Kejahatan Lintas Negara

1/29/2019 Tuesday, January 29, 2019


Kejahatan lintas negara merupakan bentuk kejahatan yang menjadi ancaman serius  terhadap keamanan dan kemakmuran global mengingat sifatnya yang melibatkan berbagai negara. Untuk menanggulangi kejahatan tersebut, diciptakan sebuah mekanisme multilateral melalui sebuah perjanjian internasional yang disebut United Nations Convention on Transnational Organized Crime-UNTOC. UNTOC yang dibentuk pada tahun 2000 menjadi panduan dasar bagi negara-negara dalam upaya penanggulangan kejahatan lintas negara.

Dari sisi Indonesia, kejahatan lintas negara perlu diberikan perhatian khusus mengingat letak Indonesia yang sangat strategis sehingga rentan terhadap berbagai bentuk kejahatan lintas negara. Untuk itu, Kementerian Luar Negeri sebagai ujung tombak Pemerintah Indonesia dalam kerja sama internasional senantiasa mengintensifkan kerja sama internasional dalam mengatasi kejahatan-kejahatan lintas negara guna melindungi kepentingan dan kedaulatan nasional Indonesia.

Dalam perkembangannya, Indonesia menaruh perhatian khusus terhadap kejahatan lintas negara baru dan berkembang, antara lain perdagangan orang dan penyelundupan manusia; korupsi dan pencucian uang; kejahatan kehutanan dan satwa liar, kejahatan perikanan, perdagangan ilegal benda-benda cagar budaya; serta kejahatan narkotika dan obat-obatan (narkoba) dan prekursornya.

 

PERDAGANGAN ORANG DAN PENYELUNDUPAN MANUSIA

Isu perdagangan orang dan penyelundupan manusia dapat dikategorikan sebagai isu migrasi ireguler. Isu migrasi ireguler tersebut tetap menjadi isu sentral di dunia, yang selain menyangkut masalah perdagangan orang dan penyelundupan manusia, juga menyangkut isu pengungsi dan pencari suaka. Indonesia juga tidak luput mengalami peristiwa migrasi ireguler. Berdasarkan data UNHCR, pada tahun 2018 terdapat sekitar 14.000 pengungsi dan migran ireguler yang kebanyakan berasal dari Asia Tengah yang terdampar di Indonesia dalam upaya mencapai negara tujuan.

Sebagai warga dunia yang bertanggung jawab, Indonesia tetap menampung dan memberikan perawatan pada para migran ireguler sebagai respon atas dasar kemanusiaan serta untuk menyelamatkan jiwa manusia. Sebagai negara bukan pihak pada Konvensi Pengungsi Tahun 1951, Indonesia telah mengambil tanggung jawab lebih.

Bagi Indonesia, isu migrasi ireguler ini jelas merupakan permasalahan lintas negara. Tidak ada satu negarapun yang dapat menyelesaikannya sendiri. Dalam penanganan masalah migrasi ireguler Indonesia tetap berpegang pada prinsip burden sharing yaitu, negara-negara tidak bisa melempar beban ke negara lain, serta shared responsibility, yaitu ada tanggung jawab bersama antara negara asal, transit dan tujuan para migran ireguler. Indonesia juga berpegang pada pendekatan komprehensif dan berimbang antara penegakan hukum dan kemanusiaan, berdasarkan pilar pencegahan, deteksi dini, perlindungan korban dan penindakan terhadap pelaku kejahatan.

Khusus terkait isu perdagangan manusia, pada tingkat tertentu Indonesia merupakan negara asal perdagangan orang, selain menjadi negara transit penyelundupan manusia. Sebagian besar korban perdagangan orang dari Indonesia merupakan para pekerja migran Indonesia yang bekerja di luar negeri, terutama para pekerja domestik dan pekerja pada sektor perikanan.

Sejalan dengan prioritas nasional untuk perlindungan Warga Negara Indonesia dan dalam rangka menghormati perlindungan HAM, Indonesia senantiasa berkomitmen untuk menanggulangi isu perdagangan orang dan penyelundupan manusia melalui kerja sama pada tingkat bilateral, regional dan multilateral.

Indonesia berperan aktif dalam forum-forum internasional dan regional seperti Conference of State Parties dari United Nations Convention against Transnational Organized Crime (UNTOC), berbagai Working Group di bawah UNTOC, Global Forum on Migration and DevelopmentASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime (AMMTC), dan Bali Process on People Smuggling, Trafficking in Person and Related Transnational Crimes (Bali Process).

Bali Process on People Smuggling, Trafficking in Person and Related Transnational Crimes (Bali Process) merupakan forum multilateral inisiatif Indonesia dalam upaya menanggulangi perdagangan orang dan penyelundupan manusia. Forum kerja sama tersebut didirikan oleh Indonesia dan Australia pada tahun 2002, yang sekaligus menjadi Ketua Bersama. Hingga saat ini, Bali Process telah memiliki 49 anggota, yaitu 45 negara dan 4 organisasi internasional. Bali Process telah menjadi Regional Consultative Process tertua dan terbesar di kawasan. Dalam kerangka Bali Process, Indonesia telah mengadakan berbagai inisiatif yang mengumpulkan pihak berwenang, praktisi dan para ahli di kawasan untuk meningkatkan kerja sama dalam penanganan migrasi ireguler melalui manajemen perbatasan yang lebih baik, pengadopsian pendekatan yang berpusat pada korban, dan pemajuan saluran-saluran migrasi yang aman. Mekanisme pengambilan keputusan utama Bali Process adalah Pertemuan Tingkat Menteri yang diketuai bersama oleh Menteri Luar Negeri Indonesia dan Australia yang diadakan setiap dua atau tiga tahun. Bali Process Ministerial Conference yang terakhir diselenggarakan di Bali pada bulan Agustus 2018.

Dengan mengikuti perkembangan global, Bali Process merasa perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti sektor bisnis dan kalangan masyarakat madani dalam penanggulangan perdagangan orang dan penyelundupan manusia. Sejalan dengan hal tersebut, pada tahun 2017, Bali Process telah meluncurkan inisiatif kolaborasi pemerintah dengan sektor bisnis yakni Bali Process Government and Business Forum. Tujuan pembentukan forum tersebut adalah untuk meningkatkan upaya pencegahan dan pemberantasan perdagangan orang, termasuk untuk tujuan kerja paksa dan perbudakan, di sepanjang alur supply dan value chain sektor bisnis. Selain itu, pada tahun 2018 Bali Process juga membentuk inisiatif dialog dengan masyarakat madani guna mengidentifikasi peran dan kapasitas masing-masing sehingga dapat bekerja saling melengkapi. Dengan demikian upaya penanggulangan perdagangan orang dan penyelundupan manusia dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

 

KEJAHATAN KORUPSI

Pencegahan dan pemberantasan korupsi merupakan prioritas utama Pemerintah RI yang dilaksanakan pada tingkat nasional maupun global. Indonesia selalu berupaya menjalin kerja sama internasional demi kepentingan nasional, khususnya untuk peningkatan kapasitas para penegak hukum dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Kerja sama internasional telah memiliki andil bagi keberhasilan KPK dalam mengembalikan kerugian negara sebesar 1,9 triliun Rupiah dari hasil korupsi dari tahun 2005 – 2017 Selain itu, komunitas internasional termasuk para pelaku bisnis, menghargai dan mengapresiasi upaya progresif Indonesia dalam pemberantasan korupsi. Sebagaimana kita ketahui, rangking Indonesia dalam Ease of doing business telah meningkat secara signifikan, dari rangking 91 pada tahun 2016 menjadi rangking 72 pada tahun 2017.

Untuk menunjukkan kepemimpinannya di forum multilateral dalam upaya pemberantasan korupsi, Indonesia telah menandatangani United Nations Convention against Corruption (UNCAC) pada tanggal 18 Desember 2003 dan meratifikasinya melalui UU nomor 7 Tahun 2006. Sebagai salah satu contoh wujud konkrit kepemimpinan Indonesia adalah dengan menjadi tuan rumah Presiden dan tuan rumah dari Pertemuan Kedua Conference of the States Parties to the United Nations Convention Against Corruption (CoSP) UNCAC yang diselenggarakan di Bali, 28 Januari-1 Februari 2008.

Pemri berkomitmen untuk melaksanakan UNCAC secara menyeluruh, termasuk melalui mekanisme review UNCAC. Mekanisme review UNCAC dilaksanakan melalui pendekatan peer review di antara negara-negara anggota UNCAC. Indonesia telah berpartisipasi aktif dalam dua siklus review mechanism, baik sebagai negara under review maupun reviewer.

Pada proses review putaran pertama, Indonesia telah satu kali menjadi negara under review (2010-2011) dan tiga kali menjadi negara reviewer, yaitu untuk Iran, Kyrgystan dan Haiti. Pada tahun 2015, Indonesia telah melakukan country visit untuk Haiti (bersama dengan Kolombia) dan Kyrgyzstan (bersama dengan Pakistan).

Siklus review kedua UNCAC berlangsung dari tahun 2016 hingga 2020. Pada siklus kedua ini Indonesia terpiliih sebagai negara under review oleh Yaman dan Ghana pada tahun pertama (2016-2017) dan akan menjadi reviewer untuk Vietnam dan Sudan Selatan pada tahun 2019.

Selain dalam kerangka UNCAC, Indonesia juga aktif dalam forum G20 Anti Corruption Working Group (G20 ACWG) yang diadakan setahun tiga kali dan membahas berbagai kemajuan dan tantangan dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi di antara negara anggota G20. Pertemuan kedua G20 ACWG tahun 2017 di bawah keketuaan Brasil dan Jerman telah dilaksanakan di Brasilia, Brazil tanggal 11-12 April 2017. Ketua G20 ACWG tahun 2018 adalah Argentina. Indonesia masih melanjutkan partisipasi dalam G20 ACWG yang akan diketuai Jepang pada tahun 2019.

 

KEJAHATAN NARKOTIKA DAN OBAT-OBATAN TERLARANG (NARKOBA)

Kejahatan penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang (narkoba) pada umumnya bersifat lintas negara, mengingat produsen, kurir, dan korban bisa berasal dari negara yang berbeda-beda. Untuk itu, diperlukan diperlukan kerja sama internasional karena tidak dapat ditanggulangi oleh satu negara sendiri.

Mengingat kondisi geografis dan demografis, Indonesia telah menjadi salah satu negara tujuan dari peredaran narkotika. Indonesia telah menempatkan kejahatan narkoba sebagai high-risk crime dan dalam penanganannya membutuhkan upaya yang luar biasa. Untuk itu Indonesia mendorong kerja sama internasional untuk meningkatkan upaya penanggulangan isu narkoba. Saat ini terdapat 3 (tiga) Konvensi anti narkoba, yang semuanya juga telah diratifikasi oleh Indonesia, yaitu:

  • Single Convention on Narcotic Drugs 1961 melalui UU No.8 Tahun 1976;
  • Convention on Psychotropic Substances 1971 melalui UU No.8 Tahun 1996;
  • Convention against the Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1988 melalui UU No. 7 Tahun 1997.

Kepentingan utama Indonesia dalam menanggulangi peredaran dan perdagangan gelap narkoba adalah dengan mencegah arus keluar masuk narkoba dan prekursornya. Indonesia berprinsip pada pendekatan berimbang antara 'supply and demand reduction', penegakan hukum dan perlindungan HAM, serta penanggulangan secara komprehensif dan terintegrasi.

Pada tingkat multilateral, Indonesia terus berupaya memainkan peran aktifnya dalam memberantas peredaran dan perdagangan gelap narkoba dalam berbagai forum seperti Commission on Narcotic DrugsSpecial Session of the United Nations General Assembly on the World Drug Problem, Head of National Drug Law Enforcement for Asia Pacific, dan ASEAN Senior Officials on Drug Matters dan berbagai pertemuan lainnya di bawah kerangka UNODC.

Indonesia akan terus mendukung setiap upaya penguatan peran lembaga-lembaga PBB, peningkatan koordinasi antar para pemangku kepentingan pada tingkat internasional dan regional, dalam upaya menanggulangi masalah narkotika secara terpadu dan komprehensif.

Indonesia juga mendukung salah satu inisiatif yang dihasilkan pada forum internasional, yaitu pemberantasan narkoba melalui pendekatan alternative development. Pendekatan alternative development bertujuan untuk mengurangi penanaman tumbuhan mengandung zat narkotika melalui langkah-langkah pembangunan dan peningkatan penghasilan di masyarakat. Indonesia tengah menerapkan program Grand Design Alternative Development (GDAD) di Provinsi Aceh untuk periode 2016-2025 sebagai proyek percontohan nasional.

 

KEJAHATAN PERIKANAN

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kepentingan besar dalam menjaga wilayahnya dan menegakkan kedaulatan termasuk terhadap kejahatan perikanan. Hal ini sejalan dengan visi Pemerintahan Presiden untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dengan memajukan kerja sama maritim melalui diplomasi serta pembangunan kekuatan pertahanan maritim guna mengamankan sumber daya alam kelautan dan zona ekonomi eksklusif. Kerja sama penanggulangan kejahatan perikanan akan mendukung strategi Pemri dalam rangka memperkuat jati diri sebagai negara maritim, yaitu mengintensifkan penegakan hukum dan pengendalian kejahatan perikanan serta kegiatan lain yang merusak laut.

Namun demikian, kejahatan perikanan hingga kini masih dipandang sebgai permasalahan manajemen perikanan (tata kelola perikanan, kuota perikanan dan pendataan), yang saat ini secara umum diatur di bawah kerangka Food and Agriculture Organization (FAO) dan Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs).

Padahal, dalam kenyataannya, kejahatan perikanan juga memiliki kaitan dengan kejahatan lintas negara lainnya dalam konteks UNTOC. UNODC dalam studinya pada tahun 2011 berjudul Transnational Organized Crime menemukan adanya kaitan kejahatan perikanan dengan perdagangan manusia, penyelundupan manusia dan peredaran gelap narkoba di mana kejahatan perikanan digunakan sebagai sarana dalam menjalankan ketiga kejahatan tersebut. Kejahatan perikanan juga terkait dengan kejahatan lainnya dalam konteks UNCAC, yaitu korupsi, pembekuan dan pengembalian aset hasil Illegal, Unreported, and Unregulated/ IUU fishing (IUUF), serta pencucian uang di mana banyak kasus kejahatan perikanan difasilitasi oleh korupsi (misalnya kasus suap oleh perusahaan asing) dan hasil dari kejahatan perikanan disembunyikan dengan modus-modus pencucian uang.

Indonesia berpandangan bahwa kejahatan perikanan merupakan salah satu bentuk kejahatan yang memerlukan kerja sama internasional dan strategi penanganan sebagai kejahatan lintas negara. Seringkali kejahatan perikanan juga memiliki kaitan erat dengan kejahatan perikanan lainnya, seperti perdagangan orang, penyelundupan manusia dan peredaran gelap narkoba, korupsi, dan pencucian uang. Untuk itu, Indonesia dalam berbagai kesempatan menggunakan keterkaitan kejahatan perikanan dengan kejahatan lintas negara lainnya sebagai pintu masuk pembahasan pengarusutamaan kejahatan perikanan agar dapat lebih diterima oleh negara-negara lainnya.

Indonesia perlu menyadarkan masyarakat dunia bahwa  kejahatan perikanan transnasional teroganisir memiliki dampak serius pada perekonomian, mendistorsi pasar, merusak lingkungan dan merendahkan HAM, sehingga diperlukan kerja sama internasional yang erat untuk mengatasinya.

Di tataran multilateral, Indonesia secara konsisten berupaya mengarusutamakan jenis-jenis kejahatan di dalam kejahatan perikanan sebagai tindak pidana transnasional terorganisasi di berbagai forum. Hal ini diperlukan mengingat kejahatan perikanan merupakan jenis kejahatan yang kompleks dan membutuhkan kerja sama internasional dalam penanggulangannya. Selain itu, pengaturan internasional mengenai kejahatan perikanan masih minimal dan belum terstruktur dengan baik.

Upaya-upaya Indonesia dalam pengarusutamaan isu-isu Maritime Transnational Organized Crime dilakukan dalam forum-forum di bawah kerangka United Nations Convention against Transnational Organized Crime (UNTOC) dan Commission on Crime Prevention and Criminal Justice (CCPCJ), serta dukungan atas dimasukkannya IUU Fishing dalam berbagai resolusi Majelis Umum PBB terkait fisheries.

Selain itu, Indonesia juga terus menggalang kesamaan posisi di antara like-minded countries dalam mengarusutamakan kejahatan perikanan sebagai kejahatan transnasional baru di bawah kerangka PBB melalui berbagai pertemuan baik di Wina, maupun di Indonesia.


​KEJAHATAN LINTAS NEGARA BARU DAN BERKEMBANG

Pada tahun 2010, Conference of States Parties (CoSP) UNTOC yang kelima telah mengidentifikasi beberapa Kejahatan Lintas Negara Baru dan Berkembang (New and Emerging Crimes), antara lain cybercrime, identity-related crimes, perdagangan gelap benda cagar budaya, kejahatan lingkungan, pembajakan di atas laut, dan perdagangan gelap organ tubuh. Kejahatan Lintas Negara Baru telah menjadi perhatian dari dunia internasional mengingat jumlahnya yang semakin meningkat dan cara yang semakin beragam. Kerugian yang ditimbulkan dari kejahatan jenis ini juga sangat besar.

Indonesia terus menerus berusaha untuk mendorong pengarusutamaan kejahatan lintas negara baru melalui berbagai forum internasional seperti pemeliharaan keamanan siber, perlindungan benda dan cagar budaya dari perdagangan ilegal, kejahatan perikananserta kejahatan kehutanan dan perdagangan satwa liar. Hal ini dilakukan mengingat kejahatan lintas negara baru belum banyak mendapat perhatian khusus dari dunia internasional, serta belum memiliki studi, definisi dan kriminalisasi yang mencukupi. Kerja sama internasional dalam menanggulangi kejahatan-kejahatan tersebut dapat lebih ditingkatkan. Indonesia memiliki kepentingan besar agar kejahatan lintas negara baru dapat diatur secara lebih komprehensif mengingat kerugian besar yang ditimbulkan dari kejahatan tersebut, termasuk dengan cara kerja sama dalam rangka peningkatan kapasitas penegak hukum dan pertukaran informasi.


(Sumber: Direktorat KIPS)