Crans Montana Forum: Kerjasama Selatan-Selatan Masih Relevan Sebagai Pelengkap Kerjasama Utara-Selatan

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kerjasama Selatan-Selatan merupakan komponen pelengkap yang penting bagi kerjasama Utara-Selatan untuk mendorong kerjasama internasional di bidang pembangunan. Indonesia senantiasa memiliki komitmen untuk mengembangkan kerjasama antar negara berkembang tersebut. Tujunannya untuk melengkapi kerjasama antara negara maju dengan negara berkembang. Demikian salah satu pokok pidato Sekretaris Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik (IDP) Kemlu, Elias Ginting di hadapan Crans Montana Forum, Brussel (10/4).

 

Di hadapan sidang tahunan yang ke-21 Crans Montana Forum dengan tema “Africa after the London & Pittsburgh G 20s: The New Economic Parameters” tersebut, Elias Ginting memaparkan mengenai potensi dan tantangan negara-negara berkembang untuk mengembangkan kerjasama yang kompatibel antara satu sama lain, serta solusi yang ditawarkan Indonesia.

 

“Bagi Indonesia forum ini cukup relevan untuk kembangkan dialog dan berbagi pengalaman untuk merealisasikan kerjasama pembangunan. Indonesia berada di garda terdepan dalam kerjasama pembangunan di negara berkembang selama ini, dan pengalaman kita layak dijadikan contoh,” tambah Elias Ginting.

 

Disampaikan bahwa Indonesia telah memajukan kerjasama antar negara berkembang dalam berbagai bidang, utamanya pertanian, perkebungan, micro-finance, perikanan dan kehutanan. Dicontohkan bahwa melalui Non-Aligned Movement Center for South-South Technical Cooperation, Indonesia tengah mengembangkan Pusat Pelatihan Pertanian di Tanzania, Afrika.

 

Pada kenyataannya, negara-negara berkembang sering menghadapi tantangan, khususnya di bidang finansial, untuk mengembangkan kerjasama selatan-selatan. Untuk itu, Indonesia mengajak negara-negara maju untuk turut berperan sebagai katalisator bagi penguatan kerjasama antar negara berkembang. Digarisbawahi oleh Elias Ginting bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia dan teknologi yang kompatibel dengan negara berkembang lainnya, yang merupakan potensi yang harus dikembangkan. Kompatibilitas ini merupakan hal yang penting, utamanya untuk melengkapi ketidaksesuaian teknologi antara negara maju dan negara berkembang.

 

Sementara itu, Dubes RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa, Nadjib Riphat Kesoema menambahkan bahwa selama Uni Eropa, melalui berbagai skema bantuannya, memiliki perhatian tinggi kepada pembangunan dan peningkatan taraf hidup di berbagai negara berkembang. Namun dengan adanya berbagai persyaratan yang ketat serta standard yang tinggi, berbagai potensi bantuan UE tersebut belum dapat terserap dengan baik.Dalam kaitan itu, Uni Eropa, di samping memberikan bantuan secara langsung, diharapkan dapat menjadi aktor penting dalam meningkatkan kerjasama antar negara berkembang, sehingga menjadi kerjasama aplikasi teknologi yang kompatibel yang memiliki daya saing yang tinggi.

 

Crans Montana Forum merupakan suatu organisasi yang berpusat di Monaco, dan secara rutin menyelenggarakan konferensi internasional untuk membahas berbagai isu penting di dunia. Tema tahun ini adalah pembangunan di Afrika, utamanya terkait dengan komitmen negara-negara maju pada KTT G20 di Pittsburgh, AS pada tahun 2009. Konferensi ini pada umumnya dihadiri oleh beberapa pimpinan negara dan tokoh-tokoh penting lainnya.

 

Selain menghadiri Konferensi Crans Montana Forum, Sesditjen IDP juga mengadakan diskusi dengan Duta Besar dan staf KBRI Brussel. Pokok pembahasan diskusi, antara lain, mencakup perlunya dikembangkan teknologi pelengkap antara negara berkembang untuk meningkatkan nilai tambah hasil sumber daya alam masing-masing.(PSN|PLE)