Kerjasama Bidang Peternakan mengemuka dalam Diskusi Pemetaan Potensi Kerjasama Indonesia dengan Distrik Rungwe di Tanzania

Peternakan menjadi area potensial untuk kerjasama Indonesia dengan Distrik Rungwe di Provinsi Mbeya,Tanzania.  Hal tersebut mengemuka dalam diskusi antara Dubes RI untuk Tanzania, Prof. Dr. Ratlan Pardede, dengan jajaran tinggi Distrik Rungwe (4/10/2017).

Dalam diskusi tersebut, District Commissioner (DC) Rungwe, Chalya Julius Nyangindu, menyampaikan kendala yang dihadapi distriknya di bidang peternakan.

"Rungwe memiliki potensi bidang peternakan namun terkendala produktivitas rendah. Di lain pihak Indonesia memiliki kebutuhan impor daging sapi cukup tinggi. Oleh sebab itu, apabila produktivitas peternakan sapi Rungwe dapat ditingkatkan, maka Rungwe dapat memasok produk tersebut untuk pasar Indonesia" ujarnya.

DC Nyangindu menambahkan pihaknya berharap Indonesia yang jauh lebih unggul dari Tanzania dapat membantu meningkatkan produktivitas peternakan distriknya dengan menjalin kerjasama di bidang litbang, pemberian bantuan kapasitas, investasi pembangunan rumah jagal dan industri pengolahan sapi.

"Selain daging sapi, terbuka juga peluang kolaborasi untuk industri pengolahan produk susu seperti keju. Saat ini produksi dalam negeri masih terbatas di Tanzania, dan produk keju yang beredar di pasaran sebagian besar produk impor. Untuk itu kerjasama industri pengolahan susu amat potensial" imbuhnya.

Di sektor agrikultur, Rungwe yang memiliki keunggulan untuk komoditas seperti teh, kopi, kakao, buah-buahan dan sayuran berharap dapat dibina kerjasama dengan Indonesia.

"Produk-produk pertanian rentan rusak, untuk itu kami ingin menggandeng investor Indonesia dalam industri pengolahan produk pertanian agar bernilai tambah dan jual tinggi" sambungnya.

Dubes Pardede sampaikan apresiasi atas informasi peluang kerjasama yang diterimanya. Hal tersebut, menurutnya, amat berguna, mengingat pihaknya tengah berupaya menciptakan kolaborasi antara Tanzania dengan Indonesia guna peningkatan hubungan ekonomi. Ia berjanji akan meneruskan informasi tersebut kepada pihak-pihak terkait di Indonesia dan melakukan studi lebih dalam agar peluang-peluang kerjasama dapat terpetakan dengan baik.

"Untuk melengkapi kajian yang akan kami persiapkan, saya harapkan pula dukungan data yang mutakhir dari pihak Rungwe mengenai regulasi investasi di Rungwe, mekanisme ekspor impor serta opsi perolehan dana pinjaman termasuks sistem dan mekanismenya" pungkas Dubes Pardede.

Usai diskusi, Dubes Pardede berkesempatan melakukan peninjauan lapangan ke pabrik pengolahan teh, perkebunan pisang, alpukat dan peternakan sapi.

Kunjungan ke Rungwe menjadi penutup program kerja Dubes RI di hari ketiga pemetaan potensi kerjasama Provinsi Mbeya.  Rungwe merupakan salah satu distrik tertua di Tanzania, berbatasan dengan distrik Kyela. Dari 1.231,86 km2 luas wilayah Rungwe, 75% dimanfaatkan untuk pertanian dan sisanya hutan serta pemukiman. Distrik Rungwe terkenal dengan produk unggulan pertanian kopi, kakao, teh, jagung, pisang, kentang, padi dan kacang-kacangan, di bidang peternakan sapi serta perikanan.

Sebelum bertolak kembali ke Dar es Salaam esok hari, Dubes Pardede dijadwalkan melakukan peninjauan pasar ke sentra ekonomi di Mbeya guna memantau persebaran produk Indonesia di provinsi tersebut.