ISLAM DI INDONESIA DAPAT MENJADI ALTERNATIF

6/2/2016

PRESS RELEASE

No. 09/PEN/V/2016

ISLAM DI INDONESIA DAPAT MENJADI ALTERNATIF

PENCITRAAN ISLAM YANG POSITIF DI EROPA

Brussel, 31 Mei 2016

 

Hal ini disampaikan oleh Cendikiawan Muslim sekaligus Senior Professor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Prof. Azyumardi Azra di hadapan lebih dari 100 peserta dalam seminar bertajuk Islam dan the Challenge of Muslim Democrats di Brussel, 31 Mei 2016. Selain menghadirkan Prof. Azra, seminar ini juga menghadirkan Executive Director Habibie Centre Indonesia, Dr. Rahimah Abdulrahim, anggota Parlemen sekaligus Wakil Ketua People Justice Party (PDT) Malaysia, Nurul Izzah Anwar, dan Policy Advisor European External Action Service (EEAS) Marete Bilde. Bertindak sebagai moderator dalam seminar dimaksud yaitu Director of Policy Friends of Europe, Shada Islam. Lebih jauh, Prof. Azra menambahkan bahwa Indonesia dapat dijadikan role model di mana Islam dan demokrasi dapat berjalan beriringan dan peranan penting itu dapat dilakukan melalui penyebaran pemahaman Islam yang moderat.

 

                Senada dengan Prof. Azra, Nurul Izzah Anwar juga menekankan pentingnya peran Muslim Moderat untuk menyuarakan Islam sebagai agama yang teduh dan damai dan memastikan bahwa promosi demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia tetap berjalan dengan semestinya. Mengaminkan hal tersebut, Dr. Rahimah Abdulrahim mengambil Dasar Negara Indonesia, Pancasila, yang menurutnya, telah berjasa mempromosikan toleransi di tengah keberagaman umat beragama di Indonesia. Dr Abdulrahim mengakhiri paparannya dengan mendorong umat Islam untuk bersama menjadi good reprenstative Muslim. Dari kaca mata Uni Eropa (UE), Marte Bilde menyerukan bahwa sudah saatnya UE mendengarkan Islam dari belahan dunia 'lain', bukan dari Islam yang selama ini biasa didengar, yaitu Timur Tengah. Dengan demikian, Bilde menyerukan agar UE meningkatkan kerjasama yang lebih erat dengan Muslim Moderat, seperti pernah disampaikan oleh Wakil Presdien Komisi Eropa, Frederica Mogherini, setelah kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu yang lalu.  

 

                Menanggapi para pembicara, dalam sesi tanya jawab, Dubes RI untuk Belgia, EU, dan Luksemburg, Yuri O. Thamrin, menggarisbawahi kecenderungan media yang sering mendistorsi Islam dan memperkuat trend Islamophobia di Eropa. Oleh karena itu, menurut Dubes Yuri, perlu ada strategi yang tepat agar media berperan lebih proaktif dalam meningkatkan pemahaman yang lebih baik dan objektif terhadap Islam. Lebih jauh, diingatkan pula bahwa trend Islamophobia kurang menguntungkan dan dapat dimanfaatkan Islamic State (IS) untuk mendorong radikalisasi lebih lanjut di Eropa.

 

                Seminar ini diselenggarakan atas kerjasama Friends of Europe dengan Sasakawa Foundation. Menurut rencana, para nara sumber ini masih akan berada di Brussel hingga
3 Juni 2016 untuk menghadiri Preliminary Meeting dalam rangka persiapan Third World Forum for Muslim Democrats yang menurut rencana akan diselenggarakan di Tokyo pada akhir tahun ini.  (Sumber: KBRI Brussel 2016)