11 Tahun penjara vonis bagi pelaku pemerkosaan atas PMI

​Hakim Pengadilan Tinggi (High Court) Hong Kong hari ini (5/3) menjatuhkan vonis 11 tahun penjara atas warga Hong Kong berinisial TW karena terbukti melakukan tindak pidana pemerkosaan terhadap seorang WNI Pekerja Migran berinisial SYN pada akhir tahun 2017.

Berdasarkan hasil penyidikan dan fakta-fakta  di persidangan, pemerkosaan terjadi pada tanggal 20 Desember 2017 di rumah terdakwa. Selain itu, terdakwa juga melakukan percobaan pemerkosaan dan pelecehan seksual sebanyak tiga kali antara lain pada tanggal 10, 18, dan 19 Desember 2017.

Dalam sidang pembacaan putusan hari ini yang juga dihadiri oleh perwakilan KJRI Hong Kong, Hakim Li J menyampaikan bahwa perbuatan terdakwa TW memperkosa SYN telah melanggar tanggung jawabnya sebagai majikan. Akibatnya, korban mengalami trauma, yang dicirikan dengan sifat mudah tersinggung, cemas dan pernah berniat untuk melakukan bunuh diri.

Peristiwa ini sendiri terungkap setelah korban mengadukan perbuatan terdakwa ke hotline KJRI Hong Kong yang langsung menindaklanjuti dengan mendampingi korban melapor ke kepolisian Hong Kong dan mengumpulkan berbagai bukti termasuk visum  di rumah sakit. Pihak polisi Hong Kong lebih lanjut memproses perkara ini dan menahan terdakwa.

Putusan hakim ini merupakan akhir dari proses penyidikan dan persidangan yang berlangsung selama kurang lebih satu tahun, yang menghadirkan SYN sebagai saksi korban dan beberapa saksi lainnya termasuk Staf KJRI yang mendampingi SYN dalam melaporkan kasusnya ke instansi terkait.

Sementara penjatuhan vonis didasarkan pada putusan bersalah yang disampaikan oleh tujuh orang juri pada akhir bulan Januari 2019, setelah mendengarkan tuntutan jaksa dan pembelaan dari pengacara.

Menanggapi putusan sidang ini, Konjen RI Hong Kong Tri Tharyat menyampaikan bahwa dirinya merasa bersyukur karena SYN selaku korban telah mendapatkan keadilan dan pelaku pemerkosaan telah dihukum sesuai hukum dan aturan yang berlaku. 

"Putusan ini memperlihatkan bahwa sistem hukum di Hong Kong sangat tegas dan akan menjatuhkan hukuman kepada siapapun yang melakukan pelanggaran pidana, khususnya perbuatan kekerasan seksual atau pemerkosaan, yang memang merupakan perbuatan yang sangat tercela di mata masyarakat Hong Kong," kata Konjen Tharyat.

Lebih jauh, Konjen RI juga menghimbau kepada para Pekerja Migran Indonesia untuk tidak segan atau takut untuk mengadu atau melapor apabila mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari majikan yang mengarah pada pelecehan dan kekerasan seksual.

"Sekecil apapun, perbuatan pelecehan seksual tidak boleh dibiarkan, segera lapor ke Polisi atau melalui KJRI Hong Kong kalau ada di antara para PMI yang mengalaminya," tegas Konjen RI. Ditambahkan Konjen, Hotline KJRI selalu stand by untuk menerima setiap pengaduan dan menindaklanjuti ke berbagai instansi terkait di Hong Kong.

Menindaklanjuti putusan ini, Tim Pelayanan Warga (Citizen Service) KJRI Hong Kong akan melanjutkan pendampingan atas SYN dengan mengajukan tuntutan perdata ke Labour Tribunal Hong Kong untuk mendapatkan hak-hak ketenagakerjaan, termasuk penghasilan  yang tidak didapatkan oleh SYN karena adanya kasus ini.