Peresmian Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Gamelan di Sion, Swiss

​"What comes from the heart, goes to the heart", merupakan pepatah yang dapat melukiskan kehangatan malam resepsi peresmian pusat pelatihan dan pertunjukan gamelan Jawa, dalam lingkup sekolah musik  «Un, Deux, Trois, Musiques..», pimpinan Nicole Coppey.


Resepsi peresmian pusat pelatihan dan pertunjukan gamelan, yang diadakan atas kerja sama KBRI Bern dan sekolah musik  «Un, Deux, Trois, Musiques...» diselenggarakan di kota Sion, tempat sekolah musik tersebut berada, pada Jumat, 10 November 2017. Sion, sebuah kota kecil nan cantik, terletak di kaki pegunungan Alpen di kanton Walis, Swiss.


Presiden kota Sion, Philippe Varone menyatakan ketakjubannya menyaksikan pertunjukan gamelan yang dibawakan dengan sangat sempurna oleh para pemuda dan anak-anak di kotanya. Presiden Philippe juga telah meminjamkan gedung parlemen kanton Walis sebagai tempat perhelatan peresmian tersebut dan menyediakan wine khas Walis.


Tidak hanya dihadiri oleh Presiden Varone dan wakilnya Christian Bitschnau, resepsi tersebut juga dihadiri oleh Presiden Parlemen kanton Walis, Diego Wellig, pejabat pemerintah kota Sion, Wakil Tetap RI untuk PBB dan Organisasi Internasional di Jenewa (PTRI Jenewa),  Duta Besar Hasan Kleib, Duta Besar RI untuk WTO, Duta Besar Sondang Anggraini, pemerhati seni dan budaya, diaspora Indonesia, media dan para orang tua murid dari anak-anak yang bersekolah di «Un, Deux, Trois, Musiques...».


Selain untuk meresmikan pembukaan pusat pelatihan dan pertunjukan gamelan "Center for Training and Performance of Gamelan", acara ini juga bertujuan untuk mempromosikan seni budaya dan pariwisata Indonesia, sekaligus sebagai penghargaan atas upaya yang telah dilakukan Nicole Coppey selama sepuluh tahun terakhir dalam mempromosikan gamelan Indonesia di negara akreditasi.


Sudah sejak sepuluh tahun yang lalu, sekolah musik, «Un, Deux, Trois, Musiques...» mempelajari gamelan. Pendiri dan Direktur Sekolah Musik  «Un, Deux, Trois, Musiques...», Nicole Coppey, menyatakan bahwa ketertarikannya pada gamelan bermula pada kunjungannya ke Cité de la musique di Paris, yang saat itu tengah mengadakan serangkaian pertunjukan musik dari Indonesia. Tidak beberapa lama kemudian pada tahun 2008, Nicole Coppey bekerja sama dengan KBRI Bern dapat mewujudkan cita-citanya yaitu membentuk grup gamelan di sekolahnya. Nicole pun tak kuasa menahan air matanya, ketika satu set alat musik gamelan tiba di sekolahnya, kenangnya.


Murid sekolahnya yang terdiri dari anak-anak dan remaja sangat antusias berlatih gamelan. Sudah sejak sepuluh tahun mereka berlatih gamelan dan mengadakan konser di berbagai kota di Swiss dan di Indonesia pada tahun 2012. Permainan gamelan tidak hanya mengajarkan anak untuk melatih konsentrasi, namun juga membutuhkan ketenangan dan kontrol diri, yang menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak berusia dini. Bagi Nicole, resonansi suara yang dihasilkan oleh gamelan mampu membuat getaran yang dapat melatih pemainnya untuk bersikap tenang. Musik gamelan dapat berfungsi sebagai terapi untuk membuat anak/ remaja menjadi lebih tenang dan fokus.


Sebagai satu kesatuan, gamelan juga mengajarkan para pemainnya untuk saling menghormati dan saling mendengarkan. Lebih dari itu, gamelan juga mampu membuat anak didiknya untuk belajar bekerja sama dan menghargai pihak lain. Nicole sengaja melibatkan muridnya dari berbagai kelompok usia untuk bermain gamelan, agar dapat terjadi transfer ilmu, antara yang lebih tua kepada yang lebih muda. Kelompok gamelan «Un, Deux, Trois, Musiques...»  yang dipimpin oleh putra Nicole, Timothée Coppey, memiliki pemain termuda berusia 10 tahun.


Dalam sambutannya, Nicole menyampaikan rencananya untuk melanjutkan dan meningkatkan kegiatan promosi kesenian dan kebudayaan Indonesia. Selain gamelan Jawa, Nicole juga ingin mempromosikan batik dan wayang. Melalui  "Center for Training and Performance of Gamelan",  Nicole yang jatuh cinta dengan kekayaan dan keragaman budaya Indonesia, ingin menularkan cintanya di sekolahnya, di kotanya, di negaranya bahkan secara internasional. Pada sambutannya, Nicole juga mengucapkan terima kasih atas kerja sama, dukungan dan bantuan yang diberikan KBRI Bern sejak tahun 2008 hingga berdirinya "Center for Training and Performance of Gamelan" pada malam tersebut.


Atas jasa-jasanya dalam mempromosikan Indonesia di Swiss dan sekitarnya, Duta Besar RI untuk Konfederasi Swiss dan Keharyapatihan Liechtenstein, Linggawaty Hakim, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi dan terima kasih yang sebesar-besarnya. Swiss tidak hanya menjadi mitra dagang terpenting Indonesia di Eropa, hubungan kerja sama Indonesia dan Swiss di bidang budaya juga telah meningkat pesat. Minat masyarakat Swiss terhadap Indonesia sangat tinggi. Indonesia telah semakin dikenal di Swiss, salah satunya berkat orang-orang seperti Nicole Coppey, dan banyak lagi mereka yang telah mempromosikan Indonesia di negara akreditasi. Kerja sama budaya merupakan kerja sama yang penting, karena dapat merangkul masyarakat serta meningkatkan people-to-people contact dan menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang kebudayaan yang berbeda. Untuk itu, Duta Besar RI menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah dan masyarakat Indonesia dan Swiss terhadap Pusat Pelatihan Gamelan dan kegiatannya di masa mendatang. "Center for Training and Performance of Gamelan" dapat dijadikan sarana yang sangat efektif untuk mempromosikan seni budaya Indonesia dan meningkatkan hubungan bilateral Indonesia dan Swiss.


Selepas acara pembukaan, yang diresmikan dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali, pada malam hari itu, grup gamelan «Un, Deux, Trois, Musiques...» membawakan beberapa repertoire dari Jawa Tengah, di antaranya yaitu Wilujeng dan Ladrang Pangkur, yang membuat para pengunjung seakan terhipnotis dengan keindahan getaran yang dihasilkan oleh alunan musik gamelan. "C'est magnifique, c'est excellent" demikian komentar para undangan yang mayoritas merupakan warga Swiss dari kawasan berbahasa Perancis, ketika melihat pertunjukkan gamelan yang juga mengiringi persembahan tari pertiwi.


Para tamu undangan juga berkesempatan menikmati kekayaan kuliner Indonesia yang telah disiapkan oleh KBRI Bern. Selain menampilkan gamelan, resepsi malam itu juga menampilkan demonstrasi pembuatan batik. Sepanjang acara, para undangan berkesempatan melihat secara langsung teknik pembuatan batik.


Kehangatan acara malam hari itu ditutup dengan penampilan tari poco-poco dari Maluku, yang dibawakan oleh staf KBRI Bern dengan mengajak para tamu untuk ikut menari bersama.


Sumber: Pensosbud KBRI Bern