Pakaian Perkawinan Adat, Bisa Menjadi Idiom Promosi Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pakaian adat perkawinan Sunda dan Bali tampil memikat pada Wedding Festival Kultour10, yang berlangsung di gedung pusat budaya kota Sint Niklaas yang megah, Belgia, Sabtu (27/3).

 

Partisipasi Indonesia pada festival ini, selain sebagai langkah memperluas jangkauan promosi pariwisata, juga dimaksudkan untuk menyambut diresmikannya Pusat Budaya Indonesia di Brussels sehari sebelumnya. Lembaga pusat budaya di Eropa yang mengelola berbagai kegiatan seni-budaya, kesenian dan pariwisata. Demikian antara lain dikemukakan Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa, Nadjib Riphat Kesoema dalam sambutannya.

 

Tidak hanya musik dan tarian Indonesia, prosesi dan pakaian perkawinan adat juga menjadi daya tarik luar biasa. Atribut gaun pengantin adat Sunda dan Bali yang masing-masing unik dan colorful, memang tampil beda di tengah parade gaun budaya Eropa Tengah (seperti Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan), Rumania, Bulgaria, Kolombia, Yaman, Maroko, China dan bahkan Jepang. Demikian tambah PLE Priatna, Minister Counselor Pensosbud/Diplik di tengah suasana parade berlangsung. Tampak hadir para perancang busana kondang dari Belgia, outlet wedding fashion, pengusaha pakaian perkawinan dan masyarakat luas tidak hanya dari Belgia tapi juga Belanda.

 

Alunan suling-degung Sunda dan gamelan Bali mengiringi parade gaun pengantin adat memukau decak kagum para tamu ke alam Indonesia. “Gaun pengantin adat dan prosesi perkawinan adat pun dapat menjadi satu elemen budaya penting bagi promosi Indonesia di manca negara, sehingga mereka semakin mengenal keragaman dan kedalaman tradisi serta adat yang kita miliki,” imbuh PLE Priatna, meyakinkan upaya promosi aktif yang dilakukan.

 

Hingga akhir Maret ini, diluar kegiatan workshop disana-sini, KBRI Brussel telah menjadi tamu kehormatan dalam Charleroi Expo, Festival Laetere di Stavelot dan membuka Pusat Budaya Indonesia di Brussel. Bermodal grup gamelan Bali binaan KBRI, para penari semi-professional tarian Bali, muli betanggai hingga saman dari Aceh, menjadi outreach tidak hanya untuk promosi tapi juga pembentukan lembaga pusat budaya. (PLE)