Pidato Duta Besar Pada Malam Tasyakuran Peringatan ke-64 Kemerdekaan Republik Indonesia Nasr City, Mesir, 20 Agustus 2009

8/20/2009

 

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang atas perkenan dan rahmatNya pada malam hari ini kita diberikan kesehatan dan kesempatan untuk memperingati 64 tahun peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi kita Bangsa Indonesia, ini merupakan momentum untuk mempertebal rasa syukur, melakukan refleksi, sekaligus memperbaharui tekad; tekad untuk mewujudkan cita-cita proklamasi yang diperjuangkan para Pendiri Negara.

Pada tanggal 17 Agustus 1946, sebuah acara resepsi Peringatan Pertama HUT Kemerdekaan RI digelar di lapangan olahraga Jam’iyah Syubban Muslimin di Cairo. Acara dihadiri tidak kurang dari 200 pembesar Mesir dan Arab. Penyelenggaranya adalah Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia yang diketuai oleh M. Zein Hassan. Ikut memberikan sambutan Jenderal Saleh Harb Pasha sebagai Ketua Panitia Pembela Indonesia dan Abdurrahman Azzam Pasha, Sekretaris Jenderal Liga Arab.

Acara diisi dengan pembacaan puisi oleh penyair Mesir yang membawakan syair-syair penuh semangat, kekaguman dan simpati pada perjuangan Indonesia. Band Sukaria Indonesia ikut memeriahkan acara dengan membawakan lagu-lagu perjuangan.

Lewat tengah malam, resepsi ditutup dengan menyanyikan Indonesia Raya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Setahu saya, ini tidak hanya acara peringatan pertama di Mesir, tetapi acara pertama yang diselenggarakan bangsa Indonesia di luar negeri pada saat belum satupun Negara mengakui kemerdekaan Indonesia.

Sejarah mencatat, dari Mesirlah perjuangan untuk memperoleh pengakuan kemerdekaan bermula. Pelopor sekaligus pelakunya adalah mahasiswa Indonesia. Dan itu tidak terjadi begitu saja. Ada proses panjang interaksi para mahasiswa Indonesia dengan berbagai lembaga dan tokoh Mesir dan Arab.

Sebut saja mahasiswa Abdul Kahar Mudzakkir yang bergaul dengan Sayid Qutub (pengarang Tafsir fi Dzhilal al-Qur’an) dan rajin menulis artikel di koran-koran Mesir seperti Al-Ahram, Al-Balagh dan Al-Hayat. Pada tahun 1931, dalam usia yang masih sangat muda, sudah menjadi utusan mewakili Asia Tenggara dalam Muktamar Islam Internasional di Palestina.

Selain tercatat sebagai peserta termuda, ia juga terpilih sebagai Sekretaris Muktamar. Kesempatan baik itu, dimanfaatkan oleh Kahar muda untuk memperkenalkan Indonesia. Mantan Menteri Agama dan Duta Besar pertama M Rasyidi menyebut Abdul Kahar sebagai personifikasi Indonesia di Timur Tengah. Abdul Kahar Mudzakkir kita kenal kemudian sebagai salah satu dari sembilan penandatangan Piagam Jakarta yang selanjutnya menjadi Pembukaan UUD 45.

Tokoh-tokoh Masisir lainnya seperti Iljas Jacub, Mahmud Yunus, Muchtar Lutfi, Harun Nasution, Jusuf Saad umumnya bergaul dengan ulama dan tokoh-tokoh nasionalis Mesir.

Pada 1944, di Alexandria diselenggarakan Kongres Pan Arab (cikal bakal Liga Arab), Ismail Banda dan M. Zein Hassan mewakili Masisir menyampaikan nota yang meminta perhatian dan dukungan Sidang akan perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Terhadap nota itu, semua delegasi menyatakan simpati dan dukungan kepada Indonesia serta menyanggupi untuk memberikan bantuan.

Sejak itu, tokoh-tokoh Masisir terus melakukan hubungan dengan pemimpin-pemimpin resmi Negara-negara Arab seperti Mohamad Salahudin Pasha Sekjen Kongres Pan Arab, Abdurrahman Azzam Pasha, Sekjen Liga Arab, Habib Bourguiba (pendiri dan Presiden pertama Tunisia), Fudail Wartalani dari Aljazair, Asad Salmaniah dari Lebanon dan Mirza Miski Bey dari Iran.

Gambaran peristiwa sejarah itu tadi adalah nukilan dari buku "Potret Hubungan Indonesia-Mesir" yang insya Allah dalam waktu dekat akan kita terbitkan.

Potongan peristiwa-peristiwa itu menunjukkan betapa ketokohan Masisir mampu menorehkan catatan emas dalam tahapan menentukan sejarah Indonesia, perjuangan bangsa, serta cikal bakal dan perintisan diplomasi Negara.

Saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan dan mengambil mutiara kebajikan dari perjalanan sejarah itu yang berguna bagi perjalanan kita kedepan. Bukankah pepatah mengatakan: ‘sejarah adalah guru kehidupan."’

Semua ini mengingatkan kita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang. Semangat juang yang luhur itu tidak boleh padam. Bahkan dalam konteks era demokrasi dan globalisasi dewasa ini, semangat perjuangan ini justru menjadi semakin relevan dalam upaya kita bersama untuk mewujudkan Indonesia hyang maju dan unggul di abad ke-21. Kita harus terus menjaga karakter perjuangan ini dan menanamkannya di dada kita.

Sebagai bangsa besar, selain berjuang untuk dapat melindungi tumpah darah dan menjadi bangsa yang mandiri, sejahtera dan bermartabat, berkepribadian, kita juga harus ikut menentukan masa depan dunia.

Kalau dulu para Pendiri Negara mampu mengilhami dan menjadi aspirasi Negara-negara lain untuk merdeka. Kini, kita juga harus mampu menjadi bangsa terdepan untuk memperjuangkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan kesejahteraan sosial. Sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas Muslim yang terbesar di dunia, kita perlu menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam Moderat.

Mustahil hal itu dapat diwujudkan tanpa mempelajari sejarah, menguasai ilmu pengatahuan, menerapkan dan mengkomunikasikanya serta menjadi juru bicara bangsa-bangsa sehaluan.

Dunia kita tidak terbatas hanya Hay Asyir, Nasr City, Garden City, Al-Azhar, Mesir, Rappang, Yogya, Surabaya, Bengkulu, Samarinda dan Indonesia saja.

Kalau pendahulu kita, yang masih berstatus mahasiswa, mampu meyakinkan Mesir dan LIga Arab untuk mengakui kemerdekaan Indonesia, dan menjadi tokoh2 nasional; setidaknya kita harus mencapai prestasi yang sama gaungnya.

Bagaimana kita dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam moderat, jika kita masih sibuk dan menghabiskan dengan urusan yang kecil dan tidak penting. Kita harus berani keluar dari sekat2 dan batas2 sektarian sempit yang membelenggu kebebasan berpikir dan pengembangan diri.

Ciptakan target dalam setahun kalian tidak bermasalah untuk berkomunikasi dengan bahasa asing; dalam dua tahun mengusai substansi ilmu yang jadi pilihan; tahun ketiga sudah mampu berdebat dengan mahasiswa asing atau bahkan dosen; tahun keempat sudah mampu membuat tulisan dan karya2 ilmiah dst sampai kalian tahu persis apa yang akan disumbangkan bagi kejayaan bangsa dan tanah air kita.

90 persen najah 30 mumtaz bukan lagi mimpi tapi sebuah tekad.

Karya besar dan kontribusi besar terutama tercipta karena tekad, konsistensi dan kesabaran. Sulit dapat diwujudkan jika masih memiliki mentalitas cepat menyerah, cuek, menyalahkan keadaan atau orang lain atau tergantung tersedianya fasilitas.

Pengakuan Mesir dan Liga Arab tidak akan pernah terjadi jika para pendahulu kalian tidak memiliki keteguhan, semangat patriotisme, pengetahuan yang luas dan kemampuan untuk menyampaikan missi secara meyakinkan.

Sebagai bangsa besar dan berbudi, kita patut dan wajib menunjukkan penghormatan dan penghargaan kepada bangsa-bangsa yang telah menyumbang, mendukung dan ikut memperjuangkan kemerdekaan kita. Mesir adalah yang utama dan terdepan.

Kita maklumi bersama, Mesir yang pertama mengakui kemerdekaan Indonensia sekaligus menjalin hubungan diplomatik yang kemudian diikuti Negara-negara Arab lainnya.

Tidak hanya itu, negeri ini sejak awal abad ke-19 sudah menerima, menampung dan mendidik anak-anak bangsa untuk belajar di perguruan Al-Azhar yang terkenal dan moderat. Sudah tidak terhitung alumni yang dilahirkannya dan menjadi tokoh-tokoh nasional, dari pendidik, pejuang, pejabat, cendekiawan dan pendakwah.

Pada tatanan Negara, kita senantiasa memposisikan diri sebagai sahabat sejati Mesir. Indonesia dengan gigih mendukung perjuangan Mesir menasionalisasi terusan Suez melawan Inggeris, Perancis dan Israel, lalu untuk keperluan menjaga perdamaian dan ketertiban, Indonesiapun mengirimkan pasukan Garud. Indonesia juga mendukung Mesir merebut kembali Sinai sekaligus menempatkan pasukan perdamaian. Indonesia tetap menjadi sahabat Mesir saat diisolasi Negara-negara Arab lainnya karena menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan ikut mengupayakan pencairan keanggotaan Mesir di OKI.

Semua Presiden Indonesia, kecuali Habibie, berkunjung ke Mesir. Bahkan Presiden Soekarno sampai enam kali melakukan kunjungan. Begitu hormatnya Pemerintah dan rakyat Mesir kepada Presiden Soekarno, namanyapun diabadikan di salah satu jalan di Giza. Sebaliknya, semua Pemimpin Mesir juga melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, terakhir Presiden Hosni Mubarak tahun 1983.

Lebih jauh, semua Grand Syaikh Al-Azhar, dari Abdurrahman Tag, Mahmoud Syaltout, Mohamed El-Fahham, Abdul Halim Mahmoud, Abdurrahman Baishar, Ali Gad Al-Haq, hingga yang sekarang Sayed Mohamed Tantawi pernah datang ke Indonesia.

Dapat saya katakan bahwa persahabatan Indonesia – Mesir sebenarnya dilandasi oleh suatu pertalian emosional kebangsaan dan keislaman.

Sebagai Pusat ilmu pengetahuan Islam, Al-Azhar akan tetap menjadi magnit bagi lulusan pesantren dan madrasah untuk meneruskan studi. Kita semua maklum, semua mahasiswa yang belajar di perguruan tertua ini tidak dipungut biaya alias gratis.

Kita juga tau, dari sekitar 5000 mahasiswa Indonesia yang sekarang menuntut ilmu di Al-Azhar, 700 diantaranya ditampung di asrama mahasiswa asing. Disamping itu, sejumlah 1200 orang lainnya setiap bulan menerima tunjangan sebesar 160 ponds Mesir. Ini tidak termasuk bantuan dari beberapa yayasan atau bahkan perorangan. Sebut saja, Jam’iyah Syar’iyah yang memberikan donasi per bulan untuk 2000 lebih mahasiswa Indonesia.

Kebaikan yang kita terima itu tidak datang tiba-tiba. Ini tentunya merupakan buah dari pertalian emosional yang telah terjalin lama disamping memang komitmen Al-Azhar pada risalah Islamiyah sebagai wakaf umat Islam.

Lagi-lagi sebagai bangsa yang berbudi, kita wajib menyatakan terimakasih. Lebih jauh, sebagai umat yang beriman, kita wajib menjadi manusia yang pandai bersyukur.

Untuk itu, mari kita tunjukkan dengan memaksimalkan waktu, pikiran dan upaya kita dengan menggali sebanyak-banyaknya keberkahan dan ilmu di negeri para Nabi ini;

Mari kita cari bekal sebanyak-banyaknya untuk kita sebarkan dan aplikasikan di tanah air tercinta. Dengan demikian, kita tidak hanya membawa risalah Islamiyah yang diemban Al-Azhar akan tetapi juga menyumbang bagi kemajuan dan kajayaan Indonesia;

Mari kita buktikan bahwa generasi Masisir sekarang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar, berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya, bahkan menjadi Pusat Peradaban Islam Kontemporer yang rahmatan lil-alamin. Insya Allah.

Wabillahittaufiq wal hidayah

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh