Prof. Dr. Sangidu, Atdiknas KBRI Cairo, Diwawancarai Teve El Majd

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Teve El Majd, pada Selasa 22 September 2009 menyiarkan langsung wawancara dengan Prof. Dr. Sangidu, Atase Pendidikan Nasional KBRI Cairo, dalam acara "Eiduna Waahid (Hari Raya Kita Sama).

Dalam wawancara dengan teve Arab Saudi tersebut, Dr. Sangidu menjelaskan bahwa Idul Fitri, yang di Mesir disebut-sebut sebagai hari raya kecil, di Indonesia dirayakan sangat besar dan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia dan pada kesempatan Idul Fitri juga digunakan kesempatan untuk silaturrahmi, saling kunjung-mengunjungi serta berkumpul sesama keluarga, teman dan handai tolan.

Menurut Dr. Sangidu, tidak ada pakaian khusus terkait dengan penyambutan hari raya Idul Fitri, namun secara umum, untuk Idul Fitri masyarakat menggunakan pakaian baru. Ditambahkan bahwa dalam rangka perayaan Idul Fitri, ibu-ibu rumah tangga menyiapkan berbagai jenis makanan dan minuman untuk menyambut tamu yang berdatangan baik keluarga, tetangga maupun teman dan sahabat. Makanan dan minuman tersebut umumnya tidak memanfaatkan jasa pertokoan tapi lebih banyak merupakan hasil buatan sendiri (Pada kesempatan wawancara, Prof. Sangidu juga mempersilahkan pewawancara dan peserta acara untuk mencicipi kue-kue yang biasa disuguhkan pada lebaran Idul Fitri, seperti kue ketawa, nastar dan enting-enting).

Di Indonesia, suasana lebaran Idul Fitri ini juga dimanfaatkan untuk mudik pulang kampung halaman yang dilakukan pada hari-hari menjelang Idul Fitri, sehingga pada hari-hari tersebut, keramaian di kota-kota besar pada umumnya agak sepi dibanding hari-hari biasanya karena sebagian besar warga kota tersebut meninggalkan tempat tinggal mereka untuk kembali ke kampung asal guna berkumpul dengan orang tua, keluarga dan teman-teman.

Dalam wawancara tersebut, Prof. Dr. Sangidu didampingi oleh Dr. Jamaluddin El Sharqawi, seorang warga Mesir yang banyak menceritakan tentang ke-Indonesiaan dan suasana lebaran Idul Fitri di Indonesia. Menurut Dr. Jamal yang pernah mengenyam pendidikan selama 5 tahun di Universitas Gajah Mada, bahwa Indonesia mempunyai alam hijau nan luas yang merupakan "Sorga Allah di Dunia". Ditambahkan bahwa Indonesia memiliki 400-an bahasa dan dialeg lokal serta kultur yang satu daerah dengan daerah lainnya berbeda-beda. Dr. Jamal tambahkan bahwa pada Idul Fitri ada ucapan minal aidin wal faizin, wa taqabbalallhu minna wa minkum yang di Mesir sendiri tidak kita gunakan sementara ucapan tersebut sangat baik dan penting. Dikatakan juga adanya acara "Halal Bi Halal" yang merupakan tradisi silaturrahmi sangat baik yang sering diadakan di Indonesia, baik di dalam lingkungan keluarga atau lingkungan teman kerja.

Ikut juga dalam program acara Eiduna Wahid seorang mahasiswa Indonesia, Faiq El Nuha Mubarak yang melantunkan nasyid-nasyid Arab dan Indonesia yang bernafaskan Islam serta takbiran, dan seorang mahasiswa Belanda asal Maroko yang sedikit menceritakan suasana Idul Fitri di Belanda dan melantunkan takbiran yang ada di komunitas Islam di Negara kincir angin tersebut.

Pembawa acara, Dr. Ammar Abdel Ghani, berkewarga negaraan Irak, pada kesempatan itu juga melantunkan takbiran ala Irak yang intonasinya sedikit berbeda dengan Indonesia. Dr. Ammar menjelaskan bahwa intonasi takbiran Irak mempunyai kekhususan dan lain dari tempat-tempat lain di dunia.

Acara Eiduna Waahid berlangsung selama 50 menit dan disiarkan ulang keesokan harinya pada jam 04.30 dan 12.30 waktu Cairo.