Berdialog dengan para Profesor dan Imam di Jerman, Prof Azyumardi Azra: “Islam Nusantara Berkemajuan Faktor Pemersatu Bangsa Indonesia”

Sejumlah Profesor Program Studi Islam dari berbagai universitas dan para Imam di Jerman mengagumi perkembangan agama Islam di Indonesia. Kesan tersebut mereka ungkapkan saat berdialog dengan Prof. Dr. Sir. Azyumardi Azra di Berlin, awal pekan ini.  Profesor Azyumardi memenuhi undangan KBRI Berlin untuk mempromosikan Islam Nusantara kepada berbagai kalangan di Jerman.

Di hadapan para profesor tersebut, Prof. Azyumardi membeberkan karakter Islam Indonesia, yang pada prinsipnya merupakan implementasi dari Islam Wasatiyah atau Islam Jalan Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir konsep ini lebih popular dikenal sebagai “Islam Nusantara Berkemajuan".

“Berbeda dengan beberapa kondisi di negara lain, agama sering menjadi faktor pemicu konflik. Namun di Indonesia Islam justru menjadi faktor pemersatu  bangsa Indonesia," ungkap Prof Azyumardi.

Dia menegaskan bahwa semangat persaudaraan Islam atau ukhuwah Islamiyah mampu menyatukan tidak kurang dari 714 etnis yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Muslim di Aceh menganggap muslim yang ada di Bugis sebagai saudara, meskipun mereka hidup dalam lingkungan budaya yang sangat berbeda. Begitupun daerah-daerah lainnya.

Lebih lanjut Prof Azyumardi pun menjelaskan bahwa lahirnya beberapa organisasi berbasis agama Islam, terutama Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dengan cabang-cabangnya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, terbukti mampu menjadi perekat bangsa.

NU dan Muhamadiyah menggunakan pendekatan yang berbeda dalam pengembangan agama Islam di Indonesia. Tak dipungkiri banyak terdapat perbedaan pendapat kedua organisasi ini dalam berbagai hal. Namun di saat bangsa Indonesia menghadapi berbagai masalah besar, NU dan Muhamadiyah bersatu dalam membantu menyelesaikan berbagai permasalah tersebut.

​Dia memberi contoh, saat Indonesia menghadapi krisis multi diimensi tahun 1998 – 1999, yang menurut berbagai kalangan merupakan tanda kehancuran Indonesia, bangsa Indonesia sepakat menunjuk Abdurrahman Wahid, tokoh pemimpin NU, sebagai Presiden RI, dan Amin Rais, tokoh Muhammadiyah, sebagai Ketua MPR-RI. Asumsi masyarakat internasional bahwa Indonesia akan mengalami proses Balkanisasi pun, akhirnya terbantahkan.

Pertemuan selama kurang lebih tiga jam di Aula KBRI Berlin tersebut dihadiri Prof. Dr. Christine Schirmacher (Bonn University) , Prof. Dr. Fritz Schulze (George – August University), Prof. Dr. Patric Franke (Bamberg University), Dr. Roman Seidel (Humbolt University), dan Dr. Harald Versen (Philipps University).

Prof Azyumardi yang merupakan Guru Besar Sejarah di UIN Jakarta pun membeberkan salah satu karakter penting Islam Nusantara Berkemajuan, yang dipengaruhi budaya lokal. Menurutnya, hal ini menyebabkan Islam  berkembang baik dan dapat diterima oleh masyarakat Indonesia secara umum.

Penjelasan itu menuai pertanyaan dari salah seorang profesor yang hadir. Dia mempertanyakan apakah dengan besarnya pengaruh budaya lokal dalam Islam Nusantara  Indonesia, menyebabkan Islam yang berkembang di Indonesia kurang Islami dari ajaran Islam yang ada di negara-negara lain terutama Timur Tengah.

“Kita bisa lihat indikasinya. Salah satu penelitian menyebutkan, persentase laki-laki Muslim yang rutin Sholat Jumat di Indonesia jauh lebih banyak ketimbang negara-negara  Timur Tengah", jawab Prof Azyumardi. Begitu pun pada saat bulan Ramadhan. Muslim di Indonesia lebih serius menjalankan ibadah Ramadan dari pada Muslim di Timur Tengah.

Sementara itu, pada kesempatan berbeda, kekaguman akan Islam Nusantara Berkemajuan juga diungkapkan oleh imam dan tokoh agama Islam di Berlin, Jerman. Selama lawatan empat hari di Jerman, Prof. Azyumardi juga memperkenalkan konsep Islam Nusantara Berkemajuan Indonesia kepada 26 imam dan pemimpin kelompok-kelompok agama Islam di Berlin. Para imam dan ulama tersebut berasal dari etnis dan aliran Islam yang berbeda. Ada dari Turki, India, Pakistan, Ukraina, Brunei, Malaysia, Maroko, dan Mesir.

Imam dari India mengaku kagum terhadap kehidupan harmonis yang bisa diwujudkan melalui Islam Nusantara Berkemajuan, yang belum ia temukan di India. Padahal jumlah etnis di Indonesia berkali lipat lebih banyak dari etnis di India.

Melengkapi lawatannya ke Jerman, Profesor Azyumardi pun mendatangi Islamic Institute for Theologi (IIT) Universitas Osnabrück yang terletak sekitar 512 km dari Berlin. Di kota ini, Prof Azra juga berdialog dengan 23 wakil dari kelompok organisasi Islam, Kordoba, yang juga merupakaan binaan Prof. Dr. Martin Mahmud Kellner, Ketua IIT Osnabrück. Di sana dia disambut dengan penuh antusias.

Menurut Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, berbagai respons dari peserta rangkaian dialog yang dilakukan bersama Prof. Azyumardi menunjukkan besarnya ketidaktahuan masyarakat Jerman atas keunikan dan kemajuan Islam Nusantara Berkemajuan. "Ini baru langkah awal, dan ke depan kita akan pertajam lagi kerja sama untuk promosi Islam Indonesia di Jerman, termasuk dengan berbagai universitas-universitas yang ada di Jerman," kata mantan Dubes RI untuk Belgia, Uni Eropa dan Keharyapatihan Luksemburg tersebut.