Kolaborasi Pagelaran Kesenian dan Sepekan Makanan Indonesia Sukses di Belgia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pagelaran kesenian Indonesia adalah kunci promosi pariwisata Indonesia di Belgia, di jantung Uni Eropa. Tanpa pagelaran kesenian dan musik pameran akan terasa kering dan sepi. Workshop gamelan Bali secara live berikut sederet uraian tentang gerakan tari Pendet, Rantak, Muli Betangai (Lampung) terbukti menjadi instrumen perekat utama penonton betah dan bertahan di paviliun Indonesia. Itulah potret merebut pengunjung dalam dua hari (Sabtu-Minggu) menjelang penutupan Charleroi Expo, 21 Februari 2010.

 

Menarik. Kuis interaktif tentang Indonesia dengan penonton, juga mendapat sambutan meriah. Hadirin berlomba menjawab secara benar, warna bendera Indonesia, luas wilayah Indonesia, pulau terbesar, jumlah obyek wisata dan sejumlah pertanyaan lain tentang tempat berlibur.

 

“Kita bangga dalam sepekan promosi ini, kita mendapatkan tidak kurang dari separuh pengunjung tetap yang hadir setiap hari menyaksikan pagelaran budaya Indonesia itu. Musik gamelan Bali, tarian dan makanan, memang menjadi daya tarik yang amat kuat merebut penonton dalam Charleroi Expo ini”, demikian ungkap Nadjib Riphat Kesoema, Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa di tengah para pengunjung di Restoran Indonesia, saat didampingi Ny Nino Riphat dan Ketua Dharma Wanita KBRI Brussel, Ny Ratna Suminar.

 

Penonton berduyun menanti kuis dan jam pagelaran. Berebut tempat dan bahkan rela duduk di lantai beralas karpet untuk menyaksikan sederet pertunjukkan musik dan tari Indonesia asuhan Made Wardana dari KBRI Brussel menutup persembahan Indonesia sebagai negara tamu.

 

Tak ketinggalan warung pojok, Restoran Indonesia dengan menu Nasi Goreng, Sate Ayam, Soto Madura, Mie Goreng telah mematri brand dibenak orang Eropa warga Belgia nama makanan tersebut adalah makanan asli Indonesia.

 

“Melekatkan nama makanan popular Indonesia kepada publik Belgia ini adalah promosi penting selama sepekan terakhir ini, agar mereka tahu bahwa semua itu milik Indonesia”, demikian tambah PLE Priatna, Minister Counsellor Pensosbud KBRI Brussel di tengah obrolan dengan para pengusaha biro perjalanan yang menjual paket liburan ke Indonesia.

 

Batik adalah ikon ke-Indonesia-an yang juga mengundang pengunjung pameran. Pameran batik Indonesia diselingi demo membatik oleh Ny Joshina, warga Belgia keturunan Indonesia telah memperkaya suasana paviliun Indonesia ini. Paviliun Indonesia yang dikemas dalam alam tropis, ditampilkan terbuka akrab dengan pengunjung telah berhasil mencuri perhatian di tengah 72 stand lainnya yang ikut pameran.

 

Acara ini, paling tidak telah membuahkan dua perusahaan travel besar yang siap membawa rombongan besar warga Belgia berlibur ke Indonesia bulan Juli-Agustus mendatang. Escape, BT Tours dengan paket relatif murah berhasil jaring peminat dalam sepekan terakhir. Dari puluhan pameran di banyak tempat, pagelaran kesenian dan musik adalah kunci suksesnya paviliun Indonesia dibanjiri penonton. Demikian tambah PLE Priatna. (KBRI Brussel)