KESEPAKATAN CARTAGENA NEGARA-NEGARA PENGHASIL SAWIT DAN KOLOMBIA AKAN MENJADI NEGARA ANGGOTA KETIGA CPOPC

​Cartagena, Kolombia: Direktur Eksekutif Dewan Negara-negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit (CPOPC), Mahendra Siregar, menyambut Kolombia yang akan menjadi negara anggota terbaru Dewan Negara-negara Penghasil Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) pada saat berbicara sebagai keynote speaker pada pembukaan 19th International Conference on Oil Palm di Cartagena, 26 September 2018.

Dalam sambutannya, Mahendra menekankan bahwa negara-negara produsen kelapa sawit yang menghadapi kebijakan diskriminatif dari stakeholders di Uni Eropa dan negara-negara lainnya dengan berbagai pencitraan menyesatkan yang dilakukan terhadap kelapa sawit tidak bisa lagi hanya reaktif, bahkan sering apologetic menghadapinya. Negara-negara produsen justru harus menunjukkan kepada dunia bahwa kelapa sawit merupakan solusi keberlanjutan dunia sebagaimana ditetapkan oleh PBB dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). “Peningkatan permintaan minyak nabati dunia yang akan mencapai setidaknya tambahan 100 juta ton CPO sampai 2030, akan hanya dapat dipenuhi secara berkelanjutan oleh minyak kelapa sawit yang 6 sampai 10 kali lebih produktif daripada minyak nabati lainnya. Hal itu dilakukan melalui peningkatan produktifitas dan peremajaan sawit milik petani kecil di Indonesia dan Malaysia, ditambah dengan perluasan perkebunan di Kolombia dan produsen lainnya menggunakan tanah terlantar yang sangat luas di negara-negara itu," imbuh Mahendra.

Selain itu, di sela-sela konferensi tersebut, delegasi Indonesia yang diwakili oleh Duta Besar Priyo Iswanto; Malaysia yang diwakili oleh Wakil Menteri Industri Primer, Shamsul Iskandar Mohammad Akin; dan Kolombia yang diwakili oleh Menteri Pertanian Andres Valencia Pinzon, menyepakati strategi bersama untuk sawit yang mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). “Ketiga negara itu menekankan bahwa isu-isu lingkungan hidup tidak sepatutnya digunakan sebagai alat diskriminasi dan pembatasan terselubung dalam perdagangan, hal tersebut melanggar prinsip perdagangan internasional yang berdasarkan peraturan (rules based), bebas dan berkeadilan, serta tujuan terkait lingkungan hidup itu harus dicapai berimbang dengan pencapaian tujuan sosial dan pembangunan ekonomi yang merupakan tiga pilar utama SDGs," demikian disampaikan oleh Duta Besar Priyo Iswanto yang mewakili pemerintah Indonesia pada konferensi tersebut.

Dari sisi Kolombia, Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Kolombia, Andres Valencia Pinzon, dalam sambutannya menyatakan bahwa industri sawit Kolombia merupakan industri pertanian dengan tingkat potensial tertinggi saat ini dan pihaknya akan memprioritaskan sektor sawit. “Pertumbuhan produksi 42% pada tahun 2017 yang setengahnya diekspor ke pasar luar negeri merupakan angka yang menjanjikan dan Kolombia siap untuk bekerja sama dengan negara-negara anggota CPOPC untuk melindungi kepentingan negara-negara produsen minyak kelapa sawit," demikian tutup Menteri Pertanian Kolombia.

Di sela-sela konferensi, Duta Besar Priyo Iswanto melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian Kolombia, Andres Valencia Pinzon. Kedua pihak menyepakati untuk mendorong kembali kerja sama di bidang pertanian yang sudah dilandaskan pada MoU Kerja Sama Pertanian antara Kementerian Pertanian kedua negara (17 Februari 2015). “Pertama-tama Indonesia mengapresiasi rencana masuknya Kolombia sebagai negara anggota ketiga CPOPC, dan di bidang bilateral Indonesia mengharapkan dalam waktu dekat kedua negara dapat menindaklanjuti rencana Pertemuan Ketiga Kelompok Ahli Pertanian di Jakarta, sebagaimana ditetapkan dalam MoU Kerja Sama Pertanian tahun 2015," demikian tutup Dubes Priyo.

Konferensi Internasional ke-19 tentang Kelapa Sawit merupakan konferensi internasional tiga tahunan (tri-annual) yang diselenggarakan oleh Federasi Penanam Kelapa Sawit Kolombia (FEDEPALMA) dan Pusat Riset Kelapa Sawit Kolombia (CENIPALMA). Konferensi kali ini mengambil tema utama 'Inovasi dan Keberlanjutan Kelapa Sawit: Menyehatkan manusia dan melindungi planet Bumi.' Konferensi dihadiri oleh 1600 peserta dari 26 negara mulai dari industri hulu hingga hilir sektor kelapa sawit. (Sumber: @KBRIBogota)