ASEM: Pencegahan Kekerasan Ekstrim adalah Tugas Bersama

​​​

Yogyakarta: Pencegahan Kekerasan Ekstrim adalah Tugas Bersama, dilakukan secara inklusif, memperkuat demokrasi, dan memberdayakan masyarakat, hal tersebut mengemuka dalam pembahasan yang dilakukan oleh 120 peserta dari negara-negara Asia dan Eropa dalam “18th Informal ASEM Seminar on Human Rights and Preventing Violent Extremism", di Yogyakarta(5-8/11).

Kementerian Luar Negeri RI yang memotori pertemuan ini menegaskan bahwa isu tersebut menjadi perhatian bersama, dan sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi dunia saat ini. Wakil Menteri Luar Negeri RI, Bp A.M Fachir. yang membuka pertemuan tersebut  mengingatkan kembali kepada para peserta bahwa pencegahan ancaman kekerasan ekstrim yang mengarah dan mendorong terrorisme, harus diawali dengan “habit" untuk berdialog  secara inklusif dan komprehensif.

Terdapat satu hal yang sering ditemui dalam kasus-kasus kekerasan Ekstrim dan terorisme, yakni defisiensi dalam hubungan sesama manusia. Indonesia, karenanya percaya bahwa menjaga tumbuhnya demokrasi dan inklusivitas; penguatan mekanisme regional dan inter-regional; dan penguatan kapasitas civil society dapat menjadi kunci utama bagi pencegahannya.

Seminar Asia Europe Meeting tersebut digawangi Indonesia, bersama bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta sebagai Mitra penyelenggara, telah menjadi contoh sukses penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan kolaborasi antara akademisi, masyarakat madani, lembaga swadaya masyarakat, dan Pemerintah. Selain itu, Kesediaan Indonesia untuk menjadi tuan rumah seminar merupakan bentuk penegasan komitmen dan  kontribusi Indonesia terhadap inisiatif ASEM, serta merefleksikan komitmen Pemri bagi pemajuan dan perlindungan HAM di tingkat nasional dan internasional.

Mengingat substansi pembahasannya yang sangat multidimensi, melibatkan isu-isu perempuan, masyarakat madani, kaum muda, dan peran pendidikan, maka Seminar tersebut  telah sukses menarik kehadiran berbagai tokoh terkemuka hadir dan berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan seminar diantaranya: Duta Besar Soemadi D.M. Brotodiningrat,  ASEF Governor of Indonesia; Mr. Sun Xiangyang, Deputy Executive Director of Asia Europe Foundation; Mr. Stephen Husy, Ambassador at Large for Counter-Terrorism, Federal Department of Foreign Affairs mewakili co-organizers; Ms. Kate Gilmore, Deputy High Commissioner on Human Rights;  Steven Siguera, Deputy Director UN Office for Counte3r Terrorism, Mr. Rafael de Bustamante Tello, First Counsellor of the European Union Delegation to Indonesia and Brunei Darussalam; Dr. Dinna Wisnu, Wakil Indonesia pada ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR); dan Ms. Amelita C. Aquino,  Assistant Secretary of the Office of European Affairs, Department of Foreign Affairs of the Republic of the Philippines.

Melalui pembahasan pada 4 Kelompok Kerja Paralel, dengan fokus pada Push and Pull Factors of Violent Extremism; Targeting Violent Extremism at Local Level; Violent Extremism and Women Youth, Education; dan Prevention of Violent Extremism, Seminar telah menghasilkan  sejumlah key messages dan rekomendasi seminar yang akan dilaporkan kepada Board of Governor ASEM dalam waktu dekat guna tindak lanjutnya yang antara lain akan berupa Pelatihan pada isu terkait bagi negara-negara anggota.

​Asia-Europe Meeting (ASEM) dibentuk pada tahun 1996 sebagai suatu platform dialog dan kerja sama antara Asia dan Eropa. Isu yang dibahas merupakan isu yang menjadi perhatian bersama baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial-budaya, dan Indonesia telah aktif di dalamnya, termasuk dalam keanggotaan sebagai Steering Committee yang menentukan penyelenggaraan Seminar ini. (Sumber: Kementerian Luar Negeri)