Manfatkan Teknologi Drone, IPB dan UZH siap perluas kerjasama di bidang smart farming

​Sebagai tindak lanjut dari Naskah Kesepahaman kerjasama yang telah ditandatangani bersama oleh Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Arif Satria dan Prorektor Universitas Zurich (UZH), Prof. Dr. Michael Schaepman pada tanggal 2 Juli 2018, Wakil Rektor IPB,  Prof. Erika Laconi dan Direktur Bisnis dan Manajemen Aset Komersial IPB, Dr. Jaenal Effendi, mengadakan follow up meeting dengan Prorektor UZH, Prof. Dr. Schaepmann dan Dr. Yasmine Inauen, Direktur Hubungan Internasional UZH, yang didampingi oleh Duta Besar Ri Swiss Prof. Muliaman Hadad, Selasa (4/12). Hal ini dilakukan disela – sela kunjungan kerja Wakil Rektor IPB dalam rangka penjajakan kerjasama dengan mitra stategis di beberapa negara Eropa.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Schaepman menjelaskan kesiapan UZH untuk memperluas kerjasama dengan IPB. Sebagai universitas terdepan di bidang inovasi, UZH tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan penelitian, namun juga berfokus untuk mengembangkan berbagai inovasi di bidang ilmu pengetahuan dan penelitian. Untuk itu, UZH bertujuan tidak hanya mencetak pekerja dan peneliti yang mumpuni, namun juga mampu mencetak wirausahawan dengan berbagai ide dan inovasi baru, termasuk dalam pengembangan UMKM. Untuk mencapai tujuan ini, UZH bekerja sama dengan berbagai stakeholders, yaitu pemerintah, mahasiswa dan kalangan industri. UZH terbukti berhasil dalam upayanya mencetak wirausahawan. Sejak tahun 1999, UZH mendirikan 100 UMKM yang mampu bertahan di atas 5 tahun, 300 hak paten yang diakui, yang 70 hak paten diantaranya diakui di pasar industri, terutama di bidang farmasi dan bio teknologi. Selain itu, UZH juga sukses mengembangkan teknologi drone untuk memonitor wilayah kehutanan di Swiss.

Keunggulan UZH di bidang inovasi akan sangat bermanfaat bagi pengembangan IPB, sambut Prof. Erika Laconi. IPB berharap dapat mengembangkan kerjasama terutama di bidang smart farming dengan memanfaatkan teknologi drone yang dimiliki UZH, untuk mendukung pengembangan lahan sawit yang ramah ingkungan dan berkelanjutan.Selain di bidang pertanian, IPB dan UZH juga dapat bekerja sama di bidang peternakan maupun bidang-bidang life sciences lainnya. Untuk itu, dalam waktu dekat kedua universitas berencana akan mengadakan workshop antara peneliti dan profesor di bidang pertanian dan peternakan. Pertukaran pelajar antara kedua universitas juga dianggap perlu, agar dapat terjain sharing knowledge and expertise, ungkap Dr. Jaenal Effendi dari IPB.

Teknologi drone untuk smart farming ini antara lain berfungsi untuk memetakan lokasi lahan pertanian/perkebunan, presisi pertanian, monitoring bahkan dapat didayagunakan sebagai alat bantu penelitian jenis-jenis dan komposisi tanaman. Universitas Zurich sendiri saat ini telah memiliki teknologi Airbone Prism Experiment (APEX), image spectrometer yang dikembangkan oleh konsorsium Swiss-Belgia sebagai alat simulator, kalibrasi dan validasi gambar diambil dari angkasa. Di dunia, alat ini baru dimiliki oleh Stanford University dan UZH.  
       
Duta Besar RI Muliaman Hadad berharap kerjasama di bidang penelitian pengelolaan habitat berbasis sains bagi Orang Utan di Sumatera dan Kalimantan antara IPB dan UZH yang telah dibina sejak tahun 2010, dapat ditingkatkan ke bidang-bidang strategis lainnya, yang menjadi minat bersama bagi kedua universitas, khususnya melalui realisasi  pendirian Indonesia-Swiss Research Center for Agricultural SMEs Development. Hal ini sejalan dengan misi UZH dalam mengembangkan UZH Innovation Hub, yang menjadi platform bagi inovasi dan kewirausahaan di UZH, menggabungkan kemampuan dan pengetahuan dari para mahasiswa dan peneliti untuk melahirkan inovasi yang memiliki nilai pasar. Diharapkan Center tersebut dapat didirikan dalam waktu dekat sejalan dengan kesepakatan kerjasama di bidang pendidikan yang akan ditandatangani oleh Menristekdikti dan Swiss, ungkap Dubes Muliaman Hadad. Hal ini juga untuk memperkuat Swiss branding di Indonesia, terutama setelah disepakatinya perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Swiss, November lalu (EFTA).   

Universitas Zurich yang berdiri sejak 1855 merupakan universitas terbesar di Swiss dengan jumlah total 90.000 tenaga pengajar dan pegawai serta 26.000 mahasiswa, 4000 di antaranya merupakan mahasiswa asing, termasuk dari Indonesia. Puluhan mahasiswa yang berada di UZH mayoritas merupakan mahasiswa tingkat Doktoral di bidang penelitian ilmu pengetahuan.