Indonesia menggelar misi pencarian fakta tentang fintech pertama ke Swiss

Perubahan lanskap ekonomi dan keuangan akibat financial technology (fintech) menawarkan berbagai peluang sekaligus meningkatkan potensi risiko. Fintech dapat mendukung pengembangan keuangan, inklusi, dan efisiensi — tetapi dapat menimbulkan risiko bagi konsumen dan investor dan, lebih luas lagi, pada stabilitas keuangan.

Hal tersebut mengemuka ketika hari pertama pembukaan misi pencarian fakta tentang fintech di Swiss (Fact finding mission on Swiss Fintech) di Kedutaan Besar RI (KBRI) di Kota Bern (6/11), Swiss.

Sejalan dengan Bali Fintech Agenda pasca pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali 8—14 Oktober 2018, Fact-finding Mission on Swiss Fintech yang diselenggarakan oleh KBRI Bern diikuti oleh 30 stakeholder dari ekosistem fintech Indonesia, yang terdiri dari regulator, pelaku industri, asosiasi, bank, dan kamar dagang. Di antara para delegasi, yakni jajaran delegasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk Anggota Dewan Komisioner Nurhaida, jajaran delegasi Bank Indonesia, Bukalapak, Investree, Amartha Mikro Fintech, bank-bank BUMN, bank syariah, dan bank perkreditan rakyat dari seluruh Indonesia.

Dalam agenda yang diinisiasi oleh KBRI Bern selama 4 hari penuh sejak 6—9 November 2018, para delegasi akan melakukan kunjungan ke berbagai organisasi di sektor finansial, antara lain State Secretariat for International Financial Matters, Switzerland Global Enterprise, Swiss National Bank, juga inkubator bisnis dan akselerator startup fintech setempat. Para delegasi juga akan bertemu dengan sejumlah asosiasi di sektor fintech di Swiss.

Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman Hadad, menyampaikan pada pembukaan misi pencarian fakta (6/11) bahwa tujuan utama penyelenggarakan kegiatan ini antara lain untuk menjajaki kerja sama antara sektor Indonesia-Swiss. “Indonesia dan Swiss merupakan dua negara yang berpotensi saling melengkapi dan dapat saling belajar dalam bidang fintech," ujar Dubes Muliaman. “Pertumbuhan sektor fintech di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara, sedangkan Swiss dikenal luas sebagai salah satu pusat keuangan dunia dan memiliki ekosistem fintech terbaik di dunia."

Dubes Muliaman juga berharap, para stakeholder di sektor finansial teknologi di Indonesia dapat mempelajari landscape fintech di Swiss, kemudian membawa hasilnya untuk membangun ekosistem yang kuat bagi fintech di Indonesia.

Pertemuan di State Secretariat for International Financial Matters (6/11), terkuak bahwa sebesar 9% dari GDP Swiss berasal dari sektor finansial. Maka dari itu, Pemerintah Swiss sangat berhati-hati dan mengawasi dengan seksama perkembangan fintech dengan tetap menyiapkan ekosistem dari principal based, teknologi, sumber daya manusia, juga infrastruktur. Adapun pencarian fakta di Switzerland Global Enterprise (7/11) membuka peluang ekspansi bisnis fintech Indonesia di Swiss.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPBI) yang hadir sebagai salah satu peserta, Adrian Gunadi, menyampaikan bahwa misi pencarian fakta fintech ke Swiss ini merupakan suatu program yang sangat penting dan timely terutama pasca pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali bulan Oktober lalu. 

“Pendekatan Pemerintah Swiss terhadap fintech lebih menekankan pada principal based bukan regulation based. Hal ini sejalan dengan principal based hasil dari Bali Fintech Agenda pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali bulan Oktober lalu," tutur Adrian.

Agenda misi pencarian fakta akan dilanjutkan dengan menunjungi bank sentral Swiss, Crypto Valley Association, dan inkubator-inkubator fintech, juga pertemuan bisnis dengan Zurich Insurance, Credit Suisse, dan UBS Bank pada hari-hari berikutnya.