Pemuda Berperan Promosikan Nilai-Nilai Perdamaian dan Toleransi di ASEAN

10/18/2018

Pada tanggal 19-20 Oktober 2018, ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (ASEAN-IPR) bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Perutusan Tetap Republik Korea untuk ASEAN akan menyelenggarakan ASEAN-IPR Regional Youth Conference on Peace and Tolerance: Building Unity and Common Understanding in Countering Intolerance and Violent Extremism.

Konferensi ini merupakan platform penting bagi para pemuda di kawasan ASEAN untuk memperluas jejaring mereka dan memainkan peran yang lebih aktif sebagai kekuatan pendorong dalam isu perdamaian. Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam perumusan kebijakan dan dalam rangka pemajuan budaya perdamaian dan toleransi untuk menangkal bahaya intoleransi dan ekstremisme di kawasan.

Menteri Luar RI dijadwalkan akan menyampaikan sambutan dan membuka secara resmi kegiatan ini yang akan dihadiri oleh para Wakil Negara Anggota ASEAN pada ASEAN-IPR Governing Council dan Advisory Board, para Duta Besar Mitra Wicara ASEAN, Peserta ASEAN Regional Forum dan wakil-wakil organisasi kepemudaan dari Negara Anggota ASEAN dan Republik Korea. Konferensi juga akan dihadiri oleh empat ratus pemuda dari berbagai universitas, korps diplomatik, kalangan media, instansi pemerintah, komunitas pemuda, lembaga riset dan organisasi non-pemerintah di Indonesia yang bergerak di bidang promosi perdamaian dan toleransi. Berbagai pembicara terkemuka dan dekat dengan isu kepemudaan dari beberapa Negara Anggota ASEAN termasuk Indonesia, juga akan ikut meramaikan Konferensi ini. Dari Indonesia, beberapa nama seperti Dr. Dino Patti Djalal, Chelsea Islan, Garin Nugroho, Yossi Mokalu, akan menjadi pembicara dalam kegiatan dimaksud.

Konferensi akan dirangkaikan dengan kompetisi pembuatan proyek mengenai promosi perdamaian dan toleransi yang akan diikuti oleh para pemuda dari negara-negara di kawasan. Kompetisi ini dimaksudkan untuk mewadahi para pemuda dalam menyuarakan kreativitasnya dan berkontribusi mempromosikan perdamaian. Para pemenang akan diberikan kesempatan mempresentasikan proyeknya pada saat Konferensi berlangsung. 

Panitia juga akan  menyelenggarakan Side event yang diisi dengan berbagai kegiatan menarik yang mengangkat tema ”perdamaian dan  toleransi,” seperti pemutaran film, virtual reality, talk shows maupun pameran yang diikuti oleh berbagai organisasi yang bergerak di bidang perdamaian, seperti UNICEF dan UNDP. Side event ini akan diselenggarakan di Piazza Gandaria City Mall dan terbuka untuk publik. 

Outcome utama yang diharapkan dari Konferensi ini adalah “ASEAN Youth Declaration on Peace and Tolerance” yang berisi serangkaian rekomendasi dan inisiatif pemuda dalam menangani intoleransi dan ekstremisme kekerasan serta memuat komitmen pemuda untuk menyuarakan dan mempromosikan perdamaian di kawasan. Deklarasi ini diharapkan dapat disampaikan kepada para Pemimpin ASEAN melalui mekanisme yang ada di ASEAN sebagai bentuk aspirasi dan kontribusi kaum muda terhadap upaya menciptakan perdamaian dan keamanan di kawasan. 

Pembentukan ASEAN-IPR diprakarsai oleh Indonesia pada saat Keketuaannya di ASEAN tahun 2011. Institut ini merefleksikan kepemimpinan Indonesia sebagai penggerak proses perdamaian dan penyelesaian konflik di Kawasan Asia Tenggara. Sejak Oktober 2017, ASEAN-IPR telah memiliki Sekretariat yang berkedudukan di Jakarta. 

ASEAN-IPR ditujukan untuk mengadakan riset di bidang pemajuan perdamaian, penanganan dan penyelesaian konflik secara damai. Institut dimaksud juga melakukan kegiatan yang bersifat “knowledge based” dan bekerja sama dengan kalangan akademisi guna membentuk “a  pool of experts” dari Negara Anggota ASEAN di bidang perdamaian dan rekonsiliasi.​