terus diperluas. Di bidang ekonomi, terdapat mekanisme ASEM Finance Ministers' Meeting, Economic Ministers' Meeting dan ASEM Transport Ministers Meeting serta pertemuan Direktur Jenderal Bea dan Cukai ASEM.

Forum kerja sama sosial-budaya ASEM dicerminkan antara lain melalui ASEM Culture Ministers' Meeting dan ASEM Education Ministers' Meeting.

Untuk memperkuat kerja sama sosial budaya ASEM, ASEM membentuk Asia Europe Foundation (ASEF) yang berstatus sebagai lembaga nirlaba yang bergerak dalam berbagai kegiatan sosial budaya misalnya Model ASEM dan ASEM Journalist Colloquium

Kerja sama ASEM diperkaya dengan mekanisme kerjasama non-pemerintah yang meliputi kerjasama parlemen, bisnis dan masyarakat madani (civil society) yang antara lain terdiri dari forum antar-kalangan pebisnis (Asia-Europe Business Forum/AEBF); antar-Parlemen (Asia Europe Parliamentary Partnership Meeting/ASEP) dan antar-masyarakat madani (Asia-Europe People's Forum/AEPF).

Sejalan dengan prioritas Pemri saat ini, kerja sama ASEM dapat mendukung pencapaian target nasional dalam kerangka peningkatan perdagangan, investasi, pengentasan kemiskinan, peningkatan kapasitas SDM Indonesia. 


2. Update Kerja Sama ASEM

Connectivity

Pada KTT ASEM ke-11 di Mongolia tahun 2016, para Pemimpin ASEM telah menggariskan visi mengenai konektivitas yang antara lain meliputi sinergi program konektivitas yang ada di kedua kawasan; penguatan people to people's connectivity; harmonisasi peraturan imigrasi dan cukai untuk kelancaran people's mobility, barang dan jasa; peningkatan kemitraan di berbagai bidang; penurunan non-tariff barriers; penguatan standardisasi digital; kerangka kerja yang tepat dan efektif untuk connectivity; peningkatan liberalisasi perdagangan; dan peningkatan keterlibatan generasi muda dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi termasuk melalui pendidikan kejuruan. 

Direkomendasikan agar penekanan konektivitas ASEM dijadikan prioritas kerja sama dan bertumpu pada sektor ekonomi. Hal ini berarti diperlukan adanya hard infrastructure antara lain infrastruktur transportasi, perdagangan dan investasi, people-to-people contact, jaringan logistik, jalur energi, serta informasi dan teknologi komunikasi. Selain itu, diperlukan soft infrastructure berupa kebijakan, strategi, cukai, pengembangan kapasitas dalam kerja sama lintas batas.

Terkait pengembangan konektivitas, Indonesia akan menjadi tuan rumah The 4th ASEM Transport Ministers Meeting yang akan diselenggarakan di Bali, Indonesia pada 26-28 September 2017.

Pada 21 Juni 2017, telah diadakan pertemuan pertama ASEM Pathfinder Group on Connectivity (APGC) di Brussel, Belgia. APGC merupakan mandat KTT ASEM ke-11 di Mongolia dan bertugas untuk menyusun rencana aksi konkrit terkait konektivitas Asia-Eropa sebagai rekomendasi kepada SOM dan KTT. Kerangka waktu pelaporan rencana aksi tersebut adalah dua tahun.

ASEM Tangible Areas of Cooperation

Pada KTT ASEM ke-10 di Milan tahun 2014 dan diperkuat pada KTT ASEM ke-11 di Mongolia tahun 2016, para mitra ASEM telah bersepakat untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan ASEM yang konkrit (tangible cooperation) agar dapat memberikan manfaat kepada para pemangku kepentingan yang seluas-luasnya.

Dalam kerangka ASEM tangible cooperation, para mitra ASEM berinisiatif menyelenggarakan berbagai kegiatan seminar, workshop maupun konferensi mengenai berbagai sektor antara lain manajemen resiko bencana, manajemen perairan, kurikulum pendidikan, kebijakan anti-korupsi, kesehatan, dalam rangka memfasilitasi pertukaran gagasan, informasi, pengalaman, best-practice dan pengembangan networking.

Pada KTT ASEM ke-11 di Mongolia, Indonesia menjadi pelopor kerja sama bidang kepemudaan ASEM. Prakarsa Indonesia ini mendapat dukungan dari mitra ASEM, salah satunya India. Sejalan dengan kepemimpinan Indonesia dalam kerja sama kepemudaan, Indonesia telah menjadi tuan rumah kompetisi kewirausahaan bagi para pemuda Asia Eropa, ASEM  First Youth Entrepreneurial Meeting: Passion-preneurs' Challenge Towards 20 Years of ASEM pada Oktober 2016.

Kerja Sama Ekonomi ASEM

ASEM EMM pertama kali diselenggarakan di Makuhari, Jepang pada tahun 1997. Pada tahun 1996 di Brussels, telah diselenggarakan SOMTI untuk pertama kalinya. ASEM EMM terakhir kali diselenggarakan di RRT pada tahun 2003 dan SOMTI terakhir kali diselenggarakan pada tahun 2008 di Slovenia. Indonesia pernah menjadi tuan rumah SOMTI ke-8 pada tahun 2002 di Bali.

Saat ini, ASEM memiliki 53 mitra dan mewakili 60% GDP dunia dan lebih dari 60 % populasi dunia. Potensi kerja sama ekonomi di berbagai bidang seperti konektivitas, perdagangan lintas batas, fasilitasi perdagangan, SMEs, global value chains, intellectual property, dan perubahan iklim sangatlah besar.

Terkait konektivitas di bidang perdagangan dan investasi, para Pemimpin ASEM memandang perlunya reaktivasi EMM sebagai jembatan untuk membangun kerja sama yang lebih kuat di bidang perdagangan dan investasi. Pertemuan ASEM selanjutnya akan diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan, 21-22 September 2017.

Korea Selatan sebagai penggagas reaktivasi ASEM EMM dan tuan rumah ASEM EMM 2017 mengusulkan beberapa topik yang akan dibahas dalam pertemuan antara lain Facilitating and Promoting Trade and Investment, Strengthening Economic Connectivity, dan Sustainable and Inclusive Growth.


3. KTT ASEM 2016 di Ulan Bator, Mongolia

ASEM merayakan ulang tahun ke-20 pada tahun 2016, bertepatan dengan penyelenggaraan KTT ASEM ke-11 di Mongolia. Agenda KTT ASEM ke-11 ini adalah review atas capaian yang telah dihasilkan dan arah perkembangan ASEM ke masa depan.

Ketua Delegasi Indonesia, Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menjadi salah satu Pembicara Utama dalam Plennary II sebagai perwakilan dari kawasan Asia. Dalam pidatonya, Wapres mengapresiasi pencapaian positif kerja sama ASEM dalam 20 tahun ini dan menegaskan masih terbukanya peluang besar bagi peningkatan kerja sama Asia dan Eropa yang saling menguntungkan. Potensi ini sangat besar mengingat kedua kawasan mewakili sekitar dua pertiga dari total GDP, perdagangan, dan populasi dunia.

Pada KTT ASEM ke-11 di Mongolia, para Pemimpin ASEM menyepakati untuk menetapkan 1 Maret sebagai ASEM Day, dan mitra ASEM dihimbau untuk merayakan ASEM Day pada minggu pertama bulan Maret sebagai  upaya sosialisasi ASEM ke masyarakat luas.


4. Peran Indonesia dalam ASEM

Sejalan dengan komitmen Indonesia untuk meningkatkan kerjasama konkret dalam kerangka ASEM, Indonesia telah menjadi co-sponsor dan berpartisipasi secara aktif dalam berbagai program ASEM di ketiga pilarnya. Untuk periode tahun 2012, Indonesia telah menjadi tuan rumah bagi pertemuan ASEM Language Diversity Forum (Jakarta, 4-5 September 2012) dan 5th ASEM Culture Ministers' Meeting (Yogyakarta, 14-15 Oktober 2012).

Di tahun 2013, ASEM Education Secretariat (AES) berpindah dari Jerman ke Indonesia untuk periode 2013-2017. Sebagaimana diketahui, kerja sama pendidikan ASEM terfokus pada empat isu utama: balanced mobility, quality assurance, engaging business and industry, serta lifelong learning. Penyelenggaraan acara ini ditangani Indonesia dalam kapasitas sebagai tuan rumah AES pada periode 2013-2017. Indonesia juga merupakan anggota Steering Committee untuk ASEM Informal Seminar on Human Rights.

Di tahun 2014, Indonesia telah menyelenggarakan ASEM Seminar on Social Dialogue bersama Belgia di Brussel (9-11 Maret 2014), ASEM Conference on Fostering Green Business of SMEs di Jakarta (19-20 Juni 2014), dan 3rd ASEM Seminar on Nuclear Safety di Yogyakarta (4-6 November 2014).

Pada 10-11 Maret 2015, Indonesia menjadi tuan rumah ASEM Lifelong Learning Forum di Bali. Isu lifelong learning merupakan salah satu area prioritas ASEM Education Process, yang ditetapkan pada 3rd Asia Europe Meeting of Ministers for Education (ASEMME3) di Kopenhagen, Denmark, tahun 2011.

Indonesia juga berhasil memprakarsai kerja sama bidang kepemudaan dengan menyelenggarakan ASEM First Youth Entrepreneurial Meeting: Passion-preneurs' Challenge Towards 20 Years of ASEM, 25-28 Oktober 2016. Kegiatan ini merupakan kompetisi bagi kaum muda negara-negara mitra ASEM di bidang kewirausahaan berbasis minat dan kreativitas serta berlandaskan misi sosial.


5. Manfaat ASEM yang paling signifikan bagi Indonesia

Memperkuat kiprah internasional Indonesia dalam membangun konektivitas Asia-Eropa mengingat ASEM merupakan satu-satunya forum kedua kawasan yang dapat menghadirkan Kepala Negara/Kepala Pemerintahan melalui KTT ASEM.

Arah perkembangan ASEM yang semakin berfokus pada tangible cooperation sejalan dengan prioritas pembangunan Indonesia saat ini dalam rangka meningkatkan kapasitas nasional di berbagai sektor dan dengan keterlibatan pemangku kepentingan yang seluas-luasnya. 

Proses kerjasama ASEM juga membuka peluang bagi penguatan kerjasama bilateral dengan negara-negara mitra ASEM melalui mekanisme Senior Official Meeting (SOM), Foreign Ministers Meeting (FMM), KTT serta inisiatif dan kegiatan dalam tangible cooperation.


-oOo-