Sistem Digital Berhasil Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Beijing, 1 November 2018 – Tiongkok saat ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital yang sangat besar. Dengan GDP sebesar 12.3 trilyun dollar Amerika Serikat atau 19.74 persen dari ekonomi dunia, saat ini ekonomi digital telah menyumbang 30 persen dari GDP Tiongkok. Hal-hal baru seperti Internet of things (IoT), Artificial Intelligence, crypto currency, block chain, yang harus dimanfaatkan sedini mungkin oleh Indonesia agar dapat memetik hasilnya dan mendorong inovasi lebih awal.

Hal tersebut disampaikan Duta Besar RI untuk RRT, Djauhari Oratmangun dalam paparannya mengenai ekonomi digital Tiongkok di hadapan peserta Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) angkatan ke-62, Kementerian Luar Negeri yang merupakan para diplomat muda Kementerian Luar Negeri yang sedang menjalani pendidikan.

Beberapa negara yang mengadopsi teknologi saat ini telah membuktikan hasilnya. Di akhir tahun 2017, terdapat 224 unicorn di seluruh dunia. Unicorn merupakan perusahaan start up dengan nilai valuasi di atas 1 milyar dollar Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, 60 di antaranya adalah perusahaan asal Tiongkok. Kekuatan teknologi digital yang masih berusia sangat muda mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian terutama juga didukung oleh jumlah penduduk Tiongkok. Saat ini, terdapat sekitar 800 juta warga Tiongkok menggunakan internet, dan 98 persen atau sekitar 788 juta merupakan pengguna mobile payment. Tahun 2017, total transaksi melalui mobile payment di Tiongkok adalah sejumlah 23 Trilyun Dollar AS.  Selain untuk keperluan pembayaran, internet juga digunakan untuk berbagai keperluan, seperti layanan aplikasi untuk bis atau kereta, ride sharing, dan bike sharing yang sangat populer.

Selain mengembangkan bisnisnya di negeri sendiri, perusahaan besar seperti Alibaba, Tencent, JD.com juga aktif berinvestasi menyuntikan dana ke berbagai platform lokal di Asia, khususnya Indonesia. Di Indonesia, Alibaba tercatat menggelontorkan dana ke Lazada, Tokopedia, dan Bukalapak. Sementara Tencent berinvestasi pada Go-Jek dan JD.com berinvestasi pada JD.id. Perusahaan tersebut juga bukan hanya di bidang perdagangan digital atau e-commerce tetapi juga menyediakan berbagai layanan terkait.

Indonesia sendiri saat ini sedang dalam tahap perkembangan ekonomi digital yang cepat dengan talenta muda yang tidak kalah dari negara lain. Hal ini dapat dilihat dari jumlah unicorn dan berkembangnya bisnis baru. Di ASEAN, terdapat 7 unicorn, dan 4 diantaranya dari Indonesia, yaitu Go-jek, Tokopedia, BukaLapak, dan Traveloka. Di Indonesia juga terdapat sekitar 42 persen penduduk muda dengan berbagai talenta dan kreatifitas. Jika hal ini terus didorong dan dikembangkan dengan dukungan semua pihak, bukan tidak mungkin akan segera muncul unicorn baru lainnya dalam waktu dekat.

---o0o---