Indonesia Dorong Eropa Atasi Akar Masalah Perompakan

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Perompakan di laut, di wilayah Selat Malaka dan Selat Singapura cenderung menurun. Hal ini didorong keberhasilan Indonesia, sebagai negara dengan pantai terpanjang di Selat Malaka, dalam menyelesaikan akar permasalahan konflik di Aceh. Secara faktual, perdamaian di Aceh berkontribusi terhadap keamanan lalu lintas laut dengan menurunnya jumlah perompakan di laut di Selat Malaka dan Selat Singapura. Kasus perompakan di perairan Somalia bisa bercermin dengan mencari penyelesaian seperti di Aceh. Demikian disampaikan Rachmat Budiman, Ketua Delegasi RI/Direktur Perjanjian Polkamwil Kemlu RI dalam ASEM Seminar on Piracy at Sea di Brussels (4-5/5).

 

Ditambahkannya bahwa negara maju sering kali mencampuradukan istilah tindak kejahatan berupa perompakan di laut yaitu piracy at sea yang terjadi di laut lepas dengan armed robbery against ship yang terjadi di dalam batas wilayah suatu negara. Hal ini merancukan cara penanganan masalah. Eropa, menurut Rahmat, perlu dekati secara holistik semua akar masalahnya.

 

Seminar yang diselenggarakan menjelang KTT ASEM 8 tersebut, dimaksudkan sebagai masukan agenda pertemuan para Kepala Negara ASEM mengingat isu perompakan di laut (piracy at sea) cukup meresahkan Eropa. Hal ini mengingat 80 persen ekspor-impor dan lalu lintas perdagangan, masih dikirimkan menggunakan jasa kapal laut. Demikian keterangan PLE Priatna, Minister Counsellor Pensosbud/Diplik KBRI Brussel dalam surat elektronik yang dikirimkan semalam (05/5).

 

Menurut catatan, komplotan bajak laut perompak asal Somalia bisa meraup uang tebusan sebesar 150 juta dolar AS pada tahun 2009. Di perairan Teluk Aden dan lepas pantai Somalia tahun 2009, sebanyak 88 kapal yang melintas diserang dan 33 berhasil dikuasai para perompak. Sementara di selat Malaka dan selat Singapura pada tahun 2007 tercatat setidaknya sekitar 70.000 ribu kapal dagang melintas memasok 80 kebutuhan energi untuk Jepang dan China.

 

Seminar ini sangat relevan bagi Indonesia, untuk membagikan pengalaman (best practices) kepada dunia (Eropa), mengingat Indonesia sebagai littoral states memiliki wilayah pantai terpanjang sekaligus keberhasilan penanganan kasus perompakan di laut. Demikian PLE Priatna, Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Brussel menutup keterangannya.