Peluang ekspor RI ke EFTA dua kali lipat tahun depan

Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa nilai perdagangan Indonesia dengan negara anggota EFTA akan meningkat tahun depan. Hal ini diungkapkan Mendag usai pertemuan dengan Menteri Ekonomi Swiss Johann Schneider-Ammann 1 Oktober 2018 lalu di Zurich. Pertemuan terbatas yang dikemas dalam jamuan makan malam itu membicarakan kelanjutan negosiasi Indonesia-EFTA CEPA. Schneider-Ammann yang didampingi oleh kepala negosiator EFTA Duta Besar Markus Schlagenhof menyatakan bahwa Swiss sangat ingin segera menyelesaikan perundingan yang telah mencapai 15 kali putaran itu. Mendag RI yang didampingi oleh Duta Besar RI Bern Muliaman D Hadad, Kepala tim negosiator RI Dubes Sumadi Brotodiningrat, Dirjen PEN Kemendag, Dirjen PPI Kemendag dan Direktur Perundingan Bilateral Kemendag menyatakan keinginan yang sama dari Pemerintah RI.

 

Pemerintah Swiss tentu ingin segera menyelesaikan perjanjian ini karena Swiss adalah mitra dagang terbesar Indonesia diantara negara anggota EFTA. Dari lima negara EFTA yaitu Swiss, Norwegia, Islandia, Liechtenstein, Indonesia memiliki nilai perdagangan paling besar dengan Swiss yaitu USD 2 milyar dengan nilai ekspor Indonesia USD 1,2 milyar. Menteri Perdagangan RI menyatakan dalam konperensi pers usai pertemuan bahwa ia optimis akan kenaikan nilai perdagangan Indonesia dan EFTA tahun depan. “Total perdagangan Indonesia dengan negara EFTA akan naik dua kali lipat setelah perjanjian ini ditanda-tangani” ujar Mendag.

 

Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein Muliaman Hadad yakin bahwa IE-CEPA akan menjadi mesin pendorong ekspor Indonesia ke Swiss dan Liechtenstein. Saat ini Swiss melalui program SIPPO (Swiss Import Promotion Program) sedangkan memfokuskan pengembangan ekspor Indonesia ke Swiss dan Eropa untuk tiga jenis produk. “Produk berbasis kayu, hasil laut dan rempah-rempah merupakan program utama SIPPO untuk mendorong ekspor Indonesia ke Swiss” ujar Muliaman.

 

Dalam bincang santai makan malam itu, kedua pihak sepakat untuk mengadakan perundingan berikutnya guna menyepakati isu pending akhir Oktober 2018 di Bali. Perjanjian IE-CEPA ini diharapkan dapat ditanda-tangani bulan Nopember 2018.

 

Sumber: KBRI Bern