Brazil

PROFIL NEGARA
REPUBLIK FEDERASI BRAZIL
 
 
KETERANGAN DASAR
 
Nama Resmi Negara: Republik Federasi Brazil
 
Ibukota: Brasilia - DF
 
Bentuk Pemerintahan: Presidensial
 
Hari Nasional: 7 September 1822

Proklamasi Republik: 15 November 1889
 
Kepala Negara/Presiden: Michel Temer
 
Menteri Luar Negeri: Aloysio Nunes Ferreira
 
Bahasa Nasional: Portugis
 
Agama: Katolik Roma (73,6 %), Protestan (15,4 %),
             agama lain (11 %)
 
Jumlah Penduduk: 207.192.045 jiwa (IBGE, 9 Maret 2017)
 
Ekspor Utama: Biji kacang kedelai, tepung kacang
                       kedelai, biji besi dan baja, pesawat terbang,
                       mobil penumpang, jeruk, daging sapi, daging
                       ayam, kopi, gula tebu, terigu, etanol,
                       jagung, alas kaki, dan kertas.
 
Impor Utama: Minyak mentah, produk kimia, peralatan
                      elektronik, mesin dan suku cadang
                      kendaraan, peralatan kesehatan.
 
GDP: US$1,775 trilyun (World Bank, 2015) (peringkat ke-9 dunia)
 
GDP per kapita: US$8.538,59 (World Bank, 2015)
 
Pertumbuhan: -3,6% (IBGE, 2016)
 
 
SISTEM POLITIK BRAZIL

Konstitusi Brazil yang berlaku saat ini disahkan pada tanggal 5 Oktober 1988. Dalam upaya mereformasi konstitusi ini, lima partai besar yaitu, PMDB, PFL, PSDB, PP dan PTB sepakat bahwa hal-hal yang perlu mendapat prioritas untuk dibahas di Kongres adalah masalah imunitas anggota parlemen, pencabutan hak berpolitik, loyalitas kepada partai, sistem pemilu, dan pembatasan waktu mandat presiden. Hal ini semua merupakan bagian dari yang disebut Reformasi Politik, yang hingga saat ini masih belum dirampungkan dan terus dalam prosesnya.

 

Parlemen Brazil disebut Kongres terdiri dari 81 anggota Senat (Senator), yang terdiri dari tiga orang dari setiap negara bagian dan distrik federal, serta 513 anggota DPR. Masa jabatan anggota Senat adalah 8 tahun, sedangkan masa jabatan DPR adalah 4 tahun. Baik anggota Senat maupun anggota DPR dipilih secara langsung oleh rakyat melalui Pemilu.

 

Menurut Konstitusi Brazil yang berlaku saat ini yang lebih dikenal sebagai Konstitusi 1988 (karena disahkan pada tanggal 5 Oktober 1988), negara Brazil berbentuk Republik Federasi dengan kabinet Presidentil. Brazil memiliki 26 Negara Bagian dan 1 (satu) Distrik Federal. Konstitusi 1988 menjamin kekuasaan yang luas kepada pemerintah federal yang terdiri dari eksekutif, legislatif dan judikatif. Presiden menjabat selama 4 tahun dengan hak dipilih kembali untuk 4 tahun berikutnya. Presiden hanya berhak dipilih selama 2 kali berturut-turut.

 

Sepuluh Partai Politik besar dalam percaturan politik Brazil adalah PT Partido dos Trabalhadores = Partai Buruh (kiri); PMDB (Partido do Movimento Democrático Brazileiro = Partai Gerakan Demokrasi Brazil (tengah); PL (Partido Liberal = Partai Liberal /tengah-kanan); PDT (Partido Democrático Trabalhista = Partai Demokrasi Buruh (kiri);  PC do B (Partido Comunista do Brazil = Partai Komunis Brazil (kiri); PPB (Partido Progressista Brazileiro = Partai Progresif Brazil (tengah-kiri); PPS (Partido Popular Socialista = Partai Masyarakat Sosialis/kiri); PTB (Partido Trabalhista Brazileiro = Partai Buruh Brazil/tengah-kiri); PSDB (Partido da Social Democracia Brazileira = Partai Sosial Demokrasi Brazil/tengah-kiri); dan PFL(Partido da Frente Liberal = Partai Front Liberal/tengah-kanan).

 

Mahkamah Agung Federal terdiri dari 11 hakim, dan bertemu secara rutin di ibukota Brazilia. Pengadilan Federal berkedudukan di setiap negara bagian dan di Distrik Federal. Jenis pengadilan lain adalah pengadilan Pemilihan Federal untuk melindungi Pemilu dan Pengadilan Pekerja/Buruh. Hakim-hakim Federal diangkat untuk seumur hidup. Pengadilan di negara bagian dilakukan dengan koordinasi dengan Pengadilan Pusat.

 

PERKEMBANGAN EKONOMI BRAZIL

Kinerja perekonomian Brazil selama pemerintahan Presiden Michel Temer dapat dikatakan berhasil bangkit dari resesi ekonomi selama 2 tahun berturut-turut (2015-2016). Pada awal pemerintahan Presiden Michel Temer nampaknya seperti mustahil bisa mengembalikan perekonomian Brazil. Pandangan tersebut disebabkan adanya skandal korupsi yang melibatkan para petinggi Negara, sehingga Presiden Michel Temer harus melakukan perombakan kabinet berkali-kali dalam kurun waktu kurang dari setahun. Program-program Presiden Temer untuk meningkatkan perekonomian Brazil, seperti pembatasan peningkatan anggaran belanja negara sampai 20 tahun dengan revisi setiap 10 tahun (PEC 55/2016), Undang-undang Ketenegakerjaan (Reforma Trabalhista), Undang-Undang Perpajakan (Reforma Tributária), Undang-Undang Sistem Pemilu (Reforma Eleitoral), Undang-Undang Jaminan Sosial (Reforma da Previdência Social) dan privatisasi telah membawa dampak positif bagi para pelaku pasa,r sehingga perekonomian Brazil meningkat sedikit demi sedikit.

Salah satu bukti nyata keberhasilan kinerja perekonomian Brazil selama pemerintahan Presiden Temer ialah meningkatnya perekonomian Brazil tahun 2017 sebesar 0,89% (perkiraan), penurunan inflasi dari sekitar 10% per tahun menjadi 2,95% di tahun 2017, peningkatan harga saham IBOVESPA yang menyentuh rekor di atas 80 ribu poin, sertanya terjadi surplus perdagangan komersial luar negeri tahun 2017 yang menyentuh 66 milyar dollar AS dan merupakan surplus terbesar sejak tahun 1989. Selain itu, tingkat suku bunga acuan per tahun turun dari 14,75% di tahun 2015 menjadi 6,75%, sehingga membawa stimulus bagi perekonomian Brazil.

 

Kinerja Ekspor - Impor Brazil tahun 2017

Neraca perdagangan Brazil pada tahun 2017 secra total tercatat sebesar US$ 386.488.630.026 dengan saldo positif sebesar US$ 66.989.724.128, yang terdiri dari : 

- Total nilai ekspor: US$ 217.739.177.077. 

- Total nilai impor: US$ 150.749.452.949. 

Surplus sebesar US$ 66.989.724.128 (2017) sebagaimana tersebut di atas naik 40,5% dibandingkan pada tahun 2016 sebesar US$ 47.683.397.949 milyar. 

 

Komoditas yang banyak diperdagangkan Brazil, yaitu kedelai (soja); tebu (cana de acúcar); daging beku (carne congelado);  ayam beku (frango congelado. Sedangkan untuk komoditas yang diimpor dari dunia ke Brazil, yaitu mesin-mesin perindustrian, bahan bakar minyak, ikan beku, dan daging beku. Negara-negara tujuan ekspor Brazil yaitu RRT/Tiongkok, Amerika Serikat, Argentina, Belanda, Jepang, dan Chile.


HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA - BRAZIL

 

HUBUNGAN  POLITIK

Indonesia dan Brazil menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1953. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Brazil secara umum berlangsung baik. Kesamaan kebijakan luar negeri kedua negara yang mengutamakan mekanisme multilateral dalam penanganan berbagai masalah internasional telah memperkuat hubungan dan koordinasi serta saling mendukung antara kedua negara dalam forum kerjasama bilateral, regional dan multilateral.

 

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Brazil secara umum berlangsung baik dan saat ini memasuki tahapan yang krusial dan strategis. Disamping kesamaan wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang banyak, kedua negara memiliki kesamaan pandangan dalam berbagai isu regional dan multilateral, usaha penegakan demokrasi dan HAM. Selain itu, pemerintah kedua negara juga sedang melakukan reformasi di berbagai bidang dan oleh karena itu kedua negara saling memahami tantangan yang dihadapi masing-masing dalam proses reformasi tersebut.

 

Brazil menilai Indonesia sebagai negara yang memiliki peranan penting bagi stabilitas di kawasan Asia Tenggara dan kawasan Asia Pasifik. Sejalan dengan politik luar negeri yang tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, Pemerintah Brazil mendukung integritas wilayah NKRI dan langkah-langkah reformasi yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam pemajuan HAM dan demokrasi.

 

Terdapat keinginan kuat dari kedua negara untuk terus berupaya meningkatkan hubungan kerjasamanya di berbagai bidang. Hal ini dapat dilihat dari antara lain kegiatan saling kunjung antara kepala negara, pejabat, anggota parlemen, pelaku ekonomi dan masyarakat kedua negara. Kunjungan kenegaraan Presiden Brazil, Liuz Inácio Lula da Silva ke Indonesia pada tanggal 12 Juli 2008 yang merupakan kunjungan pertamanya  sejak menjabat sebagai Kepala Negara Brazil dan merupakan kunjungan Kepala Negara Brazil yang kedua setelah kunjungan Presiden Fernando Henrique Cardoso pada bulan Januari 2001 mempunyai arti penting bagi peningkatan hubungan bilateral kedua negara. Sementara itu Presiden RI melakukan kunjungan balasan ke Brazil pada tanggal 18 November 2008 dalam rangkaian menghadiri pertemuan puncak negara anggota APEC di Lima, Peru.

 

Kegiatan saling kunjung antara Kepala Negara ini memiliki arti penting tersendiri bagi peningkatan hubungan bilateral Indonesia – Brazil, mengingat pada tahun 2008 hubungan diplomatik Indonesia - Brazil memasuki usia 55 tahun. Kunjungan tersebut akan memberikan dampak yang positif bagi peningkatan dan memperkuat kerjasama Indonesia – Brazil baik dalam forum multilateral maupun bilateral yang pada akhirnya mendorong serta  meningkatkan kerjasama kedua negara yang saling menguntungkan di berbagai bidang khususnya ekonomi, perdagangan, investasi, pariwisata, ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk promosi citra Indonesia di Brazil.

 

Sebagai tindak lanjut penandatanganan Kemitraan Strategis Indonesia  - Brazil pada saat kunjungan resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Brazil pada 18 November 2009, pada tanggal 14 – 16 Oktober 2009 telah dilangsungkan Sidang Ke 1 Komisi Bersama Indonesia – Brazil yang dikhususkan untuk membahas Rencana Aksi dari Kemitraan Strategis yang telah disepakati sebelumnya.

 

Selain menyepakati Rencana Aksi Kemitraan Strategis, dalam kesempatan pertemuan tersebut delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Amerika dan Eropa, Deplu  Duta Besar Retno L.P. Marsudi dan Brasil dipimpin oleh Duta Besar Roberto Jaguaribe, telah membahas prioritas hubungan bilateral kedua negara utamanya dalam upaya memajukan investasi, pedagangan, pertanian dan energi.  

 

HUBUNGAN EKONOMI DAN PERDAGANGAN

Di bidang ekonomi, hubungan kedua negara berjalan cukup baik. Neraca perdagangan kedua negara masih relatif kecil bila dibandingkan dengan potensi yang dimiliki oleh kedua negara, namun pada tahun-tahun terakhir ini tercatat peningkatan yang signifikan dalam hubungan perdagangan  Brazil merupakan mitra dagang utama Indonesia di kawasan Amerika Selatan.

 

Ekspor utama Indonesia ke Brazil antara lain : karet alam dan produk karet, benang tekstil polyester, kakau, minyak kelapa sawit, tembaga dan spare-parts mobil. Sedangkan impor utama dari Brazil antara lain biji besi, kedelai, pulp, kapas, gula tebu, tembakau, suku cadang kendaraan bermotor, lem kayu dan kulit.

 

Untuk mempromosikan hubungan dagang, ekonomi dan pariwisata antara kedua negara telah dilakukan upaya antara lain mengangkat beberapa Konsul Kehormatan RI di beberapa kota besar Brazil yakni, São Paulo, Rio de Janeiro, Belo Horizonte dan Recife. Disamping itu, telah diresmikan Camara de Comércio Indonesia–Brazil (Kamar Dagang Indonesia–Brazil) di São Paulo.

 

Dalam upaya meningkatkan kegiatan promosi dagang Indonesia di Brazil maka telah didirikan ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) di São Paulo. Pendirian ITPC di São Paulo tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Luar Negeri RI No.168/PO/X/97/01 tahun 1997 dan Surat Kepala BPEN No.489/BPEN/XI/2003 dan mendapat autorisasi atau ijin untuk beroperasi dari Pemerintah Brazil berdasarkan Nota Dinas dari Kementerian Luar Negeri Brazil No. : CGPI/DAOCII/DAC/DIM/008/DIMU-BRAS-INDO tertanggal 17 Desember 2003.

Perdagangan Indonesia dan Brazil

Sejak tahun 2014 jumlah perdagangan antara Indonesia dan Brazil mengalami penurunan. Sebelumnya, di tahun 2014 tercatat nilai perdagangan yang mencapai recor paling tinggi  sejak dimulainya perdagangan antara kedua negara ini. Menurut statistik perdagangan antara Indonesia dan Brazil sebagaimana ditunjukan pada tabel di bawah ini, meskipun jumlah total perdagangan Indonesia-Brazil menurun, tetapi ekspor Indonesia ke Brazil pada tahun 2017 meningkat 1,04% dibandingkan dengan tahun 2016. Nilai perdagangan Indonesia-Brazil berada di urutan ke 33 besar dunia, sedangkan untuk perdagangan di kawasan ASEAN, Indonesia berada di urutan ke-4 setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

 

Neraca Perdagangan Indonesia – Brazil

2012 s.d. 2017  (Dalam US$)

Tahun

Ekspor (A)

ke Brazil

Impor (B)

dari Brazil

Total (A+B)

Saldo Indonesia

Negatif/Positif

20121.735.848.0392.001.994.4483.737.842.487- 266.146.409
20131.604.409.1591.999.021.3703.603.430.529- 394.612.211
20141.795.354.9692.246.297.2054.041.652.174- 450.942.236
20151.374.913.7632.180.799.7483.555.713.511- 805.885.985
2016

1.225.472.658

 

2.204.412.4243.429.885.092- 978.939.756
20171.351.081.1781.771.943.1263.123.024.304-420.861.948

 

(Sumber: SECEX / MDIC,  Januari  2018)

 

Komoditas yang paling banyak diperdagangkan dari Indonesia ke Brazil yaitu: coconut (copra),palm kernel; natural rubber; parts and accessories of the motor vehicles; yarn; palm oil and its Fractions. Sedangkan, komoditas yang paling banyak diperdagangkan dari Brazil ke Indonesia, yaitu: bagacos and other solid waste from soybean; other cane sugars; cotton simply debulated; other products semi manufacture.​