Dubes Djoko dan Mufti Al Afyouni Konflik Suriah Bukan Konflik Shiah-Sunni, Melainkan Konflik Geopolitik

Dubes Djoko dan Mufti Al Afyouni: Konflik Suriah Bukan Konflik Shiah-Sunni, Melainkan Konflik Geopolitik

 


Jakarta (2/11) Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Arab Suriah YM Drs. Djoko Harjanto MA menjadi salah satu pembicara dalam seminar bertema “Jangan Suriahkan Indonesia” yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Syam Indonesia di hotel Grand Kemang, Jakarta pada 1 November 2018. Membuka seminar tersebut Dubes langsung menjelaskan secara lugas asal muasal konflik yang diawali oleh gelombang Arab Spring yang dimulai di Tunisia, Mesir dan Libya. Skenario ini kemudian ditujukan ke Suriah dengan target menjatuhkan pemerintahan yang sah Presiden Bashar Al Assad. Diplomat senior tersebut menjelaskan bahwa segala informasi yang diberikan dalam seminar tersebut adalah fakta yang sebenarnya yang diperoleh sebagai wakil dari 260 juta rakyat Indonesia di Suriah.

 

Menurutnya tuntutan demokratisasi kemudian berubah setelah ditemukan demostran yang membawa senjata di wilayah Dar’aa. Selanjutnya situasi politik semakin memburuk dengan masuknya berbagai kelompok asing diantaranya adalah ISIS dan Jabhat Al Nusra yang terafiliasi Al Qaeda. Dubes juga menegaskan bahwa Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, Israel bahkan negara-negara teluk juga mendukung dan mendanai kelompok-kelompok oposisi bersenjata. Konflik di Suriah merupakan konflik yang disulut oleh pihak-pihak asing, konflik geopolitik bukan konflik sektarian Shiah-Sunni. Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Suriah di Jakarta, Dr. Ziyad Zahrudin, yang juga hadir sebagai narasumber membenarkan pernyataan Dubes Djoko, bahwa perang yang sudah berlangsung lebih dari tujuh tahun memakai segala macam cara pihak-pihak musuh dengan tujuan memecahbelah Suriah.

 

Dubes Djoko pada kesempatan yang sama menggarisbawahi bahwa tugas utama Dubes RI di Suriah adalah melindungi WNI yang ada di Suriah. Ketika Dubes Djoko Harjanto baru tiba sebagai Kepala Perwakilan RI di Damaskus, hal pertama yang dilakukan adalah mengunjugi seorang WNI yang berada di penjara Adra yang letaknya ada di jantung wilayah konflik bersenjata dekat Ghouta. Pada tahun 2015 Dubes juga menembus desingan peluru dan bom menembus wilayah Aleppo demi memastikan kondisi WNI di sana serta melakukan evakuasi kepada mereka.

 

Hal senada juga disampaikan oleh narasumber lainnya yakni Mufti Damaskus yang sekaligus Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Syekh Dr. Adnan Al Afyouni. Menurutnya sejak dulu masyarakat Suriah adalah masyarakat yang heterogen dan telah hidup berdampingan dengan damai. Namun menurutnya konflik yang terjadi saat ini adalah dipicu utamanya oleh kepentingan beberapa negara diantaranya terkait kekayaan alam (gas) yang dimiliki Suriah serta ketakutan yang berlebihan dari Israel akan acaman keamanan terhadap wilayahnya.

 

Semua narasumber menutup seminar dengan menegaskan pernyataan yang seirama. Hendaknya konflik di Suriah cukup menjadi contoh dan pelajaran bagi semua negara termasuk Indonesia. Jika benih-benih perpecahan telah terasa, maka semua pihak wajib meredam. Utamakan persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepetingan lainnya.