Anak-Anak Rohingya Tak Surut Belajar di Kompleks Bantuan Kemanusiaan Indonesia

​​​​​​​​​​​​​Dhaka, 7 September 2018: Tinggal di pengungsian yang penuh dengan keterbatasan tidak mengikis semangat anak-anak Rohingya untuk belajar. Tanpa seragam ​sekolah dan alas kaki, semangat dari anak-anak pengungsi Rohingya sangat layak untuk diapresiasi. Meski harus beralaskan tanah dan belajar di ruang kelas yang terbuat dari anyaman bambu, anak-anak pengungsi Rohingya tetap antusias dalam menuntut ilmu di sekolah darurat yang berlokasi di kompleks field hospital Indonesian Humanitarian Alliance (IHA) di kamp pengungsian 15 Jamtoli di Cox's Bazar. Field hospital Indonesia yang dibangun oleh IHA, gabungan dari 11 lembaga kemanusiaan Indonesia yang diresmikan Kementerian Luar Negeri, pada awalnya hanya dioperasikan untuk memberikan pelayanan kesehatan. Namun, melihat kebutuhan pendidikan khususnya untuk anak-anak pengungsi, sejak tahun 2018 kompleks IHA juga memberikan akses terhadap pendidikan walaupun masih dalam skala yang kecil.

​​Tim KBRI Dhaka yang tengah melakukan monitoring bantuan kemanusiaan Indonesia, berkesempatan melihat langsung semangat anak-anak Rohingya untuk menimba ilmu di tengah berbagai keterbatasan. Di bangunan bambu seluas 5x7 meter berlantai tanah, pembelajaran untuk anak-anak dilakukan oleh seorang tenaga pengajar non-profesional pengganti yang juga merupakan pengungsi Rohingya bernama Jahangir (19 tahun). Beberapa materi pelajaran seperti Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Myanmar menjadi materi yang diberikan oleh Jahangir dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak hanya kedua Bahasa tersebut, Jahangir juga mengajarkan beberapa kosakata Bahasa Indonesia kepada murid-muridnya. Bahkan, sebagian besar muridnya dapat memahami percakapan dasar dan mampu berhitung dalam Bahasa Indonesia, karena seringnya berinteraksi dengan para relawan Indonesia.

Fasilitas belajar mengajar di kompleks bantuan kemanusiaan IHA sangatlah sederhana. Di ruang kelas hanya terdapat satu papan tulis dan beberapa meja dan kursi.  Selain itu, di musim penghujan, anak-anak pun harus berjuang untuk dapat sampai ke sekolah dengan jalan yang licin dan penuh lumpur. Namun, hal tersebut tidak menghentikan tekad mereka untuk mengukir masa depan melalui pendidikan.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh UNICEF, jumlah pengungsi anak-anak Rohingya di Cox's Bazar hingga September 2018 berjumlah sekitar 350 ribu. Pemberian akses terhadap pendidikan menjadi agenda yang sangat penting.  Menurut catatan KBRI Dhaka, jumlah bantuan kemanusiaan Indonesia yang diberikan melalui IHA telah mencapai sekitar Rp18 miliar. Jumlah tersebut meliputi bantuan kemanusiaan dalam bentuk pembangunan shelter pengungsi, pengiriman tenaga medis, penyediaan klinik darurat, penyediaan mobile clinic dan ambulans, bantuan pangan dan pendidikan, dan fasilitas ibadah.​

---00---