Revolusi Industri 4.0 & Terobosan Ekonomi Kreatif di Public Lecture #Diplofest Padang

Padang, 1 Februari 2019: "Saat ini adalah masa industri 4.0, Masa untuk spesialisasi: knowledge-based economy activities. Ekonomi kreatif adalah jenis ekonomi yang di-empower oleh teknologi. Dengan adanya industri teknologi 4.0, penggunaan big data cloud computing, internet of everything menyebabkan ekonomi menjadi lebih inklusif, serta tidak mengenal hambatan seperti gender, warna kulit, usia, batas maupun modal. Tidak perlu middle men, tidak perlu modal besar, mendekatkan produsen-konsumen, sehingga memberdayakan UKM," demikian disampaikan Dirjen Kerja Sama Multilateral Kemlu, Febrian A. Ruddyard di Public Lecture Bertajuk From Minang to the World, Unleashing the Potentials of Creative Economy di Universitas Negeri Padang, terselenggara atas kerja sama Dit. Diplik, Dit. PKKI, Dit. Infomed dan UNP.​

Revolusi Industri 4.0 dimulai dengan revolusi industri 1.0 yang masih bersifat manual, kinetik seperti mesin uang (tahun 1784); berkembang menjadi industri 2.0 yang sudah bertenaga listrik dan sudah bertujuan untuk produksi massal (tahun 1870); kemudian masuk kedalam industry 3.0 yang  sudah dalam tahap  computerized (tahun 1969 hingga awal tahun 2000), kemudian dilanjutkan dengan revolusi 4.0 yang sudah didorong oleh kemajuan internet, system siber dan smart technology.

Dirjen Febrian juga membahas bahwa tidak ada definisi tunggal dari apa itu ekonomi kreatif, setiap negara mempunyai definisi tersendiri. 

Peran Indonesia selain menyumbangkan dividen ke kawasan Asia pasifik yang saat ini adalah empunya dividen ekonomi kreatif (ekraf) terbesar di dunia dengan revenue 743 milyar dollar AS juga merupakan inisiator dari WCCE atau World Conference on Creative Economy, yang salah satu pembahasan intinya adalah memajukan perkembangan ekraf untuk mendukung pembangunan melalui pengembangan kerja sama. Selain itu juga untuk melindungi hak cipta para creator untuk lebih mendorong ekraf yang bergantung pada kreatitas para pelaku.  

Dirjen Febrian juga menekankan bahwa Indonesia beruntung berada di kawasan yang relatif aman. Kawasan yang relatif aman cenderung mempunyai ekonomi yang lebih maju, atau bisa juga disebut sebagai _Dvidend of Peace.

Pembicara selanjutnya, President and Co-Founder Bukalapak, M. Fajrin Rasyid menyampaikan bahwa ekraf adalah contoh seberapa jauh kreatifitas bisa membawa diri seseorang. Dari hanya 3-4 transaksi perhari, Bukalapak kini sudah memfasilitasi jutaan transaksi. 

Fajrin menekankan bahwa internet membuat dunia menjadi lebih demokratis, a great equalizer. Selama ada added value dalam sebuah produk, semua bisa berjualan. Fajrin bercerita mengenai salah satu pelapak yang dia kenal, anak SD yang omzet penjualannya sudah 5 juta/bulan. 

Fajrin menantang mahasiswa UNP untuk mengatasi digital inequality, untuk menjadi pioneer dan mengajari generasi "tua" untuk lebih melek digital atau "digital literate"

Fajrin bercerita bahwa saat ini tantangan bukalapak adalah mereverse, tidak hanya barang-barang impor yang dijual di tingkat lokal, tapi bagaimana agar barang UMKM Indonesia bisa go-international.

Terakhir, dari pihak pelaku usaha Sumatera Barat, Kemlu mengundang Sylvia, atau biasa dipanggil Vivi, pengusaha rendang dari Solok. Awalnya berjualan rendang door-to-door namun sekarang omzet Vivi sudah berkali lipat naik. Vivi menekankan pentingnya semangat untuk berusaha, untuk jangan takut menghadapi trial dan error sejak kini, selama kuliah. "Gigih, jangan pilih-pilih dan jeli melihat peluang,"  pesannya. 

Berperan sebagai moderator adalah Direktur PKKI (perdagangan komoditas dan kekayaan intelektual) dari Kemlu RI, Tri Purnajaya dan Ibu Dra. Yetty Zainil, MA, PhD  Ketua Pusat Kajian Indo-Pasifik Universitas Negeri Padang.

Paparan dilanjutkan dengan tanya jawab dengan rekan mahasiswa, yang bertanya dengan antusias mulai dari revolusi industri 5.0 sampai bagaimana mendapatkan kepercayaan konsumen sebagai pengusaha muda. (Sumber: Kemlu)