Bahasa Salah Satu Prasyarat Utama Menembus Pasar Tenaga Kerja Jepang


Jakarta: ​“Pelajaran Bahasa Jepang kiranya dapat dipertimbangkan untuk menjadi bagian dari kurikulum Akademi Perawat di Indonesia." Hal tersebut disampaikan oleh Konsul Jenderal RI Osaka, Mirza Nurhidayat saat menjadi panelis dalam Employment Business Meeting (EBM) yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) di Serpong(26/10) di sela-sela Trade Expo Indonesia 2018.

Konsul Jenderal RI Osaka menjelaskan bahwa Jepang yang saat ini mengalami aging society membutuhkan banyak tenaga kerja asing, khususnya tenaga perawat dan pengasuh manula.

Hal tersebut sesungguhnya merupakan peluang bagi angkatan kerja Indonesia untuk dapat memasuki pasar tenaga kerja Jepang. Bahkan berdasarkan kesepakatan bilateral, Jepang telah memberikan kuota sebanyak 500 caregiver bagi Indonesia, namun kuota tersebut hingga saat ini belum dapat terpenuhi karena kendala bahasa.

“Indonesia saat ini sudah tertinggal dari Filipina dan Vietnam dalam menyediakan caregiver ke Jepang", lanjutnya. Hal tersebut disayangkan mengingat peluang di pasar tenaga kerja Jepang akan semakin banyak di masa mendatang karena semakin banyaknya penduduk berusia lanjut, dan makin banyaknya lapangan pekerjaan yang lowong di negara tersebut.

Kendala klasik yang dihadapi oleh calon tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di Jepang adalah kemampuan Bahasa. “Waktu yang dibutuhkan bagi calon tenaga kerja untuk menguasai Bahasa Jepang cukup lama, sementara terdapat kebutuhan ekonomi yang mengharuskan para calon tenaga kerja segera mendapatkan penghasilan." Oleh sebab itu, kurikulum Bahasa Jepang pada Akademi Perawat dapat menjadi salah satu solusi untuk menghasilkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan Bahasa yang memadai.(Sumber: KJRI Osaka)