Thailand

I. COUNTRY PROFILE
 

Nama Resmi: Kerajaan Thailand
 
Bentuk Negara: Monarki Konstitusional
 
Ibu Kota: Bangkok
 
Luas Wilayah: 513.120 km2
 
Lagu Kebangsaan: Pheng Chart Thai (artinya lagu Kebangsaan Thai)
 
Populasi: 65.905.410 (Juli 2009) Thai 75%, Cina 14%, lain-lain 11%
 
Agama: Budha 94,6%, Islam 4,6%, Kristen 0,7%, lainnya 0,1%
 
Bahasa Resmi: Thai
 
Bahasa lainnya: Inggris, bahasa daerah
 
Mata Uang: Baht
 
Hari Nasional: 5 Desember (Hari kelahiran Raja Bhumibol Adulyadej)
 
Kepala Negara: Raja Bhumibol Adulyadej (sejak 9 Juni 1946)
 
Kepala Pemerintahan: PM Abhisit Vejjajiva
 
Menteri Luar Negeri: Mr. Kasit Piromya
 
Sistem Politik: Demokrasi Parlementer
 
Partai yang Memerintah: Partai Demokrat (Prachathipat Party)
 
GDP: US $ 245.4 milyar
 
GNP per kapita: US $ 3,400
 
Komoditas Ekspor Utama:
tekstil, sepatu, produk perikanan, beras, karet, perhiasan, komputer, barang elektronik
 
Komoditas Impor Utama:
mesin, intermediate goods dan bahan mentah, barang konsumi, bahan bakar
 
Keikutsertaan dalam Organisasi Internasional: 
ADB, APEC, APT, ARF, ASEAN, BIMSTEC, BIS, CP, EAS, FAO, G-77, IAEA, IBRD, ICAO, ICC, ICCt (signatory), ICRM, IDA, IFAD, IFC, IFRCS, IHO, ILO, IMF, IMO, IMSO, Interpol, IOC, IOM, IPU, ISO, ITSO, ITU, ITUC, MIGA, NAM, OAS (observer), OIC (observer), OIF (observer), OPCW, OSCE (partner), PCA, PIF (partner), UN, UNAMID, UNCTAD, UNESCO, UNHCR, UNIDO, UNITAR, UNMIS, UNWTO, UPU, WCL, WCO, WFTU, WHO, WIPO, WMO, WTO
 
Links:
 

 
 
II. HUBUNGAN BILATERAL
 

Sejarah singkat hubungan bilateral
Hubungan Indonesia dan Thailand telah berlangsung sejak zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Melalui pertukaran peradaban, masyarakat kedua bangsa telah terhubung melalui seni budaya, agama, arsitektur, dan karya sastra. Hubungan diplomatik Indonesia-Thailand berlangsung sejak tanggal 7 Maret 1950. Kerja sama antara kedua negara berlangsung di berbagai bidang seperti ekonomi, perdagangan, iptek, dan budaya. Hubungan ini diperluas lagi dengan adanya saling kunjung antara pemimpin kedua negara.
 
 
Kerjasama dan Hubungan Politik
Hubungan bilateral RI dengan Thailand selama ini telah berlangsung dengan baik berkat pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh pemimpin kedua negara. Kedekatan hubungan ini dapat dilihat dari saling kunjung pemimpin dan pejabat tinggi kedua negara yaitu kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Thailand, Desember 2005; kunjungan PM Thaksin ke Indonesia untuk menghadiri KTT Asia Afrika, April 2005; kunjungan PM Surayud Chulanont, 21 Oktober 2006; kunjungan PM Samak Sundaravej, 26-27 Maret 2008; Menlu Kasit Piromya, 11 Februari 2009; kunjungan kenegaraan PM Abhisit Vejjajiva ke Indonesia, 20-21 Februari 2009; pertemuan Panglima Angkatan Bersenjata Thailand, General Songkiti Jagabatara, dengan Presiden RI di sela-sela penyelenggaraan World Ocean Conference di Manado, 14 Mei 2009; dan pertemuan Menlu Kasit Piromya dengan Sekjen Deplu di sela-sela ASEAN-GCC Ministerial Meeting di Manama, Bahrain, 29 Juni 2009.
 
 
Kerjasama Ekonomi, Perdagangan dan Investasi
Payung utama kegiatan kerjasama bilateral antara kedua negara adalah forum Komisi Bersama yang dibentuk setelah ditandatanganinya Persetujuan Kerjasama Ekonomi dan Teknik RI-Thailand di tahun 1992. Dalam pertemuan ke-6 Komisi Bersama RI-Thailand yang berlangsung pada 16-18 Januari 2008 di Petchaburi, Thailand telah dibahas beberapa permasalahan bilateral yang akan terus dikembangkan oleh kedua negara antara lain meliputi masalah: ekonomi, perdagangan, transportasi, pendidikan dan kebudayaan, investasi, perikanan, pariwisata, energi, kerjasama teknik, dan kerjasama IMT-GT. Pada pertemuan Komisi Bersama RI-Thailand sebelumnya (ke-5) di Yogyakarta pada 2003, disepakati mengubah nama The Joint Commission on Economic and Technical Cooperation between the Republic of Indonesia and the Kingdom of Thailand menjadi The Joint Commission between the Republic of Indonesia and the Kingdom of Thailand.
 
 
Kerjasama Sosial Budaya dan Pariwisata
Sekalipun antara Indonesia-Thailand belum ada persetujuan kebudayaan yang mengatur hubungan sosial budaya, namun keinginan untuk meningkatkan hubungan dengan Thailand di bidang ini cukup besar.  Bidang-bidang yang sering digarap dalam kerjasama ini antara lain bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kemahasiswaan, kesenian, olahraga, keagamaan, kesehatan, lingkungan sosial, pertukaran kunjungan/undangan tokoh-tokoh dan pejabat-pejabat negara, swasta dan kepramukaan.
 
 
Kerjasama lainnya
Di bidang Hankam, kedua negara tidak terikat oleh suatu persetujuan, namun demikian hubungan dan kerjasama di bidang tersebut berlangsung dengan baik.  Hal ini tercermin dari seringnya saling tukar kunjungan antara pimpinan Angkatan Bersenjata antara kedua negara, dan pertukaran siswa dalam rangka pendidikan Sekolah Staf Komando.
 
 
*****