Gandeng Ormas Belgia, KBRI Brussel Gelar ‘Malam Indonesia’

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

“Selamat Datang Indonesia”, KBRI Brussels menggandeng Marc Neuven, Direktur Academie Haspengouw, organisasi sosial yang bergerak di bidang sosial-budaya di kota Saint Truiden-Belgia tampilkan Malam Indonesia dari sanggar tari Minapy Arjati & Associates dari Jakarta (29/4).

 

 

“Kolaborasi KBRI Brussel dan Marc Neuven dalam malam dana Indonesia ini patut terus dilakukan ke seluruh pelosok Belgia lainnya agar mereka semakin mengenal dan merasa dekat dengan Indonesia”, demikian ujar Dubes RI Brussel, Nadjib Riphat Kesoema di tengah penonton yang tersihir mendengar alunan gamelan Bali secara live.

 

 

Kerjasama ini merupakan salah satu program kegiatan pasca berdirinya Pusat Kebudayaan dan Promosi Indonesia di Brussel, 26 Maret lalu. Malam Indonesia ini, tidak sekedar untuk menampilkan budaya Indonesia tapi lebih dari itu adalah malam dana yang akan disumbangkan bagi anak putus sekolah di Indonesia.  Keistimewaan lain bahwa promosi pariwisata Indonesia dengan gamelan Bali ini kita menampilkan penabuh gamelan cilik, mungkin satu-satunya di Eropa.

 

 

Teater pusat budaya kota St Truiden, kota kecil yang berjarak 60 km dari Brussel, dipadati sekitar 200 penonton dengan harga satu tiket petunjukan seharga 10 Euro (Rp 120.000). Hasil penjualan tiket akan diserahkan melalui Lions Club Indonesia untuk bantuan pendidikan di Indonesia. Demikian ungkap PLE Priatna, Koordinator Fungsi Pensosbud/Diplomasi Publik KBRI Brussel.

 

 

Indonesia tampilkan musik gamelan Bali grup Saling Asah asuhan Made Wardana, staf KBRI Brussel secara live dengan keunikan penabuh profesional warga Belgia dan hadirnya penabuh cilik. Sekitar 11 orang warga Belgia tampil memikat dan dinamik memainkan gamelan dengan harmoni yang tinggi. 

 

 

Grup gamelan Bali Saling Asah binaan KBRI Brussel sejak 1998 yang diasuh Made Wardana, alumnus ISI Denpasar ini tumbuh menjadi grup gamelan Bali yang disegani di Eropa. Tidak hanya itu, KBRI Brussel dan Saling Asah berhasil membina penambuh gamelan cilik Hendisa Wardana (10 tahun),  Adika Wendrix (10 tahun), Gde Karya Van Geyte (10 tahun), Emmilia Powel (9 tahun), fasih menabuh secara ritmik, menjadi atraksi yang amat memikat bagi warga Belgia.