Kolaborasi Tiga Warna (Tari, Film dan Buku) Indonesia di Brussel

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

KBRI Brussel bekerjasama dengan rumah produksi Exploration Du Monde di Brussel tampilkan dua tema, Sumatra dan Bali serta pemutaran film tentang Indonesia karya sineas Alain Wodey, selama 5 hari di gedung teater prestisius di Palais Des Beau-Arts (BOZAR) Brussel (15-21/09/09). Tari Rantak dan tari Saman yang dipersembahkan secara live oleh 10 remaja Indonesia tampil memukau mengusung sekitar 250 penonton di teater elite ini, terbang ke alam Indonesia.
 
“Tari, film dan buku tentang Indonesia, yang digelar marathon, dan pemutaran film sebanyak 60 kali menembus 25 kota di Belgia-Luksemburg ini adalah langkah terobosan promosi budaya dan pariwisata Indonesia”, demikian ujar Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa (UE), Nadjip Riphat Kesoema menyambut prakarsa kolaborasi tiga warna Indonesia.
 
Selama Oktober 2009 di Belgia-Luksemburg Bulan Promosi Indonesia menggelar kolaborasi tari, buku dan film tentang Indonesia. Film pariwisata dan budaya tentang Indonesia karya sineas lepas asal Perancis, Alain Wodey ini ditayangkan sebanyak 60 kali di semua teater dan pusat budaya prestisius di pelosok Belgia dan Luksemburg sepanjang Oktober hingga Desember 2009. Tiket menonton seharga 10 Euro laris terjual.
 
“Indonesia negara kedua saya. Saya mencintainya dan ingin membagi kecintaan saya dengan masyarakat Eropa yang tidak mengenal sepenuhnya Indonesia. Saya buka mata mereka untuk melihat dari dekat Indonesia”, demikian ungkap sineas Alain Woodey dengan bangga.
 
Selain pemutaran film tentang keindahan alam dan pariwisata Indonesia, juga diluncurkan dua buah buku terbaru karya Alain Woodey, masing-masing berjudul “Indonesie, Aventures et Recontres” dan Indonesie, Variete, Faste et Demesure (Java-Sumatra-Bali) karya duet Alain Billy dan Alain Woodey ini, telah memperkuat persembahan film yang mengungkap keunikan budaya dan wisata Indonesia dari Papua hingga Aceh.
 
Kolaborasi tiga warna, tari, buku dan film akan memperluas daya jangkau masyarakat Eropa mengenal Indonesia. Antusiasme publik di jantung Uni Eropa ini membuktikan kesenian dan pariwisata kita merebut perhatian mereka.
 
Alain Woodey sineas besar asal Perancis ini, yang kagum budaya masyarakat Batak, berkarya sejak tahun 1968. Ia membuat berbagai film dokumenter tetang keindahan alam, pariwisata dan budaya di banyak negara. Pada tahun 1994 ia mulai merintis pembuatan film tentang Indonesia dibantu oleh Alain Billy, Direktur Pusat Kebudayaan Perancis yang pernah tinggal di Yogjakarta (1991-1997).
 
Tarian, buku dan film tentang Indonesia adalah medium yang mudah akrab dengan segala lapisan masyarakat. Pemutaran film sebanyak 60 kali di berbagai pelosok kota di Belgia dan Luksemburg ini menjadi medium komunikasi yang efektif bagi promosi di Eropa.